Kejar Waktu, BOPPJ Pacu Proyek Raksasa Pengaman Pantura Jawa

Senin, 23 Feb 2026, 17:08 WIB

JAKARTA – Sistem perlindungan terintegrasi Pantura Jawa menjadi kebutuhan mendesak mengingat kawasan pesisir utara Pulau Jawa menghadapi tekanan berlapis, mulai dari abrasi, penurunan muka tanah (land subsidence), banjir rob, hingga dampak perubahan iklim.

Tanpa pendekatan terpadu, penanganan yang bersifat parsial berisiko hanya memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain.

Ket. Foto: Foto udara kondisi banjir rob di Slamaran, Pekalongan, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Harviyan Perdana Putra.

Pendekatan terintegrasi mensyaratkan kombinasi infrastruktur keras seperti tanggul laut dan pompa, dengan solusi berbasis alam seperti rehabilitasi mangrove dan pengelolaan tata ruang pesisir.

Selain itu, koordinasi lintas pemerintah daerah dan dukungan kebijakan nasional menjadi kunci, mengingat Pantura merupakan jalur ekonomi vital dengan konsentrasi industri, pelabuhan, dan permukiman padat.

Jika dirancang berbasis data dan proyeksi jangka panjang, sistem ini tidak hanya melindungi wilayah pesisir, tetapi juga menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi di koridor strategis tersebut.

Pemerintah melalui Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) mempercepat sistem perlindungan terintegrasi pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

"Yang dilindungi bukan hanya garis pantai, tetapi peradaban ruang hidup masyarakat, pusat pertumbuhan ekonomi, serta keberlanjutan generasi mendatang. Pendekatan yang dilakukan bersifat terukur, bertahap, dan berbasis kajian ilmiah," ujar Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf dalam media briefing di Jakarta, Senin (23/2).

Pemerintah Republik Indonesia melalui BOPPJ menegaskan bahwa pengembangan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa, termasuk Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW), merupakan bagian dari strategi nasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban pesisir Pantura Jawa.

Perlindungan pesisir yang dikembangkan tidak dimaknai semata sebagai pembangunan tanggul laut, melainkan sebagai sistem terintegrasi yang mengombinasikan tanggul laut (offshore dike), tanggul pantai (onshore dike), serta solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti penguatan ekosistem mangrove.

Wilayah Pantai Utara Jawa menghadapi tantangan serius berupa penurunan muka tanah, kenaikan muka air laut, banjir akibat hujan, serta banjir rob yang berdampak pada permukiman, kawasan industri, pelabuhan, bandara, lahan pertanian, berkurangnya garis pantai dan daratan, serta infrastruktur strategis nasional.

Saat ini sekitar 17 juta penduduk berada di wilayah terdampak, sementara kawasan tersebut memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Secara konseptual, ia mengatakan sistem perlindungan pesisir Pantura Jawa direncanakan mencakup wilayah sepanjang kurang lebih 535 kilometer yang tersebar di lima provinsi yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta lima wilayah kota dan 25 wilayah kabupaten.

Cakupan tersebut bukan satu struktur tunggal yang dibangun serentak, melainkan sistem perlindungan bertahap yang diprioritaskan berdasarkan karakteristik risiko, kondisi teknis, dan kebutuhan setiap wilayah, katanya menambahkan.

Ia mengatakan seluruh kegiatan diaktualisasikan melalui penyusunan Rencana Induk (Master Plan), penguatan mitigasi sosial dan lingkungan, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah berdasarkan mandat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 77 Tahun 2025.

Pemerintah menggarisbawahi komitmennya terhadap transparansi, akuntabilitas, dan kolaborasi dalam setiap tahapan pelaksanaan guna memastikan perlindungan masyarakat, keberlanjutan ekosistem pesisir, serta kesinambungan aktivitas ekonomi nasional di Pantura Jawa, kata Didit.

Perlindungan Pantura Jawa, ia mengatakan merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan wilayah pesisir tetap menjadi ruang hidup yang aman, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang.

  • pantura
  • BOPPJ
  • sistem perlindungan terintegrasi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.