Tak Ingin Berlarut-larut, Bangkit dari Banjir: Petani Aceh Tamiang Tanam Timun Suri

Jumat, 06 Mar 2026, 19:15 WIB

BANDA ACEH – Di hamparan lahan pertanian Desa Rantau Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, para petani perlahan bangkit setelah dilanda banjir yang sempat merendam sawah dan ladang mereka.

Tanah yang sebelumnya terendam kini kembali diolah, namun dengan pilihan tanaman yang berbeda. Kali ini, mereka menanam timun suri—komoditas yang dinilai lebih cepat panen dan memiliki permintaan tinggi, terutama menjelang Ramadan.

Ket. Foto: Para petani mengumpulkan buah timun suri yang baru di panen dari kebun Desa Rantau Panjang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Kamis (5/3/2026). — Sumber: ANTARA/Dede Harison

Bagi para petani, timun suri bukan sekadar tanaman musiman, melainkan harapan baru untuk memulihkan perekonomian keluarga.

Dengan masa tanam yang relatif singkat dan perawatan yang tidak terlalu rumit, tanaman ini memberi peluang bagi petani untuk kembali mendapatkan penghasilan setelah terpukul oleh bencana banjir.

Perlahan namun pasti, ladang-ladang di desa itu kembali hijau, menjadi simbol ketahanan dan semangat para petani untuk bangkit dari kesulitan.

"Ini menjadi andalan satu-satunya untuk pemulihan ekonomi. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan," kata salah seorang petani timun suri di Rantau Panjang, Alfarizi, di Aceh Tamiang, Kamis (5/3).

Komoditas yang identik dengan bulan Ramadhan ini menjadi tumpuan baru warga setelah lahan perkebunan mereka sempat lumpuh akibat terendam air dan lumpur.

​Rizi mengatakan, ia memutuskan untuk menanam timun suri hanya berselang dua minggu setelah banjir surut. Langkah ini diambil sebagai strategi cepat agar tetap memiliki penghasilan di tengah masa sulit.

​

Menurutnya, keuntungan menanam timun suri tahun ini dipicu oleh minimnya jumlah petani yang menanam.

Di desanya, tercatat hanya sekitar tujuh orang yang menggarap lahan timun suri, menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana hampir seluruh warga menanam komoditas tersebut. Apalagi, kawasan ini dikenal sebagai salah satu central timun kapur Aceh Tamiang.

Kemudian, ​kondisi kelangkaan barang di pasar juga membuat harga jual di tingkat petani cenderung stabil sejak awal Ramadhan. Untuk ukuran besar dan sedang, dijual seharga Rp10 ribu per buah, sedangkan ukuran kecil Rp6.000 per buahnya.

​"Biasanya kalau ramai yang tanam, satu biji bisa jatuh ke harga Rp2.500. Sekarang permintaan tinggi dan kami langsung memasok ke agen di Kota Langsa," katanya.

Meski secara ekonomi menjanjikan, kata Rizi, proses perawatan tanaman di lahan seluas sembilan rante (sekitar 3.600 meter persegi) miliknya bukan tanpa kendala. Di tengah cuaca panas, ia hanya mampu merawat secara maksimal sekitar setengah dari luas lahan.

​Ia harus menyiram rutin setiap pagi sejak awal masa tanam, serta melakukan pemupukan berkala setiap empat hari sekali guna mengendalikan hama, dan memastikan tanaman tidak mati kekeringan.

​"Kendalanya cuaca panas, jadi harus disiram terus tiap pagi. Kalau tidak, semak dan hama luar biasa sulit dikendalikan," ujarnya.

Kini, dalam seminggu, ia dapat melakukan panen sebanyak dua kali atau tiga hari sekali dengan sistem penjualan per buah. Petani muda ini memprediksi masa panen timun suri miliknya dapat bertahan hingga menjelang Idul Fitri mendatang.

  • Bencana Aceh
  • Aceh Tamiang

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.