• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Denny JA Raih AMA Apprecia...

Denny JA Raih AMA Appreciation Award 2026, Soroti Makna Kepemimpinan dan Wealth Creation

Jumat, 02 Okt 2026, 23:51 WIB

Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA, menerima AMA Appreciation Award 2026 dalam gelaran AMA Indonesia Conference 2026 di Sanur, Bali, Jumat (2/10/2026).

Penghargaan dari Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Denny JA dalam memperluas wawasan strategis PHE, mendorong pengambilan keputusan yang profesional dan bertanggung jawab, serta memperkuat pembelajaran dan kepemimpinan korporasi.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta/Istimewa

AMA Indonesia Conference 2026 mengangkat tema “From Management to Wealth Creation” yang menyoroti perubahan makna kepemimpinan korporasi di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan masyarakat.

Dalam pidatonya, Denny JA mengatakan penghargaan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai puncak perjalanan kepemimpinan. Menurut dia, penghargaan justru menjadi momentum untuk kembali mempertanyakan makna kepemimpinan ketika perubahan zaman berlangsung semakin cepat.

“Pertanyaannya, apa sesungguhnya tugas seorang pemimpin korporasi ketika zaman berubah begitu cepat, teknologi melompat begitu jauh, dan kebutuhan manusia terus bergerak?” ujar Denny dalam kesempatan tersebut.

Denny kemudian mencontohkan perjalanan SpaceX yang didirikan Elon Musk untuk menjelaskan konsep wealth creation. Menurutnya, penciptaan kekayaan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan memperbesar pangsa pasar, tetapi juga kemampuan menciptakan nilai dan kemungkinan baru.

Ia menyoroti teknologi roket yang dapat digunakan kembali (reusable rocket) sebagai salah satu perubahan yang menggeser cara pandang terhadap biaya perjalanan ke luar angkasa. Teknologi tersebut membuka peluang baru bagi berkembangnya aktivitas ekonomi berbasis ruang angkasa.

Dari ekosistem tersebut kemudian berkembang Starlink, jaringan internet berbasis satelit orbit rendah yang memungkinkan konektivitas menjangkau berbagai wilayah, termasuk daerah dengan keterbatasan infrastruktur.

“Wealth creation bukan pertama-tama soal kekayaan. Ia dimulai ketika seseorang melihat kebutuhan yang belum terjawab, lalu mengubahnya menjadi nilai,” kata Denny.

Defining Question

Denny juga memperkenalkan konsep defining question, yakni pertanyaan mendasar yang menurutnya perlu dimiliki seorang pemimpin dalam menentukan arah organisasi.

Pertanyaan tersebut adalah, “Apa yang paling dibutuhkan zaman, manusia, dan lingkungan saya saat ini, yang dapat diberikan oleh organisasi yang saya pimpin?”

Menurut Denny, pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi landasan bagi pemimpin untuk menentukan perubahan yang perlu dilakukan dalam organisasi.

Ia mengaitkan gagasan itu dengan perannya sebagai Komisaris Utama PHE. Denny mengakui dirinya tidak berasal dari latar belakang profesional industri energi. Sebelum bergabung dengan PHE, pengalamannya mencakup berbagai bidang usaha, antara lain hospitality, hotel dan restoran, konsultan politik, lembaga survei, serta pertambangan.

Karena itu, pertanyaan yang dibawanya ke PHE tidak semata-mata bersifat teknis, tetapi berkaitan dengan kebutuhan Indonesia terhadap perusahaan hulu migas tersebut.

“Apa yang paling dibutuhkan Indonesia dari PHE pada zaman ini, dan perubahan apa yang dapat kita lakukan?” ujarnya.

Denny menyebut terdapat dua agenda besar yang perlu berjalan bersamaan, yakni meningkatkan produksi energi dan memperkuat institusi yang memungkinkan keputusan strategis diambil secara profesional serta bertanggung jawab.

Dorong Produksi dan Penguatan Tata Kelola

Dalam aspek produksi, PHE mencanangkan aspirasi 1M29, yakni mencapai produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029. Target tersebut, menurut Denny, membutuhkan eksplorasi, pemanfaatan teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, dan berbagai terobosan untuk menemukan sumber pertumbuhan produksi baru.

Selain penguatan produksi domestik, PHE juga membuka peluang pertumbuhan melalui merger dan akuisisi selektif di luar negeri. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia ketika kebutuhan energi nasional melampaui kemampuan sumber daya domestik.

Namun, peningkatan produksi juga harus diikuti dengan penguatan kualitas institusi dan tata kelola perusahaan.

Denny menilai industri hulu migas memiliki tingkat ketidakpastian tinggi. Tidak semua kegiatan eksplorasi akan menghasilkan cadangan minyak atau gas yang ekonomis untuk diproduksi. Karena itu, kegagalan komersial merupakan bagian dari risiko bisnis.

Ia menilai perlu ada pembedaan yang jelas antara kerugian akibat risiko bisnis dan kerugian yang timbul karena korupsi atau pelanggaran hukum.

“Jika keputusan dibuat profesional, berdasarkan informasi memadai, tanpa konflik kepentingan, tanpa korupsi, dan melalui tata kelola yang benar, kegagalan komersial tidak otomatis menjadi kejahatan,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Denny mendorong penguatan ekosistem Business Judgment Rule (BJR) untuk memberikan kepastian bagi pengambilan keputusan bisnis yang profesional dan bertanggung jawab.

Menurut dia, korupsi harus tetap ditindak tegas. Namun, keputusan bisnis yang dibuat dengan itikad baik, berdasarkan informasi memadai, dan tanpa konflik kepentingan juga perlu memperoleh perlindungan sesuai prinsip tata kelola yang berlaku.

Denny menyebut PHE bersama lembaga akademik mengambil inisiatif untuk mengusulkan pembentukan Dewan Business Judgment Rule melalui undang-undang.

Ia menilai korporasi besar membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas sekaligus keberanian mengambil keputusan.

“Bangsa tidak hanya membutuhkan pemimpin yang bersih. Ia juga membutuhkan pemimpin yang berani mengambil keputusan besar secara bersih,” kata Denny.

Menurutnya, kepemimpinan korporasi pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga perusahaan tetap berjalan, tetapi juga menciptakan kemungkinan baru, membaca kebutuhan yang belum terjawab, membuka ruang pertumbuhan, dan membangun institusi yang lebih kuat.

“Pemimpin korporasi hari ini tidak cukup hanya menjadi penjaga perusahaan. Pemimpin harus menjadi pencipta kemungkinan,” u

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Wahyu AP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.