Ancaman Krisis Minyak, Presiden Prabowo Perintahkan Percepat Transisi Energi ke EBT
Jumat, 13 Mar 2026, 11:40 WIBJAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya terutama yang tergabung dalam Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (Satgas EBTKE) untuk mempercepat transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan, khususnya yang bersumber dari tenaga surya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang memimpin Satgas EBTKE, menjelaskan perintah untuk mempercepat transisi diberikan oleh Presiden mempertimbangkan ancaman krisis minyak yang saat ini terjadi di kawasan Asia Barat/Timur Tengah.
"Itu salah satu yang juga kita bicarakan (saat rapat bersama Presiden, red.) bahwa harus ada alternatif-alternatif apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini," kata Menteri ESDM menjawab pertanyaan wartawan saat dia ditemui selepas menghadap Presiden Prabowo di Istana, Jakarta, Kamis (12/3).
Bahlil kemudian menjelaskan dirinya juga melaporkan hasil rapat perdana satgas, yang diikuti oleh delapan menteri, jajaran pimpinan Kementerian ESDM, dan petinggi PT PLN.
Dia menyebut satgas dapat langsung mengeksekusi rencana-rencana kerjanya terkait transisi energi, termasuk menghentikan beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan bahan bakar fosil, seperti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masih menggunakan bahan bakar solar. Targetnya, Bahlil menyebut satgas dapat langsung bekerja saat Hari Raya Idulfitri, yang jatuh minggu depan.
"Dalam kondisi geopolitik perang ini, tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang. Oleh karena itu, kita mengoptimalkan seluruh potensi kita yang ada dalam negeri, energi-energi yang bisa kita konversi dari fosil untuk kita bisa lakukan (transisi) seperti ini," ujar Bahlil.
Walaupun demikian, Bahlil melanjutkan pemerintah tentu menunggu infrastruktur pembangkit listrik pengganti, yaitu yang bersumber dari energi baru dan terbarukan itu rampung dibangun lebih dulu, baru akan menyetop operasional pembangkit listrik yang bersumber dari bahan bakar fosil.
"Bangun dulu dong, kalau di-setop belum dibangun kan penggantinya tidak ada. Jadi, paralel, begitu dibangun, begitu sudah langsung COD, PLTD-nya dimatikan," kata Bahlil.
COD atau tanggal operasi komersial merupakan tahapan yang menandai berakhirnya pengujian teknis, dan diawalinya operasional pembangkit listrik untuk menyalurkan listrik ke jaringan listrik PLN.
- Transisi Energi
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tekan Impor BBM, PTPN I Uji Coba Tanam Sorgum 20 Hektare Dukung Bioetanol
-
Tokyo Longgarkan Aturan Ekspor Senjata
-
Lampaui Target 14,7%! PLN NP Cetak 245 GWh Energi Hijau di Awal 2026
-
Aliansi BEM UI Sampaikan Pernyataan Sikap soal Kekerasan Seksual di Kampus
-
Green Financing Dibuka! Proyek Hijau RI Kini Gampang Dapat Modal, ESG-IN Gandeng IDCTA
-
Realme C100 Segera Masuk Indonesia, Bidik Anak Muda
-
Ribuan Warga Badui Dalam dan Luar Ikuti Ritual Seba di Pendopo Lebak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.