- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tiongkok dan AS Sepakat Le...
Tiongkok dan AS Sepakat Lebih Kedepankan Dialog Ketimbang Konfrontasi
Senin, 16 Feb 2026, 01:05 WIBJAKARTA - Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi menegaskan bahwa dialog akan lebih baik daripada konfrontasi dalam hubungan bilateral antara dua negara ekonomi terbesar dunia yakni Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Hal itu disampaikan Wang Yi, usai bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di sela-sela Konferensi Keamanan Munich.
Kedua menteri bertemu pada Jumat (13/2) untuk membahas persiapan pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump pada April 2026.
Dalam pertemuan itu, Wang mengatakan kedua kepala negara telah memberikan arahan strategis bagi perkembangan hubungan Tiongkok-AS dan mendorong tahun ini menjadi momentum untuk saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan saling menguntungkan.
âDialog lebih baik daripada konfrontasi, kerja sama lebih baik daripada konflik,â kata Wang dalam pernyataan di laman Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang dilihat pada Sabtu (14/2).
Ia menambahkan kedua negara perlu memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan agar hubungan bilateral berkembang secara stabil dan berkelanjutan.
Wang menyebut pertemuan dengan Rubio berlangsung positif dan konstruktif serta sepakat memperkuat komunikasi dan koordinasi diplomatik.
Sementara itu, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott mengatakan Rubio juga menilai pertemuan tersebut positif dan menekankan pentingnya komunikasi yang berorientasi hasil dalam isu bilateral, regional, dan global.
Menurut Pigott, kedua pihak turut membahas rencana kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok pada April.
Dalam kesempatan terpisah di Konferensi Keamanan Munich, Wang menyatakan Tiongkok memandang hubungan dengan AS dari perspektif tanggung jawab terhadap sejarah dan masyarakat internasional.
Ia mengatakan terdapat dua kemungkinan arah hubungan Tiongkok-AS, yakni kerja sama yang saling menguntungkan atau konfrontasi jika AS memilih menekan dan membatasi Tiongkok.
âKami berharap skenario pertama yang terjadi, tetapi juga siap menghadapi berbagai risiko,â kata Wang.
Menahan Diri
Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa menyoroti bahaya perang kepada keseimbangan ekonomi politik global, makanya perlunya semua negara khususnya negara negara kuat untuk menahan diri.
Kerja sama yang berlandaskan kesetaraan lebih baik dibanding permusuhan yang akan merugikan semuanya.
âKonfrontasi hingga perang hanya akan menyengsarakan rakyat kecil dan memperkaya segelintir elit global yang penuh ambisi keserakahan,âungkap Awan.
Dampak perang papar Awan sangat merusak kehidupan rakyat, mengancam pasokan pangan dan energi global dan bisa menghancurkan ekonomi negera-negara yang masih rentan pangan.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Tangerang Sediakan Pendampingan bagi Perempuan Korban Kekerasan
-
Jelang Idul Adha 2026, Pemprov Jatim Kerahkan Tim Cek Kesehatan Hewan Kurban
-
1.505 Pendaki Nikmati Libur Panjang di Gunung Rinjani
-
Upaya Penguatan Populasi Sapi Lokal untuk Ketahanan Pangan
-
Tuding Rugikan Hubungan Bilateral, Tiongkok Larang Menhan Filipina Masuk Wilayahnya
-
Kulon Progo Dorong Harmonisasi Pergub untuk Perkuat Kepastian Hukum Tanah Kalurahan
-
Indonesia dan Amerika Serikat Tingkatkan Kerja Sama Museum dan Pelestarian Warisan Budaya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.