PLTS 100 GW: Solusi Nyata Swasembada Energi dan Pemerataan Listrik Nasional

Senin, 23 Feb 2026, 17:50 WIB

Institute for Essential Services Reform (IESR) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia merilis kajian ​The Solar Archipelago: Indonesia's 100 GW Leap to Energy Sovereignty pada Senin (23/2).

Kajian ini merupakan rancangan pelaksanaan  perintah Presiden Prabowo untuk membangun 100 GW PLTS yang disampaikan pada pertengahan tahun 2025 lalu. Kajian ini menawarkan analisis komprehensif atas implementasi pembangunan PLTS 100 GW dan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System, BESS) serta strateginya.

Ket. Foto: Mewujudkan Ketahanan serta Swasembada Energi dan Penyediaan Akses Listrik Handal untuk Pembangunan yang Merata lewat Implementasi Program PLTS 100 GW. — Sumber: IESR

Pertama, percepatan penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berbiaya tinggi dan beremisi tinggi, selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.

Kedua, pengembangan sistem energi surya skala desa untuk mendukung usaha Koperasi Desa Merah Putih, industri lokal, rantai penyimpanan berpendingin (cold storage), Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dan aktivitas ekonomi produktif lainnya. 

Sunandar, Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia mengatakan transisi energi selaras dengan pertumbuhan ekonomi dan energi bersih dapat menjadi fondasi pertumbuhan baru yang lebih berkualitas. Indonesia mampu terus tumbuh dengan tetap menjaga intensitas karbon, sehingga pembangunan dan keberlanjutan dapat berjalan secara beriringan. 

“Inisiatif PLTS 100 GW membuka peluang besar bagi industri dalam negeri karena menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik, sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja. Selain itu, inisiatif ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang mendukung kegiatan ekonomi desa, sehingga produktivitas dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujar Sunandar. 

Chief Executive Officer IESR, Fabby Tumiwa mengatakan, Indonesia memiliki kesempatan untuk bertransformasi dari negara dengan ketergantungan pada energi fosil menjadi pemimpin energi terbarukan di kawasan Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan Indonesia mempunyai potensi teknis energi surya mencapai sekitar 7,7 TW untuk memberikan energi listrik yang handal dan kompetitif mendukung pertumbuhan ekonomi hijau dan elektrifikasi yang berkualitas. 

“Transformasi ini memerlukan tata kelola yang transparan, peta jalan yang jelas, pengadaan yang kompetitif, pengawasan independen, dan penguatan kapasitas institusional. Dengan strategi implementasi yang tepat, program PLTS 100 GW dapat menyediakan listrik yang handal dan terjangkau bagi puluhan juta masyarakat, menghemat subsidi BBM hingga Rp21 triliun, mendorong investasi USD 50-70 miliar dari energi surya, menciptakan 118 ribu lapangan kerja hijau, serta secara signifikan berkontribusi menurunkan emisi GRK hingga 24 juta tCO2eq,” ujar Fabby.  

Selain menggarisbawahi kebutuhan pembiayaan yang diperkirakan mencapai sekitar USD 70 miliar dalam lima tahun, kajian ini juga memaparkan kebutuhan koordinasi lintas kementerian/lembaga, dukungan perbankan dan pembiayaan hijau, serta partisipasi sektor swasta. Diperlukan pula penguatan kapasitas tenaga kerja, termasuk kebutuhan tenaga instalasi, operasi dan pemeliharaan (O&M), serta keterlibatan pusat pelatihan di berbagai provinsi untuk penguatan kapasitas. 

Kepala Pemodelan dan Analisis Sistem Energi, IESR, Alvin Putra Sisdwinugraha menegaskan dalam tahap pertama, teridentifikasi  26 GW PLTS terdesentralisasi yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage Systems/BESS) yang berasal dari program pemerintah dan PLN yang sudah masuk dalam rencana, yaitu pergantian pembangkit diesel di daerah 3T, elektrifikasi perdesaan khususnya yang under-electrified dan penggunaan produktif energi untuk mendukung ekonomi masyarakat.  

“Tahap awal ini menjadi pondasi percepatan sebelum integrasi penuh mencapai PLTS 100 GW secara nasional. Sisa kapasitas menuju target PLTS 100 GW perlu diintegrasikan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN. Hal ini mensyaratkan perlu adanya trade off kebijakan yaitu percepatan pengakhiran operasi PLTU yang sudah tua dan tidak efisien sebelum tahun 2030, serta pengurangan atau pembatalan pembangunan PLTU baru,” papar Alvin. 

Tanpa langkah tersebut, IESR menilai, ruang pengembangan  energi surya akan terbatas dan berisiko menciptakan kelebihan kapasitas berbasis fosil. Karena itu, inisiatif PLTS 100 GW secara inheren mendorong perlunya revisi RUPTL agar selaras dengan target transisi energi dan komitmen iklim nasional, sekaligus mencegah stranded assets di masa depan. 

Kajian ini mengusulkan rencana aksi 180 hari pertama yang terstruktur untuk mewujudkan inisiatif  PLTS 100 GW. Pertama, menerbitkan Perpres atau Inpres untuk membentuk tim tugas dan pelaksana; menerbitkan standar model mini-PPA; dan menyediakan pendanaan dari APBN dan pendanaan internasional. 

Kedua, mengkapitalisasi fasilitas energi desa (VEF) di PT SMI dan menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja Nasional untuk mengunci harga retail dan rantai pasok modul PV dan BESS

​​Ketiga, mengumumkan bundling proyek untuk 3 paket regional (≥150 MW total) di NTT, Maluku, dan Papua dengan kewajiban pemenuhan standar O&M dan logistik selama 10 tahun. Keempat, meluncurkan ​Green Skills Compact​ untuk mensertifikasi ≥ 5.000 teknisi melalui program pelatihan cepat (ToT) dan magang yang terintegrasi dalam paket pelatihan. Kelima, mendirikan Dana O&M dan dashboard nasional; menerbitkan buku pedoman KPI untuk solar PV dan BESS dengan indikator yang meliputi performance ratio, availability, SLA perbaikan, MRV terhadap aspek sosial-ekonomi.​

  • Program PLTS 100 GW

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

Berita Terbaru

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

613 PKL Kramat Jati Bakal Dipindahkan, Ini 4 Lokasi yang Disiapkan Pasar Jaya

Coco Gauff Juara Cincinnati Open 2026! Tampil Perkasa dan Ukir Prestasi Gemilang

Pedagang Ikan Pasar Kramat Jati Bakal Direlokasi, Ini Persiapannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.