Anak Butuh Pengalaman Nyata untuk Belajar Empati dan Bersosialisasi
Kamis, 12 Mar 2026, 16:40 WIBJakarta - Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menilai anak perlu lebih banyak mengalami interaksi langsung dibanding hanya terpapar dunia virtual sejak dini.
Menurut dia ketika dihubungi pada Kamis (12/3), ketertarikan anak pada media sosial dan gim digital sangat dipengaruhi oleh paparan yang diberikan sejak kecil. Jika anak terbiasa melihat layar dengan gambar bergerak, suara, dan efek yang menarik, mereka akan menganggap itu sebagai sumber hiburan utama.
âKalau sejak kecil sudah terpapar platform digital, dia merasa itu yang paling menarik. Sementara main boneka, misalnya, menuntut imajinasi karena bonekanya tidak bisa bergerak atau bersuara,â ujarnya.
Ia menjelaskan, pengalaman nyata berperan penting dalam membangun kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan menjalin hubungan dan memahami orang lain.
Anak belajar empati bukan dari layar, melainkan dari interaksi langsung dengan teman sebaya. Saat mengikuti perlombaan dan mengalami kekalahan, misalnya, anak belajar merasakan emosi tidak nyaman, lalu menerima dukungan dari teman.
âPengalaman kalah itu tidak enak. Tapi ketika teman bilang tidak apa-apa, kita sudah mencoba, itu membentuk empati dan kemampuan mengelola emosi,â katanya.
Keterampilan, lanjut dia, seperti berkomunikasi, mencari teman, hingga memahami perasaan orang lain hanya bisa diasah melalui pengalaman langsung. Jika anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia virtual, kesempatan untuk melatih keterampilan sosial menjadi berkurang.
Guru besar yang juga kerap dipanggil Bunda Romy itu menekankan pada fase awal kehidupan, anak perlu lebih banyak aktivitas yang bersifat nyata, seperti bermain bersama, berolahraga, atau mengikuti kegiatan kelompok.
Jika sejak kecil anak terbiasa membangun relasi secara langsung, saat remaja mereka cenderung lebih nyaman berinteraksi tatap muka dibanding hanya berkomunikasi lewat gawai.
âTeknik berteman itu dipelajari dari pengalaman. Anak perlu tahu bagaimana berbicara agar teman mau bermain bersama, bagaimana bersikap saat berbeda pendapat. Itu tidak bisa digantikan oleh interaksi virtual,â ujar dia.
Karena itu, ia mendorong orang tua memberi ruang bagi anak untuk berinteraksi secara langsung dan tidak menjadikan gawai sebagai sumber hiburan utama sejak usia dini.
- psikologi anak
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.