AS Desak Iran untuk Terima Kesepakatan, Trump Siap Lancarkan Serangan

Jumat, 20 Feb 2026, 01:00 WIB

WASHINGTON DC - Gedung Putih pada Rabu (18/2) memperingatkan bahwa Iran untuk lebih bijaksana dengan melakukan kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) ketika Presiden Donald Trump sekali lagi mengisyaratkan tindakan militer.

Kedua belah pihak baru-baru ini melanjutkan pembicaraan tidak langsung, yang dimediasi oleh Oman, setelah Trump berulang kali mengancam tindakan militer terhadap Iran atas tindakan keras mematikan terhadap pengunjuk rasa bulan lalu.

Ket. Foto: Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington, DC, Rabu (18/2). — Sumber: AFP/SAUL LOEB

Upaya negosiasi sebelumnya gagal ketika Israel meluncurkan serangan mendadak mengenai Iran Juni lalu, memulai perang 12 hari yang sempat diikuti Washington DC untuk mengebom situs nuklir Iran.

"Iran akan sangat bijaksana jika mau membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan pemerintahannya," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, kepada wartawan.

Pada Rabu, Trump memberi sinyal bahwa AS mungkin akan menyerang Iran dalam sebuah postingan di situs Truth Social miliknya dan penegarahan kekuatan militer AS sedang berlangsung di Timur Tengah.

Dia pun memperingatkan Inggris agar tidak menyerahkan kedaulatan atas Kepulauan Chagos di Samudera Hindia, dengan mengatakan bahwapangkalan udara Diego Garcia di kepulauan tersebut mungkin diperlukan jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, untuk memberantas potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya.

CNN dan CBS melaporkan pada Rabu bahwa militer AS akan siap melancarkan serangan terhadap Iran paling cepat akhir pekan ini, meskipun Trump dilaporkan belum membuat keputusan akhir.

The Wall Street Journal melaporkan pada Rabu bahwa Trump telah diberi pengarahan mengenai pilihan militernya dengan semuanya dirancang untuk memaksimalkan kerusakan, termasuk kampanye untuk membunuh sejumlah pemimpin politik dan militer Iran yang tidak disebutkan namanya, dengan tujuan menggulingkan pemerintah, kata para pejabat AS kepada surat kabar itu.

Sebelumnya padaRabu, diplomat utama Teheran, Abbas Araghchi, mengatakan Iran tengah merancang kerangka kerja untuk pembicaraan di masa depan dengan AS.

Sebelumnya pada Selasa (17/2) Iran dan AS mengadakan putaran kedua perundingan yang dimediasi Omandi Jenewa.

Araghchi mengatakan kemudian bahwa Teheran telah setuju dengan Washington DC pada prinsip-prinsip panduan awal, tapi Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan Iran belum mengakui semua tuntutan Washington DC.

Tidak Ingin Perang

Berbicara padaRabu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bersikerasbahwa negaranya tidak ingin perang, tetapi menegaskan pula bahwa Teheran tidak bisa menyerah pada tuntutan AS.

"Sejak hari saya menjabat, saya percaya bahwa perang harus dikesampingkan. Namun jika mereka mencoba memaksakan kehendak mereka pada kita, mempermalukan kita dan menuntut agar kita menundukkan kepala dengan cara apa pun, haruskah kita menerimanya?"

Sementara itu, Menteri Energi AS, Chris Wright, memperingatkan bahwa Washington DC akan menghalangi Teheran untuk memperoleh senjata nuklir dengan satu atau lain cara.

"Mereka sudah sangat jelas tentang apa yang akan mereka lakukan dengan senjata nuklir. Hal ini sama sekali tidak dapat diterima," kata Wright kepada wartawan di Paris di sela-sela pertemuan Badan Energi Internasional.

Kepala energi atom Iran, Mohammad Eslami, mengatakan pada Kamis (19/2) bahwa tidak ada negara yang dapat mencabut hak republik Islam itu atas pengayaan nuklir.

  • Ketegangan di Timur Tengah

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.