Iran-AS Akhiri Perundingan Nuklir Putaran Kedua

Rabu, 18 Feb 2026, 02:45 WIB

JENEWA – Pemimpin tertinggi Iran pada Selasa (17/2) memperingatkan bahwa negaranya memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat (AS) yang ditempatkan di Teluk, saat perundingan putaran kedua antara kedua pihak berakhir di Jenewa, Swiss.

Ancaman dari Ayatollah Ali Khamenei ini menyusul peningkatan kekuatan militer AS di kawasan tersebut seiring dengan tekanan yang diberikan Presiden Donald Trump kepada Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklir.

Ket. Foto: Sejumlah petugas polisi berjaga di luar kediaman Dubes Oman di Jenewa, Swiss. Pada Selasa (17/2), terjadi perundingan putaran kedua antara AS dan Iran yang membahas soal nuklir Teheran dan pencabutan sanksi AS terhadap Iran. — Sumber: AFP/Robin MILLARD

Perundingan yang dimediasi Oman bertujuan untuk mencegah kemungkinan aksi militer AS, sementara Teheran menuntut pencabutan sanksi AS yang melumpuhkan perekonomiannya.

Seorang jurnalis AFP melihat delegasi dari kedua negara meninggalkan lokasi pembicaraan di kediaman Duta Besar Oman pada Selasa sore.

Sebelum perundingan di Jenewa dimulai, Presiden Trump telah memperingatkan Iran terkait konsekuensi yang akan terjadi jika Teheran gagal mencapai kesepakatan. Sebelumnya Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer terkait tindakan keras Iran yang mematikan terhadap para demonstran bulan lalu dan terkait program nuklirnya.

Washington DC telah memerintahkan dua kapal induk ke wilayah tersebut, dengan kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln, yang membawa hampir 80 pesawat, pada hari Minggu (15/2) terpantau citra satelit berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran pada hari Minggu.

Sebuah kapal induk kedua dikirim pada akhir pekan lalu ketika Trump meningkatkan tekanan.

"Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan," kata Trump kepada wartawan menjelang perundingan di Jenewa.

Namun Khamenei kemudian melontarkan retorika kerasnya sendiri setelah pembicaraan dimulai, dengan mengatakan bahwa Iran memiliki senjata yang mampu menenggelamkan kapal perang AS.

"Kita terus-menerus mendengar bahwa mereka telah mengirimkan kapal perang ke arah Iran. Kapal perang tentu saja merupakan senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu menenggelamkannya," kata Khamenei dalam sebuah pidato seraya menambahkan bahwa Trump tidak akan berhasil menghancurkan Iran.

Pada perundingan putaran kedua, Iran bersikeras agar pembicaraan dibatasi pada isu nuklir, meskipun Washington DC sebelumnya telah mendesak agar topik lain juga dibahas, termasuk program misil balistik Teheran dan dukungan untuk kelompok-kelompok bersenjata di kawasan tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, pada Selasa mengatakan bahwa pencabutan sanksi harus menjadi bagian integral dari setiap kesepakatan.

Latihan Perang

Sebelum perundingan digelar di Jenewa, Iran berupaya memamerkan kekuatan militernya, dengan Korps Garda Revolusi Islam memulai serangkaian latihan perang di Selat Hormuz untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer, menurut televisi pemerintah Iran.

Para politisi Iran telah berulang kali mengancam akan memblokir selat tersebut, yang merupakan jalur strategis untuk minyak dan gas.

Pada Selasa, televisi pemerintah melaporkan bahwa Teheran akan menutup sebagian jalur perairan tersebut sebagai tindakan keamanan selama latihan.

Negara-negara Barat khawatir program nuklir Iran bertujuan untuk membuat bom, yang dibantah oleh Teheran.

Pada Jumat (13/2) pekan lalu, Trump mengatakan bahwa pergantian pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi.

Upaya diplomasi sebelumnya gagal tahun lalu ketika Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran pada Juni, memulai perang 12 hari yang sempat diikuti Washington DC untuk membom situs nuklir Iran. SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.