- Home
-
- Luar Negeri
-
- Perlombaan AI Dinilai Anca...
Perlombaan AI Dinilai Ancam Masa Depan Umat Manusia
Kamis, 19 Feb 2026, 01:00 WIBNEW DELHI - Peneliti Teknologi Informasi terkemuka, Stuart Russell pada hari Selasa (17/2), memperingatkan bahwa para CEO perusahaan teknologi yang terjebak dalam "perlombaan senjata" kecerdasan buatan (AI), berisiko dapat memusnahkan umat manusia, seraya menyerukan pemerintah untuk menghentikan laju perlombaan tersebut.
Dikutip dari The Straits Times, Profesor Russell, yang mengajar di University of California, Berkeley, mengatakan para pemimpin perusahaan AI terbesar dunia memahami bahaya sistem supercerdas yang suatu hari dapat melampaui kemampuan manusia.
Menurutnya, tanggung jawab untuk menyelamatkan umat manusia berada di tangan para pemimpin dunia yang mampu mengambil tindakan kolektif.
âMembiarkan entitas swasta pada dasarnya bermain ârolet Russiaâ dengan seluruh manusia di bumi adalah bentuk kelalaian total pemerintah,â ujar Russell, yang dikenal sebagai salah satu suara utama dalam isu keselamatan AI.
Negara dan perusahaan saat ini menggelontorkan ratusan miliar dollar untuk membangun pusat data berdaya listrik besar guna melatih dan menjalankan teknologi AI generatif.
Teknologi yang berkembang pesat ini menjanjikan manfaat seperti penemuan obat baru, tetapi juga berpotensi menyebabkan kehilangan pekerjaan, meningkatkan pengawasan, serta mempermudah penyalahgunaan daring dan berbagai ancaman lain.
Selain itu, terdapat risiko âsistem AI mengambil kendali sendiri dan peradaban manusia menjadi korban sampingan dalam proses tersebut,â kata Russell dalam wawancara di AI Impact Summit di New Delhi.
Ia menilai setiap CEO perusahaan AI sebenarnya ingin memperlambat perlombaan tersebut, namun tidak dapat melakukannya secara sepihak karena tekanan investor.
âSebagian dari mereka mengatakannya secara terbuka dan sebagian lagi menyampaikannya kepada saya secara pribadi,â ujarnya, seraya menambahkan bahwa bahkan Sam Altman, pimpinan pembuat ChatGPT yaitu OpenAI, pernah menyatakan secara terbuka bahwa AI berpotensi menyebabkan kepunahan manusia.
OpenAI dan perusahaan rintisan AS pesaingnya, Anthropic, juga mengalami pengunduran diri sejumlah karyawan yang menyuarakan kekhawatiran etika. Pekan lalu, Anthropic memperingatkan bahwa model chatbot terbarunya berpotensi diarahkan untuk âsecara sadar mendukung, dalam skala kecil, upaya pengembangan senjata kimia dan kejahatan berat lainnyaâ.
Peniru manusia
Pertemuan internasional seperti KTT AI pekan ini dinilai menjadi peluang untuk mendorong regulasi, meski tiga edisi sebelumnya hanya menghasilkan kesepakatan sukarela dari perusahaan teknologi.
âPenting agar setiap pemerintah memahami persoalan ini, dan itulah alasan saya hadir,â kata Russell.
India berharap konferensi AI selama lima hari yang dihadiri para bos teknologi dan puluhan delegasi tingkat tinggi itu dapat mempercepat kemajuan sektor tersebut. Menteri Teknologi Informasi India, Ashwini Vaishnaw, mengatakan negaranya memperkirakan investasi AI lebih dari 200 miliar dollar AS dalam dua tahun ke depan, termasuk sekitar 90 miliar dollar AS yang telah dikomitmenkan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Polda Sulawesi Utara Siagakan 1.034 Personel saat Natal dan Tahun Baru 2026
-
PLN Jamin Pasokan Listrik di 15.000 Hunian Sementara bagi Korban Bencana Sumatra
-
Perluas Kerajaan AI, Nvidia Rekrut Pimpinan Groq
-
Peningkatan penumpang Whoosh saat libur Natal dan Tahun Baru
-
McDonald's Belanda Menghapus Iklan AI setelah Panen Kecaman
-
Dari Pagi hingga Senja: SAR Jambi Sisir Batanghari, Cari Lansia yang Hilang
-
Atlet Arung Jeram Asal OKU Selatan Mewakili Indonesia di Ajang WRC Malaysia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.