Iran Umumkan Pemimpin Darurat

Minggu, 01 Mar 2026, 12:56 WIB

JAKARTA – Usai pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel, maka Iran umumkan kepemimpinan darurat. Presiden Iran, ketua pengadilan, dan anggota Dewan Wali Iran akan menjalankan tugas darurat menggantikan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang gugur dalam serangan Amerika Serikat dan Israel, Sabtu. Demikian kata Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Mokhber.

"Presiden, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi di masa kekosongan jabatan," ungkap kantor berita IRNA mengutip Wapres Mokhber.

Ket. Foto: perang iran-israel — Sumber: ist

Pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil. Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi gugur akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya. Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei.

Perundingan Jadi Sia-sia

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengungkapkan keprihatinannya bahwa serangan terhadap Iran menunjukkan peluang diplomasi dari perundingan nuklir yang berjalan telah “disia-siakan”.

Dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai Iran di Markas PBB New York, Sabtu waktu setempat, Guterres menyoroti serangan AS-Israel terjadi setelah putaran ketiga perundingan tak langsung antara AS dan Iran yang ditengahi Oman.

“Saya sangat menyesalkan peluang diplomasi ini telah disia-siakan,” kata Guterres.

Ia pun menyoroti adanya persiapan yang telah dilakukan untuk pembicaraan teknis di Wina, Austria, pada pekan depan, yang akan diikuti dengan babak baru pembicaraan politik sebagai kelanjutan dari negosiasi AS-Iran itu.

Sekjen PBB kemudian mendesak deeskalasi segera dan penghentian permusuhan di Timur Tengah, dengan semua pihak berkonflik hendaknya kembali ke meja perundingan.

“Saya menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan segera. Jika tidak, yang terjadi adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan,” kata Guterres.

Semua langkah harus ditempuh untuk memastikan eskalasi tidak terjadi lagi, ucap Sekjen PBB, sembari mengakui telah menerima laporan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran secara terpisah telah berkomunikasi dengan mitra di Timur Tengah.

Ia pun menyerukan semua anggota PBB untuk senantiasa mematuhi hukum internasional, termasuk Piagam PBB, memastikan warga sipil terus dilindungi sesuai hukum humaniter internasional, dan menjamin keamanan nuklir.

Pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.

Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi gugur akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya. Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu.

Sementara itu, Presiden Trump, dalam wawancara bersama CBS News, berseloroh bahwa perundingan dengan Iran “akan semakin mudah dibanding hari sebelumnya” usai AS berhasil menewaskan Ali Khamenei.

  • Perang Iran-Israel

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.