• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Pembangunan Karakter Murid...

Pembangunan Karakter Murid Banyak Tergantung pada Guru

Selasa, 25 Nov 2025, 03:11 WIB

JAKARTA – Guru menjadi faktor utama dalam pembangunan karakter murid. Guru memegang peran sentral dalam pembentukan karakter dan kewarganegaraan peserta didik. "Guru memegang peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan kewarganegaraan peserta didik," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan (GTKPG) Kemendikdasmen Nunuk Suryani.

Dia menyatakan ini dalam webinar internasional bertajuk "Peran Guru dalam Memperkuat Pendidikan Karakter dan Kewarganegaraan dalam Membangun Masyarakat yang Kohesif" di Jakarta, Senin. Sejalan dengan peran itu, Nunuk mengatakan, melalui peneladanan dan interaksi sehari-hari, guru menjadi figur yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan sikap disiplin, empati, rasa ingin tahu, kemampuan menyelesaikan masalah.

Ket. Foto: peran sentral guru — Sumber: ist

Peran itu lalu membuat guru menjadi sosok yang bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran, melainkan juga pembentuk fondasi moral yang membedakan generasi yang kuat dan berkarakter. Peran tersebut, ujar Nunuk, juga semakin bernilai penting di tengah meningkatnya disinformasi, polarisasi sosial, dan dinamika global yang menuntut penguatan nilai empati dan tanggung jawab sosial dalam diri peserta didik.

Dalam webinar yang digelar untuk memperingati Hari Guru itu, Nunuk menyampaikan pula bahwa penguatan karakter tidak bisa dilakukan dengan hanya mengandalkan kurikulum tertulis. Akan tetapi, juga membutuhkan praktik yang mencerminkan nilai saling memahami dan menghargai. Oleh karena itu, guru pun menjadi aktor utama dalam menumbuhkan fondasi moral generasi yang kuat dan berkepribadian.

Berikutnya, Nunuk juga menyinggung mandat ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) dan ASEAN Political-Security Community (APSC) yang menekankan pentingnya kewarganegaraan yang bertanggung jawab, kohesi sosial, serta penghormatan HAM sebagai pilar masyarakat Asia Tenggara. "Guru menjadi ujung tombak untuk menerjemahkan mandat itu dalam pembelajaran sehari-hari,” kata dia.

Nunuk menyampaikan pula bahwa pemerintah turut memastikan penguatan karakter terintegrasi dalam kebijakan pelatihan guru, termasuk peningkatan kompetensi bimbingan konseling dan kepekaan keberagaman bagi seluruh tenaga pendidik.

Ia lalu mengajak guru, kepala sekolah, orang tua, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan jejaring pendidikan ASEAN untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membentuk ekosistem pendidikan yang mendukung karakter inklusif. "Kohesi sosial tidak lahir dari kebijakan saja, tetapi dari interaksi sehari-hari yang penuh empati,” ujarnya.

Dengan penguatan peran guru, Nunuk berharap upaya bersama tersebut dapat mencetak generasi Asia Tenggara yang berkeadaban, menghargai keberagaman, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.