Rupiah Masih Tertekan, 5 Maret 2026

Kamis, 05 Mar 2026, 08:40 WIB

JAKARTA – Rupiah diperkirakan masih tertekan dalam per­dagangan, Kamis (5/3), mencerminkan kekhawatiran investor terkait eskalasi konflik geopolitik di Middle East, khususnya antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Tensi ini tetap me­micu risk-off sentiment di pasar finansial global, mendorong permintaan aset aman seperti dollar AS dan memperlemah mata uang negara berkembang termasuk rupiah. 

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong melihat sentimen pergerakan rupiah esok hari masih akan tertuju pada gejolak global. Meskipun terdapat data ekonomi pen­ting dari AS seperti ISM Services Purchasing Managers’ Index (PMI), perhatian investor saat ini lebih tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Menurutnya, ketegangan tersebut mendorong investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven. Karena­nya, dia memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (5/3), bergerak di kisaran 16.850 - 17.000 rupiah per dollar AS de­ngan kecenderungan melemah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perda­gangan di Jakarta, Rabu (4/3), bergerak melemah 20 poin atau 0,12 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.892 rupiah per dollar AS. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipengaruhi sikap pelaku pasar atas risiko pasokan di tengah konflik Asia Barat.

“Situasi terus memburuk ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang ter­kait dengan Iran pada hari Selasa (3/3). Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran glo­bal,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Lebih lanjut, Iran juga menargetkan kapal tanker mi­nyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apapun yang melewati selat tersebut.

Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak dan Uni Emirat Arab, dinilai telah menyuntikkan pre­mi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak.

“Irak telah mulai menghentikan produksi di ladang Ru­maila, ladang terbesar di negara itu, dan di West Qurna 2, dengan 1,2 juta barel per hari dihentikan produksinya,” ucap Ibrahim.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.