Jejak Manggis Menjelang Imlek: Cerita Petani Bali di Balik Lonjakan Ekspor ke Tiongkok

Jumat, 13 Feb 2026, 23:20 WIB

DENPASAR – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, denyut aktivitas di sentra-sentra pertanian manggis di Bali terasa berbeda.

Sejak pagi buta, petani, pengepul, hingga pekerja logistik berjibaku menyiapkan buah-buah ungu mengilap itu—dipilih satu per satu, dibersihkan, lalu dikemas rapi untuk perjalanan jauh menuju Tiongkok.

Ket. Foto: Petugas BKHIT Bali memeriksa buah manggis yang akan diekspor di Denpasar, Bali, Selasa (10/2/2026). — Sumber: ANTARA/ HO BKHIT Bali

Bagi para petani, musim ini selalu membawa harapan. Permintaan yang melonjak menjelang Imlek membuat harga lebih stabil, bahkan cenderung membaik.

Manggis bukan sekadar komoditas ekspor; ia menjelma simbol keberuntungan dan kemakmuran di pasar Negeri Tirai Bambu.

Tak heran, setiap butir yang lolos sortir kualitas premium terasa seperti tiket emas bagi kesejahteraan keluarga di desa-desa penghasil.

Di gudang pengemasan, aroma segar buah bercampur hiruk-pikuk forklift dan bunyi lakban yang ditarik cepat. Waktu menjadi musuh utama.

Manggis harus tiba dalam kondisi prima—kulit mulus, daging putih bersih, dan rasa manis segar—agar bisa bersaing di rak-rak supermarket luar negeri.

Rantai dingin dijaga ketat, dokumen karantina dipercepat, dan jadwal pengapalan diperketat mengikuti lonjakan permintaan musiman.

Peningkatan pengiriman ini bukan sekadar cerita tentang perdagangan lintas negara. Ini merupakan potret kerja kolektif: petani yang mulai panen lebih awal, koperasi yang memperkuat standardisasi mutu, hingga eksportir yang membuka akses pasar lebih luas.

Di balik setiap kontainer manggis yang berangkat, ada doa-doa sederhana—agar cuaca bersahabat, logistik lancar, dan buah tropis Nusantara kian mendapat tempat di hati konsumen dunia.

Saat lentera merah mulai menghiasi etalase toko di Tiongkok, manggis dari Bali ikut menumpang arus perayaan itu—membawa rasa, cerita, dan harapan dari kebun-kebun hijau Pulau Dewata ke meja makan jutaan keluarga.

Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Bali mencatat peningkatan pengiriman buah manggis dari Bali ke Tiongkok menjelang tahun baru Imlek 2577 Kongzili/2026.

"Kami menyertifikasi 79,5 ton manggis selama kurun waktu 1 Januari sampai 9 Februari 2026 atau meningkat 700 persen dibandingkan Desember 2025," kata Kepala BKHIT Bali Heri Yuwono di Denpasar, Selasa (13/2).

Menurut data Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology (Best Trust), BKHIT Bali selama periode 1 Januari sampai 9 Februari 2026 telah 42 kali menyertifikasi manggis dengan volume total 79,5 ton untuk keperluan ekspor.

Heri menyampaikan bahwa BKHIT Bali selama Desember 2025 hanya sekali menyertifikasi manggis dengan volume 9,7 ton untuk keperluan ekspor.

Menurut dia, permintaan manggis meningkat menjelang tahun baru Imlek karena masyarakat Tiongkok menganggap manggis sebagai lambang keberuntungan, kemakmuran, dan kesehatan.

Meski permintaannya meningkat, menurut data BKHIT Bali angka pengiriman manggis menjelang Imlek 2026 masih lebih rendah dibandingkan dengan kurun yang sama tahun 2025.

Pada kurun yang sama tahun 2025, BKHIT Bali melakukan total 131 kali sertifikasi manggis dengan volume 356,5 ton untuk tujuan ekspor.

Penurunan volume ekspor menurut BKHIT Bali antara lain disebabkan oleh penurunan produksi manggis akibat kondisi cuaca ekstrem.

Heri menjelaskan bahwa penanganan pengiriman manggis ke China dilakukan sesuai dengan prosedur ekspor yang berlaku.

BKHIT Bali berusaha memastikan manggis yang akan diekspor memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam protokol ekspor, termasuk di antaranya bebas kutu putih, lalat buah, kutu tempurung, dan siput.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.