Menang Pemilu, Tokoh Nasionalis Bangladesh Tarique Rahman Siap Jadi Perdana Menteri

Sabtu, 14 Feb 2026, 14:55 WIB

DHAKA - Partai Islam terbesar di Bangladesh mengakui kekalahan dalam pemilihan pada hari Sabtu (14/2), meskipun sebelumnya menuduh ada masalah dengan penghitungan suara, membuka jalan bagi pemimpin nasionalis Tarique Rahman untuk menjadi perdana menteri.

Data Komisi Pemilihan Umum menunjukkan Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) pimpinan Rahman meraih kemenangan telak dalam pemilihan pada hari Kamis, yang pertama sejak pemberontakan mematikan tahun 2024 menggulingkan pemerintahan tangan besi Sheikh Hasina.

Ket. Foto: Ketua Partai Nasionalis Bangladesh, Tarique Rahman (tengah), tampaknya akan menjadi perdana menteri Bangladesh berikutnya. — Sumber: ST/EPA

Keberhasilan ketua BNP, Rahman (60), menandai perubahan haluan yang luar biasa bagi seorang pria yang baru kembali ke Bangladesh pada bulan Desember setelah 17 tahun berada di pengasingan di Inggris, jauh dari gejolak politik Dhaka.

Rahman, keturunan dari salah satu dinasti politik paling berpengaruh di Bangladesh, diperkirakan akan menyampaikan pidato kemenangan pada hari Sabtu nanti.

Ayahnya, presiden Ziaur Rahman, dibunuh pada tahun 1981, sementara ibunya, Khaleda Zia, menjabat tiga periode sebagai perdana menteri dan mendominasi politik nasional selama beberapa dekade.

Peraih Nobel Muhammad Yunus, yang telah memimpin negara berpenduduk 170 juta jiwa itu sebagai pemimpin sementara sejak pemberontakan, mengatakan bahwa Rahman "akan membantu membimbing negara menuju stabilitas, inklusivitas, dan pembangunan".

Menurut Komisi Pemilihan Umum, aliansi BNP memenangkan 212 kursi dibandingkan dengan 77 kursi yang diraih oleh aliansi yang dipimpin oleh Jamaat-e-Islami. 

Putusan Rakyat

Ketua partai Islam Jamaat, Shafiqur Rahman (67), mengatakan pada hari Jumat bahwa ia akan "mencari keadilan" dari komisi tersebut, dengan partainya menuduh adanya "ketidakkonsistenan dan fabrikasi".

Namun sehari kemudian, ia mengakui kekalahan.

"Dalam setiap perjalanan demokrasi sejati, ujian sebenarnya dari kepemimpinan bukanlah hanya bagaimana kita berkampanye, tetapi bagaimana kita menanggapi keputusan rakyat," kata pemimpin Jamaat dalam sebuah pernyataan.

"Kami mengakui hasil keseluruhan, dan kami menghormati supremasi hukum."

Partai Awami League pimpinan Hasina dilarang ikut serta. Hasina (78) yang dijatuhi hukuman mati secara in absentia atas kejahatan terhadap kemanusiaan, mengeluarkan pernyataan dari tempat persembunyiannya di India yang mengecam "pemilu sebagai ilegal dan tidak konstitusional".

Kedutaan Besar AS mengucapkan selamat kepada Rahman dan BNP atas "kemenangan bersejarah", sementara negara tetangga India memuji "kemenangan telak" Rahman, sebuah perubahan penting setelah hubungan yang sangat tegang.

Tiongkok dan Pakistan, yang keduanya semakin dekat dengan Bangladesh sejak pemberontakan tahun 2024 dan memburuknya hubungan dengan India, tempat Hasina berlindung sejak penggulingannya, juga mengucapkan selamat kepada BNP.

Para pengamat pemilu internasional mengatakan bahwa pemilu tersebut telah sukses, dan Uni Eropa pada hari Sabtu mengatakan bahwa pemilu tersebut "kredibel".

International Republican Institute mencatat bahwa meskipun "administrasi pemilihan secara teknis berjalan dengan baik, lingkungan politik yang lebih luas tetap rapuh".

Berhasil

Rahman dari partai Jamaat mengatakan partainya "akan berperan sebagai oposisi yang waspada, berprinsip, dan damai, serta meminta pertanggungjawaban pemerintah".

Komisioner Pemilu Md Anwarul Islam Sarker mengatakan kepada AFP bahwa pemungutan suara telah berjalan sukses.

"Ini adalah pemilihan terbaik sejauh ini," katanya. Ppemungutan suara hanya dibatalkan di satu dari lebih dari 42.000 tempat pemungutan suara.

"Orang-orang ragu apakah pemilihan umum yang sukses dapat diadakan dalam keadaan seperti ini, tetapi kami telah berhasil melakukannya," katanya pada hari Sabtu. "Jika ada yang masih memiliki masalah, mereka dapat mengajukan gugatan ke pengadilan."

Komisi Pemilihan Umum mengatakan tingkat partisipasi pemilih mencapai 59 persen di 299 dari 300 daerah pemilihan tempat pemungutan suara berlangsung.

Hanya tujuh perempuan yang terpilih, meskipun 50 kursi tambahan di parlemen yang diperuntukkan bagi perempuan akan diisi dari daftar partai.

Shafiqur Rahman menekankan kemajuan signifikan yang telah diraih partai Islamisnya dibandingkan dengan pemilihan umum sebelumnya, setelah bertahun-tahun tertindas di bawah kepemimpinan Hasina.

"Dengan 77 kursi, kami hampir melipatgandakan kehadiran kami di parlemen dan menjadi salah satu blok oposisi terkuat dalam politik Bangladesh modern," katanya. "Itu bukan kemunduran. Itu adalah fondasi."

Pada hari Kamis, para pemilih juga mendukung usulan dalam referendum untuk piagam reformasi demokrasi menyeluruh yang didukung oleh Yunus, untuk merombak apa yang disebutnya sebagai sistem pemerintahan yang "benar-benar rusak" dan untuk mencegah kembalinya pemerintahan satu partai.

Hal itu termasuk pembatasan masa jabatan perdana menteri, majelis tinggi parlemen yang baru, kekuasaan presiden yang lebih kuat, dan independensi peradilan yang lebih besar.

Analis Crisis Group, Thomas Kean, memperingatkan bahwa pemerintah yang akan datang kini menghadapi "tantangan yang berat", termasuk "meningkatkan perekonomian, memastikan keamanan, dan melanjutkan proses reformasi".

  • Politik Bangladesh

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.