PM Anutin Berhasil Amankan Koalisi Baru

Selasa, 10 Mar 2026, 02:55 WIB

BANGKOK – Media lokal pada Senin (9/3) melaporkan bahwa Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, yang partainya memenangkan pemilihan pada Februari lalu, telah berhasil mengamankan koalisi baru untuk membentuk pemerintahan yang akan mengarahkan perekonomian negara senilai US$577 miliar setelah puluhan tahun mengalami stagnasi ekonomi.

“Pemimpin berusia 59 tahun itu, yang berkuasa sejak September 2025 setelah pengusiran saingannya berdasarkan perintah pengadilan, telah mengamankan aliansi 15 partai di Dewan Perwakilan Rakyat yang beranggotakan 500 kursi setelah pemilihan 8 Februari,” lapor beberapa media lokal, termasuk Thai PBS, yang tidak menyebutkan sumbernya.

Ket. Foto: PM sementara Thailand, Anutin Charnvirakul (tengah kanan), berjabat tangan dengan calon PM Partai Pheu Thai, Yodchanan Wongsawat (tengah kiri) selama pertemuan di markas besar Bhumjaithai di Bangkok pada 13 Februari lalu. Sejumlah media lokal pada Senin (9/3) melaporkan bahwa PM Anutin telah berhasil mengamankan koalisi untuk membentuk pemerintahan. — Sumber: AFP/THAI NEWS PIX/Arnun Chonmahatrakool

Kelompok tersebut mendapat dukungan dari sekitar 290 anggota parlemen yang baru terpilih dan pemungutan suara untuk mengukuhkan perdana menteri diperkirakan akan dilakukan dalam beberapa pekan mendatang.

Bentuk koalisi baru muncul setelah Komisi Pemilihan Umum pekan lalu mengesahkan hasil pemilu, mengkonfirmasi kursi untuk 191 pejabat dari Partai Bhumjaithai yang berkuasa pimpinan Anutin, partai konservatif pertama yang memenangkan pemilu dalam beberapa dekade berkat kampanye yang menekankan keamanan nasional setelah bentrokan perbatasan dengan Kamboja.

“Kabinet baru Anutin yang beranggotakan 36 orang, akan mengalokasikan 26 posisi menteri untuk pejabat Bhumjaithai di beberapa dari 14 kementerian teratas, termasuk keuangan, perdagangan, luar negeri, dalam negeri, dan pertahanan,” menurut laporan Thai PBS.

Sekutu utamanya, Partai Pheu Thai, dengan 74 kursi, akan dialokasikan sembilan posisi di kabinet, termasuk wakil perdana menteri dan menteri pertanian. “Sedangkan Partai Palang Pracharath, dengan lima kursi, akan diberikan satu posisi menteri,” menurut laporan tersebut.

Susunan anggota kabinet akan difinalisasi setelah pemilihan perdana menteri, menurut Thai PBS.

Perkembangan terbaru ini terjadi menjelang pertemuan pertama Dewan Perwakilan Rakyat yang baru untuk memilih Ketua Dewan, yang menurut Anutin akan berlangsung dalam pekan mendatang.

Ketua Dewan yang baru terpilih nantinya akan mengadakan pertemuan lain bagi para anggota parlemen untuk secara resmi memilih perdana menteri baru, kemungkinan dalam pekan berikutnya. Perdana menteri kemudian perlu mengajukan kandidat untuk kabinet barunya untuk diseleksi sebelum meminta dukungan kerajaan, sebuah proses yang mungkin memakan waktu beberapa pekan.

Meskipun susunan kabinet masih belum jelas, Anutin sebelumnya telah mengindikasikan bahwa ia akan menunjuk tiga teknokrat sebagai wakil perdana menteri, termasuk Ekniti Nitithanprapas, yang juga akan menjabat sebagai menteri keuangan.

Selain itu Suphajee Suthumpun akan memimpin Kementerian Perdagangan dan Sihasak Phuangketkeow juga akan menjabat sebagai menteri luar negeri.

Skenario Terbaik

Kemenangan kubu konservatif dipandang sebagai skenario terbaik bagi pasar keuangan, yang dalam beberapa tahun terakhir dilanda beberapa kali kebuntuan dan gejolak politik, terutama setelah partai reformis memenangkan pemilihan tahun 2023 hanya untuk kemudian dihalangi berkuasa oleh kelompok konservatif royalis.

Indeks saham acuan Thailand menguat tajam pada tahun 2026, dengan kemenangan Anutin dipandang sebagai faktor yang membatasi risiko gejolak politik, setelah menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia pada tahun 2025.

Namun, perang di Timur Tengah dalam sepekan terakhir hampir menghapus keuntungan yang diperoleh pada Februari.

Nilai tukar baht menguat lebih dari 7 persen pada tahun lalu sebelum perang, sebuah penguatan yang coba diredam oleh para pembuat kebijakan mengingat dampaknya terhadap ekspor dan pariwisata.

Sejak itu, nilai tukar tersebut melemah bersama sebagian besar mata uang global ke level terendah sejak 1 Desember 2025. ST/Bloomberg/I-1

  • anutin charnvirakul

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.