Kicau Rezeki di Musim Imlek: Cerita Pedagang Burung Pipit Raup Puluhan Juta di Palembang

Selasa, 17 Feb 2026, 23:20 WIB

PALEMBANG – Riuh suasana Tahun Baru Imlek 2026 terasa hingga sudut-sudut pasar burung di Palembang, Sumatera Selatan.

Di antara kepakan sangkar dan kicau burung pipit yang saling bersahutan, para pedagang tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Ket. Foto: Pedagang burung pipit saat Imlek di Palembang. — Sumber: ANTARA/ M Imam Pramana

Bagi mereka, Imlek bukan sekadar perayaan, tapi juga musim panen rezeki. Burung pipit—yang dipercaya sebagian warga sebagai simbol keberuntungan—diburu untuk keperluan ritual maupun tradisi keluarga.

Tak heran, omzet para pedagang melonjak tajam. Dalam hitungan hari, beberapa di antaranya bahkan mengantongi pendapatan hingga puluhan juta rupiah.

Lapak-lapak sederhana mendadak jadi pusat keramaian. Ada pedagang yang sudah menyiapkan stok sejak berminggu-minggu sebelumnya, ada pula yang kewalahan karena permintaan datang di luar perkiraan. Senyum lelah bercampur lega terpancar di wajah mereka, menyaksikan sangkar-sangkar kosong satu per satu.

Di balik hiruk pikuk Imlek, cerita para penjual burung pipit ini menjadi potret kecil denyut ekonomi rakyat—bagaimana tradisi mampu menggerakkan usaha, dan bagaimana momen perayaan menghadirkan harapan baru bagi para pedagang kecil di Kota Palembang.

"Kami bersyukur ya setiap tahun saat Imlek di Kota Palembang dapat berjualan burung pipit dan mampu menjual hingga 500 ekor burung per hari sejak H-3 kami sudah berjualan," kata Akhmad (50) seorang pedagang burung pipit di kawasan Klenteng Dewi Kwam Im Kelurahan 9/10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, Palembang, Selasa (17/2).

Menurutnya burung pipit saat Imlek di Palembang menjadi buruan warga Tionghoa untuk dilepasterbangkan dan menjadi kepercayaan sebagai ritual membuang sial dan dapat mendatangkan rejeki.

Ia menyebutkan, warga Tionghoa biasanya membeli dengan memborong burung pipit kemudian akan dilepaskan di waktu pagi, siang, sore, bahkan malam hari.

Sementara hanya dengan harga berkisar Rp2.000 hingga Rp3.000 per ekor, pedagang mampu menjual hingga ribuan ekor burung pipit.

"Ini sudah menjadi musiman untuk menjual burung pipit saat Imlek dan juga biasanya saat Cap gomeh, banyak sekali warga Tionghoa yang membelinya bahkan memborong burung pipit ini untuk dilepaskan kembali," katanya.

Hal senada dikatakan Rusnadi (46) seorang pedagang burung pipit yang ketiban rejeki saat Imlek di Palembang.

Dia bersyukur setiap tahun saat Imlek di Kota Palembang dapat berjualan burung pipit dan mampu menjual hingga 500 ekor burung per hari sejak H-3 Imlek yang sudah berjualan.

Sementara itu saat Imlek di Palembang tepatnya di Kelenteng Kwam Im yang merupakan tertua di Bumi Sriwijaya tersebut, berlangsung ramai, dengan konsep berwarna merah.

Berbagai aktivitas dilakukan mulai dari melepaskan burung pipit, adapula penampilan barongsai yang menarik perhatian anak - anak khususnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.