Kerangka Karbon Dipertegas, OJK Incar Pasar yang Kredibel dan Transparan
Kamis, 26 Feb 2026, 15:37 WIBJAKARTA â Penjabat sementara (Pjs) Ketua dan Wakil Ketua Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa penguatan kerangka nilai ekonomi karbon nasional merupakan fondasi krusial dalam membangun pasar karbon domestik yang berintegritas.
Kerangka yang kokoh dinilai tidak hanya memastikan kepastian harga dan mekanisme perdagangan, tetapi juga memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap sistem yang berjalan.
Secara analitis, pasar karbon membutuhkan standar pengukuran, pelaporan, dan verifikasi (MRV) yang ketat agar setiap unit karbon yang diperdagangkan memiliki legitimasi dan daya saing, baik di tingkat domestik maupun global.
Tanpa tata kelola yang jelas dan akuntabel, risiko greenwashing serta distorsi harga dapat menghambat pertumbuhan pasar.
Dengan memperkuat aspek regulasi, transparansi, dan pengawasan, OJK mendorong terciptanya ekosistem karbon yang tidak hanya kredibel, tetapi juga mampu menjadi instrumen pembiayaan transisi energi dan pencapaian target penurunan emisi nasional secara berkelanjutan.
âDengan menegaskan kembali berbagai instrumen ekonomi karbon, pemerintah mendorong terbentuknya ekosistem pasar karbon domestik yang kredibel, transparan, dan akuntabel,â ujar Friderica atau yang akrab disapa Kiki dalam acara The 2nd Indonesia Climate Banking Forum di Jakarta, Kamis (26/2).
Kerangka tersebut diharapkan dapat memberikan sinyal harga karbon yang jelas bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat integritas kebijakan iklim nasional. Hal ini juga sejalan dengan visi Indonesia dalam mencapai emisi nol karbon (net zero emission) pada 2060.
Pada kesempatan yang sama, OJK juga mengapresiasi komitmen industri perbankan dalam memperkuat praktik keuangan berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan instrumen pembiayaan hijau dan penerapan manajemen risiko iklim.
Kiki menuturkan bahwa otoritas terus membangun ekosistem kebijakan yang lebih sehat, antara lain melalui penyempurnaan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), pembentukan Bursa Karbon Indonesia, serta implementasi kerangka manajemen risiko iklim dan analisis skenario bagi sektor perbankan.
âSecara paralel kami mengembangkan ekosistem kebijakan yang lebih komprehensif melalui peningkatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, pembentukan Bursa Karbon Indonesia, serta implementasi kerangka manajemen risiko iklim dan analisis skenario untuk industri perbankan,â katanya.
Kiki menambahkan, TKBI menyediakan klasifikasi yang jelas bagi kegiatan hijau dan transisi. Sementara itu, bursa karbon mendukung mekanisme penemuan harga yang transparan serta penyediaan instrumen berbasis pasar dalam pengelolaan nilai ekonomi karbon dan penurunan emisi gas rumah kaca.
Keseluruhan instrumen itu menjadi fondasi kebijakan terintegrasi untuk mendukung agenda transisi Indonesia sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Modus Baru Teroris Rekrut Remaja Lewat Game Online, Kapolri Ajak Masyarakat Cegah Terorisme Sejak Dini
-
Kemdiktisaintek Dorong Penguatan Vokasi untuk Cetak SDM Industri
-
NASA Targetkan Awal April Luncurkan Artemis II untuk Misi ke Bulan
-
Potensi Kredit Karbon Indonesia yang Dapat Diperdagangkan
-
Pemkab Indramayu Sebut Budi Daya Rumput Laut sebagai Potensi Ekonomi
-
Langgar Aturan Jam Operasional, 21 Tempat Hiburan dan Rekreasi Diberi Peringatan
-
Indonesia Intensifkan Diplomasi Demi Keselamatan Kapal di Selat Hormuz
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.