Tradisi Unik Ramadan di Berbagai Negara, dari Indonesia hingga Kirgistan
Minggu, 22 Feb 2026, 09:19 WIBSelama Ramadan, umat Muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul untuk merayakan bulan suci ini. Lebih dari sekadar berpuasa dan beribadah, Ramadan tentang terhubung dengan budaya dan tradisi masing-masing negara, serta mengenang masa-masa yang lebih sederhana.
Meskipun umat Muslim di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan cara yang sama, namun terdapat tradisi Ramadan yang berbeda yang dipraktikkan di berbagai negara. Berikut beberapa tradisi yang dikutip dari Karam Foundation:Â
MESIR, Menyalakan Lentera Warna-warni
Selama Ramadan, warga Mesir menghiasi jalanan dengan Fanoos, yaitu lentera, yang menyebarkan cahaya selama bulan suci. Lentera ini melambangkan persatuan dan kegembiraan.
Kisah asal usul Fanoos Mesir berbeda-beda. Salah satu kisah menyebutkan bahwa pada hari kelima Ramadan tahun 358 H (969 M), Khalifah Fatimiyah Musa El-Din El-Allah memasuki Kairoâkota yang didirikan oleh pasukannyaâuntuk pertama kalinya.
Saat beliau datang setelah senja, penduduk berbondong-bondong keluar dengan lilin yang dilindungi oleh kerangka kayu agar tidak padam, untuk menyambut dan merayakan kedatangannya. Kemudian, struktur kayu ini menjadi lentera bermotif.
TURKI, Menabuh Gendang Bangunkan SahurÂ
Seperti banyak negara Timur Tengah lainnya, lebih dari 20.000 penabuh gendang berkeliling di Turki untuk membangunkan umat Muslim untuk sahur. Penabuh gendang Ramadan ini mengenakan pakaian tradisional Ottoman, termasuk fez dan rompi.
âBaru-baru ini, pejabat Turki telah memperkenalkan kartu keanggotaan untuk para penabuh gendang guna menanamkan rasa bangga pada mereka yang bermain dan mendorong generasi muda untuk menjaga tradisi kuno ini tetap hidup di negara yang berubah dengan cepat ini.â
TURKI, Budaya Mahya
Sejarah budaya mahya, yang berarti "kehidupan" dalam bahasa Arab, berawal dari periode Ottoman. Budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad dan merupakan warisan sejarah budaya Turki ini terus menghiasi kota-kota selama malam Ramadan dengan pesan-pesan yang ditulis di antara dua menara masjid sebagai awal Ramadan.
Halaman-halaman ini dihiasi dengan berbagai desain oleh para ahlinya; terdiri dari artikel-artikel berhias yang bertujuan untuk memberikan pesan-pesan bermakna tentang agama Islam dan membimbing manusia menuju kebaikan dan kebenaran.
KIRGISTAN, Tradisi Ca Ramadan
Tradisi ini, yang berkaitan dengan gendang Ramadan telah bertahan dari Kekaisaran Ottoman hingga saat ini. Muncul sebagai tradisi Ca Ramadan di Kyrgyzstan. Pada hari ke-15 Ramadan, kaum muda pergi ke semua rumah di sekitar dan mengungkapkan niat, doa, dan harapan mereka dengan alat musik khas budaya mereka melalui mani yang disebut Ca Ramadan.
Di sisi lain, tuan rumah yang mendengarkan mani tersebut menjadi bagian dari tradisi yang bermakna ini dengan memberikan suguhan kepada kaum muda dengan sepenuh hati.
UEA, Anak-anak Bernyanyi Demi PermenÂ
Bisa diilang versi Muslim dari tradisi "trick-or-treating". Tradisi "Haq Al Laila" berlangsung pada tanggal 13, 14, dan 15 Ramadan. Tradisi ini dimulai di Bahrain, di mana anak-anak berkeliling lingkungan dengan mengenakan pakaian berwarna cerah, mengumpulkan permen sambil menyanyikan lagu tradisional setempat.Â
Nyanyian tersebut berbunyi Aatona Allah Yutikom, Bait Makkah Yudikum , yang diterjemahkan dari bahasa Arab menjadi 'Berilah kepada kami dan Allah akan memberi pahala kepadamu dan membantumu mengunjungi Baitullah di Mekah.'
Sekarang, tradisi ini dirayakan di seluruh negara-negara Teluk, menyoroti pentingnya ikatan sosial yang kuat dan nilai-nilai keluarga.Â
MAROKO, Pembawa Berita Melantunkan Doa Saat Fajar
Selama Ramadan, Nafar  â seorang penyeru kota â berkeliling di lingkungan Maroko, mengenakan pakaian tradisional berupa gandora, sandal, dan topi, meniup terompetnya untuk membangunkan keluarga untuk sahur. Orang-orang memilih Nafar karena kejujuran dan empatinya.Â
Tradisi ini berasal dari abad ketujuh ketika seorang sahabat Nabi Muhammad akan berkeliling jalanan saat fajar sambil menyanyikan doa-doa yang merdu.Â
SURIAH, Meriam Ditembakkan Saat Berbuka PuasaÂ
Dikenal sebagai Midfa al Iftar, tradisi ini konon dimulai di Mesir lebih dari 200 tahun yang lalu ketika negara itu diperintah oleh penguasa Ottoman, Khosh Qadam.
Saat menguji meriam baru pada saat matahari terbenam, Qadam secara tidak sengaja menembakkannya. Suaranya bergema di seluruh Kairo. Hal itu mendorong banyak warga sipil untuk berasumsi bahwa ini adalah cara baru untuk menandai berakhirnya puasa. Kemudian, negara-negara lain seperti Suriah dan Lebanon, mengadopsi tradisi tersebut.Â
INDONESIA, Ritual Penyucian Diri Menandai RamadanÂ
Indonesia memiliki banyak tradisi yang dilakukan sebelum dan selama menjalani ibadah puasa Ramadan. Salah satunya Padusan (yang berarti âmandiâ), sebuah tradisi dalam masyarakat Jawa di mana umat Muslim melakukan berbagai ritual untuk âmembersihkanâ diri pada hari sebelum Ramadan.
Wali Songo adalah misionaris pertama yang menyampaikan ajaran Islam di Jawa. Mereka diyakini sebagai orang pertama yang menyebarkan tradisi ini.
Di Wilayah Sumatra Utara, mandi di sungai sebelum Ramadan juga dilaksanakan umat muslimnya Disebut tradisi Marpangir, ritual mandi dengan bahan tradisional seperti limau, jeruk purut, daun wangi, dan akar wangi di sungai atau pemandian alam bertujuan untuk menyucikan diri secara lahir batin.Â
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Perayaan Malam Transisi Ramadhan di Bundaran HI
-
Buka Puasa Bersama dengan Ramadan Fusion Feast di Hotel Ciputra Jakarta
-
Santunan Ramadan untuk 1.000 Anak Yatim di Lumajang
-
Penertiban Penjual Petasan di Malam Ramadan
-
Buka Puasa di Grand Aston Puncak, Ada Menu Spesial ala Timur Tengah “Ramadan in Harmony”
-
Malaysia Tetapkan Awal Ramadan pada 19 Februari
-
CFD tetap dilaksanakan selama Ramadhan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.