Pemprov DKI dan PAM Jaya Kejar Target 100 Persen Air Bersih pada 2029

Rabu, 19 Agu 2026, 16:55 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempercepat target cakupan layanan air bersih melalui jaringan perpipaan menjadi 100 persen pada 2029. Target tersebut dimajukan satu tahun dari rencana sebelumnya pada 2030 dengan memperluas jaringan pipa sekaligus meningkatkan pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan warga.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta PAM Jaya mempercepat pembangunan infrastruktur agar seluruh warga Jakarta nantinya dapat memperoleh layanan air bersih melalui jaringan perpipaan. Menurutnya, percepatan tersebut penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat dipenuhi secara merata di seluruh wilayah Ibu Kota.

Ket. Foto: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempercepat target cakupan layanan air bersih melalui jaringan perpipaan menjadi 100 persen pada 2029. Target tersebut dimajukan satu tahun dari rencana sebelumnya pada 2030 dengan memperluas jaringan pipa sekaligus meningkatkan pasokan air baku untuk memenuhi kebutuhan warga. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

"Secara khusus saya sudah meminta kepada jajaran Pemprov Jakarta dan juga Pak Dirut (PAM Jaya) untuk mudah-mudahan target mengejar air bersih Jakarta sampai dengan 100 persen di tahun 2029 ini bisa terpenuhi. Awalnya 2030, tapi saya meminta 2029," ujar Pramono saat peresmian dua reservoir komunal di Tambora dan Gandaria Utara serta penyerahan Kartu Air Sehat di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat.

Hingga Agustus 2026, cakupan layanan air minum perpipaan di Jakarta telah mencapai 82 persen. PAM Jaya menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 86 persen pada akhir 2026 sebagai bagian dari tahapan menuju cakupan layanan penuh pada 2029.

Untuk mengejar target tersebut, PAM Jaya menyiapkan pembangunan sekitar 7.000 kilometer (km) jaringan pipa baru. Penambahan itu akan membuat total jaringan perpipaan di Jakarta meningkat dari sekitar 13.000 km menjadi 20.000 km.

Direktur Teknik PAM Jaya Akhmad Santika mengatakan pembangunan jaringan baru akan dilakukan secara masif dalam beberapa tahun mendatang. Perluasan tersebut juga akan dibarengi revitalisasi jaringan lama yang sebagian telah berusia lebih dari satu abad dan membutuhkan pembaruan agar distribusi air berjalan lebih optimal.

"Pekerjaan pembangunan jaringan ke depan akan semakin masif," kata Akhmad dalam keterangan resminya, Senin (9/8/2026). Menurutnya, pengembangan infrastruktur jaringan menjadi salah satu langkah utama untuk memperluas akses air bersih kepada masyarakat yang saat ini belum mendapatkan layanan perpipaan secara optimal.

PAM Jaya juga terus menambah jumlah sambungan rumah untuk memperluas akses pelanggan. Sepanjang 2025, perusahaan menambah 206.537 sambungan rumah dan capaian tersebut membuat PAM Jaya mendapatkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk penyambungan pipa air minum kepada pelanggan terbanyak dalam satu tahun.

Meski pembangunan jaringan terus digenjot, perluasan pipa saja belum cukup untuk membuat seluruh Jakarta mendapatkan layanan air bersih. Ketersediaan air baku menjadi tantangan lain karena volume pasokan yang tersedia saat ini masih lebih rendah dibandingkan kebutuhan untuk melayani seluruh wilayah Ibu Kota.

Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya Gatra Vaganza mengatakan cakupan layanan air minum perpipaan telah mencapai 82 persen hingga Agustus 2026. Angka tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 86 persen pada akhir tahun melalui pembangunan jaringan dan penambahan sambungan pelanggan.

"Hingga Agustus 2026 ini sudah mencapai 82 persen dengan target di akhir 2026 sekitar 86 persen layanan," ujar Gatra saat dihubungi pada Rabu (12/8/2026). Ia menjelaskan peningkatan cakupan layanan akan dilakukan secara bertahap mengikuti perkembangan pasokan air dari sumber air baku.

