• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Anak Butuh Pengalaman Nyat...

Anak Butuh Pengalaman Nyata untuk Belajar Empati dan Bersosialisasi

Kamis, 12 Mar 2026, 16:40 WIB

Jakarta - Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menilai anak perlu lebih banyak mengalami interaksi langsung dibanding hanya terpapar dunia virtual sejak dini.

Menurut dia ketika dihubungi pada Kamis (12/3), ketertarikan anak pada media sosial dan gim digital sangat dipengaruhi oleh paparan yang diberikan sejak kecil. Jika anak terbiasa melihat layar dengan gambar bergerak, suara, dan efek yang menarik, mereka akan menganggap itu sebagai sumber hiburan utama.

Ket. Foto: Sejumlah warga menemani anaknya bermain saat menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit di Taman Bermain Puputan, Denpasar, Bali, Kamis (19/2). — Sumber: Antara

“Kalau sejak kecil sudah terpapar platform digital, dia merasa itu yang paling menarik. Sementara main boneka, misalnya, menuntut imajinasi karena bonekanya tidak bisa bergerak atau bersuara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengalaman nyata berperan penting dalam membangun kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan menjalin hubungan dan memahami orang lain.

Anak belajar empati bukan dari layar, melainkan dari interaksi langsung dengan teman sebaya. Saat mengikuti perlombaan dan mengalami kekalahan, misalnya, anak belajar merasakan emosi tidak nyaman, lalu menerima dukungan dari teman.

“Pengalaman kalah itu tidak enak. Tapi ketika teman bilang tidak apa-apa, kita sudah mencoba, itu membentuk empati dan kemampuan mengelola emosi,” katanya.

Keterampilan, lanjut dia, seperti berkomunikasi, mencari teman, hingga memahami perasaan orang lain hanya bisa diasah melalui pengalaman langsung. Jika anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia virtual, kesempatan untuk melatih keterampilan sosial menjadi berkurang.

Guru besar yang juga kerap dipanggil Bunda Romy itu menekankan pada fase awal kehidupan, anak perlu lebih banyak aktivitas yang bersifat nyata, seperti bermain bersama, berolahraga, atau mengikuti kegiatan kelompok.

Jika sejak kecil anak terbiasa membangun relasi secara langsung, saat remaja mereka cenderung lebih nyaman berinteraksi tatap muka dibanding hanya berkomunikasi lewat gawai.

“Teknik berteman itu dipelajari dari pengalaman. Anak perlu tahu bagaimana berbicara agar teman mau bermain bersama, bagaimana bersikap saat berbeda pendapat. Itu tidak bisa digantikan oleh interaksi virtual,” ujar dia.

Karena itu, ia mendorong orang tua memberi ruang bagi anak untuk berinteraksi secara langsung dan tidak menjadikan gawai sebagai sumber hiburan utama sejak usia dini.

  • psikologi anak

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.