Pemerintah Didorong Bertindak Cepat Agar Ekonomi Tak Terperosok

Senin, 16 Mar 2026, 01:15 WIB

JAKARTA – Pemerintah dituntut segera menyiapkan strategi tegas untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global. Langkah-langkah strategis, mulai dari pengelolaan cadangan devisa, reformasi subsidi energi, hingga kebijakan fiskal proaktif, diharapkan mampu meredam tekanan eksternal sebelum dampak global menggerus ketahanan ekonomi secara lebih luas.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melebar hingga di atas ketetapan dalam Undang-Undang sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Ket. Foto: Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti menyatakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melebar hingga di atas ketetapan dalam Undang-Undang sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). — Sumber: istimewa

Pelebaran dipicu pelemahan rupiah saat ini hingga mendekati 17.000 rupiah per dollar AS, jauh di atas asumsi APBN sebesar 16.500 rupiah pe dollar AS. Selain itu, tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak hingga 100 dolar per barel saat ini atau melampaui asumsi pemerintah di 70 dollar AS per barel.

“Kondisi tersebut dapat membuat beban anggaran negara meningkat karena berbagai komponen belanja yang menggunakan denominasi dollar AS akan ikut membengkak, serta mengakibatkan ruang fiskal pemerintah untuk melakukan berbagai program pembangunan menjadi terbatas,” jelas Esther seperti dikutip dari Antara, Sabtu (14/3).

Meski tekanan global meningkat, Esther menilai pemerintah masih bisa menjaga ketahanan ekonomi dengan mengarahkan belanja negara ke program produktif, memperluas sumber devisa, memperkuat strategi hedging rupiah, serta memperkuat ketahanan energi melalui kilang domestik dan percepatan investasi energi terbarukan seperti air, surya, dan angin.

"⁠Dorong investasi renewable energy agar Indonesia tidak sepenuhnya tergantung pada fossil energy karena Indonesia punya banyak alternatif energi terbarukan seperti air, surya, angin dan lain-lain. Beri insentif lebih banyak," katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan harapannya agar skenario terburuk perang di Timur Tengah tidak terjadi, meski konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)-Israel telah berlangsung dua pekan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Presiden menyampaikan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif dan opsi penghematan untuk menghadapi potensi dampak konflik, sambil menekankan pentingnya kewaspadaan meski kondisi Indonesia saat ini relatif aman.

"Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek," ujar Presiden di hadapan para menteri dan pejabat negara pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3).

Dalam kesempatan sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kemungkinan defisit APBN melampaui 3 persen jika perang di Timur Tengah berlarut hingga 5-10 bulan. Pemerintah memproyeksikan harga minyak dunia naik dari 90 hingga 115 dollar AS per barel tergantung durasi konflik, sementara kurs rupiah saat ini tercatat 17.000 lebih tinggi dari asumsi APBN di 16.500 rupiah per dollar AS.

“Dengan pertumbuhan ekonomi dipertahankan 5,3 persen dan imbal hasil SBN (Surat Berharga Negara) 6,8 persen, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen dalam skenario terburuk,” ujarnya.

Kejar Kemandirian

Pakar ekonomi dari Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, Ermatry Hariani menilai ancaman krisis energi, pangan, dan ekonomi akibat konflik berkepanjangan menuntut pemerintah serius mengejar kemandirian, terutama melalui energi baru dan terbarukan (EBT). Kenaikan harga energi dan pangan yang berkelanjutan berpotensi memperburuk inflasi, menurunkan daya beli, dan melambatkan ekonomi global.

Dia menekankan pentingnya kemudahan investasi EBT, konsistensi dalam ketahanan pangan, serta koordinasi kebijakan dan perdagangan regional, khususnya antar-negara berkembang (Selatan-Selatan), untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan global. “Pemerintah jangan ragu-ragu untuk membongkar aturan-aturan yang menyulitkan EBT berkembang, karena investornya tentu ingin kemudahan,” ujarnya kepada Koran Jakarta, Minggu (15/3).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistiramenekankan strategi mitigasi krisis minyak Timur Tengah melalui paket kebijakan, termasuk Work From Home (WFH) disertai subsidi upah 3,5 juta rupiah per bulan agar produktivitas tetap terjaga dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat dihindari. Selain itu, dia mendorong subsidi transportasi publik hingga 1 rupiah untuk mendorong masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar minyak.

Peneliti ekonomi Celios lainnya, Nailul Huda menyatakan nilai tukar yang melemah dan lonjakan harga minyak mentah dalam rupiah berpotensi memperlebar defisit fiskal. Meski demikian, faktor utama tetap pada tata kelola fiskal yang kurang efektif, termasuk alokasi dana besar untuk program Makan Bergisi Gratis (MBG) yang meningkatkan belanja negara secara signifikan.

"Investor tidak masuk ke pasar keuangan dalam negeri, justru keluar. Alhasil terjadi capital outflow (arus modal keluar) dan melemahkan nilai tukar rupiah," tutup Huda.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.