Saat ini, PAM Jaya mendistribusikan air dengan volume sekitar 22.000 liter per detik (L/s). Sementara itu, untuk mencapai cakupan layanan 100 persen, kebutuhan air diperkirakan mencapai sekitar 33.000 L/s sehingga masih terdapat selisih pasokan yang harus dipenuhi.

"Sehingga progres perluasan layanan dilakukan bertahap, mengikuti progres peningkatan supply air dari hulunya," kata Gatra. Kondisi tersebut membuat Pemprov DKI tidak hanya berfokus membangun jaringan di dalam kota, tetapi juga mencari tambahan sumber air baku dari wilayah sekitar Jakarta.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Banten melalui pengembangan Bendung Polor. Jakarta juga mengandalkan peningkatan pasokan dari Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian untuk membantu memenuhi kebutuhan air baku dalam jangka panjang.

Pramono menilai target 100 persen layanan air bersih tidak mungkin dicapai hanya dengan mengandalkan upaya Pemprov DKI. Menurutnya, kerja sama dengan daerah sekitar menjadi bagian penting karena sumber air baku Jakarta juga berasal dari kawasan di luar wilayah administrasi Ibu Kota.

"Jakarta mempunyai komitmen di tahun 2029 cakupan air bersihnya harus sudah 100 persen. Dan tidak mungkin itu terjadi tanpa support, dukungan dari Banten," ujar Pramono. Kerja sama lintas daerah diharapkan dapat memastikan peningkatan kapasitas jaringan di Jakarta berjalan seimbang dengan ketersediaan pasokan air dari hulu.

Sambil menunggu pembangunan jaringan dan peningkatan sumber air baku, PAM Jaya menyiapkan sejumlah solusi sementara bagi wilayah yang belum memperoleh layanan perpipaan secara optimal. Salah satunya dilakukan melalui Instalasi Pengolahan Air (IPA) Portabel di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat.

Fasilitas tersebut saat ini melayani sekitar 295 pelanggan di kawasan Semanan. Untuk solusi jangka panjang, PAM Jaya bersama Kementerian Pekerjaan Umum membangun Reservoir Semanan dengan kapasitas rencana mencapai 24 juta liter.

Pada tahap awal, reservoir tersebut akan memiliki kapasitas tampungan sebesar 8 juta liter. Pembangunan tahap awal ditargetkan selesai pada Mei 2027 sehingga dapat memperkuat ketersediaan air bagi wilayah yang membutuhkan.

Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai pembangunan jaringan perpipaan merupakan langkah penting untuk mengejar target cakupan layanan 100 persen. Namun, ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya mengejar pembangunan infrastruktur tanpa memastikan ketersediaan air baku yang memadai.

"Yang jelas, kunci utama adalah supply air baku yang harus bisa dipenuhi, jangan sampai jaringan sudah ada tapi supply-nya masih kurang," ujar Yayat. Menurutnya, kondisi tersebut harus diperhitungkan sejak awal agar jaringan baru yang telah dibangun dapat digunakan secara optimal.

Yayat juga meminta pemerintah menghitung secara rinci kemampuan sumber air seperti Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian dalam memasok kebutuhan Jakarta. Perhitungan tersebut menjadi semakin penting ketika memasuki musim kemarau karena ketersediaan air dapat mengalami tekanan.

"Harus diperlihatkan juga berapa besar supply air dari Waduk Jatiluhur, dari Waduk Karian, agar tahu juga selisih kebutuhan untuk supply 100 persen itu berapa," katanya. Dengan mengetahui selisih antara kebutuhan dan pasokan, pemerintah dapat menentukan sumber tambahan air baku yang diperlukan untuk mencapai target layanan penuh.

Dengan cakupan layanan yang telah mencapai 82 persen, Jakarta masih memiliki waktu sekitar tiga tahun untuk mengejar target 100 persen pada 2029. Tantangan utamanya bukan hanya mempercepat pembangunan 7.000 km jaringan pipa baru, tetapi juga memastikan pasokan air baku dari hulu mampu mengimbangi pertumbuhan jaringan dan jumlah pelanggan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.