Telaga Cebong, Cermin Purba di Desa Tertinggi Pulau Jawa
Jumat, 06 Mar 2026, 07:17 WIBSETELAH kendaraan mendaki melalui jalur Wonosobo â Dieng, maka tidak lama akan sampai di Dataran Tinggi Dieng. Tanda-tanda akan sampai adalah ketika telah melewati Tanjakan Sikarim yang berada di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar.
Ruas ini merupakan jalur ekstrem dari arah Wonosobo/Garung menuju area wisata Dieng (Puncak Sikunir). Kemiringannya mencapai hampir 45 derajat dan panjang sekitar 600 meter, sehingga berkarakter terjal, berkelok, dan berbahaya.
Setelah dari tanjakan Sikarim, eksplorasi di Dataran Tinggi Dieng yang merupakan kaldera dimulai. Sebagai reruntuhan puncak gunung berapi, dataran tinggi yang berada antara 2.000 hingga 2.100 meter di atas permukaan laut (mdpl) menawarkan banyak fenomena geologi.
Arahkan kendaraan ke arah kanan setelah Pertigaan Sembungan, maka akan dijumpai Telaga Cebong. Jaraknya sekitar 6,5 hingga 7 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 15-20 menit berkendara dari pertigaan itu.
Telaga Cebong merupakan destinasi yang memukau namun sering kalah pamor dengan Telaga Warna, komplek Candi Arjuno, ataupun Telaga Merdada yang berada di Kabupaten Banjarnegara. Hal ini karena jalurnya menyempal dari destinasi-destinasi itu.
Jika Dataran Tinggi Dieng adalah panggung utama pariwisata Jawa Tengah, maka Telaga Cebong adalah ruang rias yang sunyi, tempat alam bersolek sebelum fajar menyapa. Bagi para pelancong yang terbiasa dengan keriuhan kota, sampai di tepian Cebong adalah sebuah kejutan sensorik, jauh dari hiruk pikuk wisatawan apalagi saat Lebaran nanti.
Berada di Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, di sini udara begitu tipis dan dingin hingga menusuk sumsum, aroma belerang dan kotoran ternak sebagai pupuk tanaman sayur samar terbawa angin, dan keheningan begitu pekat hingga suara kepakan sayap burung air terdengar seperti ledakan kecil di permukaan telaga.
Secara teknis-geologis, Telaga Cebong adalah sebuah kawah purba (ancient crater) yang telah mati jutaan tahun silam. Air hujan yang tertampung selama berabad-abad memenuhi kawah ini, menciptakan ekosistem air tawar di puncak gunung.
Nama âCebongâ sendiri lahir dari kearifan lokal yang deskriptif. Jika Anda mendaki bukit-bukit di sekelilingnya, siluet telaga ini memang menyerupai seekor berudu atau anak katakâdengan badan bulat melebar dan satu sudut yang menyempit menyerupai ekor.
Namun, bagi warga Sembungan, Cebong bukan sekadar bentuk geografis. Ia adalah âIbuâ yang menyusui ladang-ladang mereka. Di sekeliling telaga, hamparan tanaman kentang, carica, dan kacang babi (kacang dieng) tumbuh subur berkat uap air dan irigasi yang bersumber dari telaga ini.
Pemandangan terasering yang hijau, yang meliuk-liuk mengikuti kontur bukit di tepian telaga, menciptakan komposisi visual yang mengingatkan pada lanskap pedesaan di Pegunungan Andes atau Alpen, namun dengan sentuhan tropis yang kental.
Namun, keindahan Telaga Cebong bukan tanpa ancaman. Anugerah ini sedang menghadapi musuh berupa alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kentang di lereng-lereng curam, yang menyebabkan erosi tanah setiap kali hujan lebat mengguyur Dieng. Lumpur-lumpur ini mengalir masuk, mengancam untuk mendangkalkan telaga yang menjadi tumpuan hidup warga.
Upaya konservasi kini menjadi harga mati. Penanaman kembali sabuk hijau (green belt) di sekeliling telaga dan edukasi mengenai pertanian berkelanjutan mulai disuarakan oleh para penggiat lingkungan Âsetempat. hay
- Telaga Cebong
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.