Terapi Estrogen Turunkan Risiko Demensia pada Perempuan Lansia
Rabu, 19 Agu 2026, 07:33 WIBSEBUAH studi berskala besar menemukan adanya hubungan antara penggunaan terapi hormon berbasis estrogen saja pada perempuan di usia lanjut dengan risiko demensia yang lebih rendah serta lebih sedikit tanda penyakit Alzheimer di otak.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 21.000 perempuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan terapi hormon berkaitan dengan 39 persen lebih rendahnya kemungkinan mendapat diagnosis demensia. Terapi yang sama juga dikaitkan dengan 35 persen lebih rendahnya kemungkinan ditemukan perubahan otak terkait Alzheimer berdasarkan pemeriksaan setelah kematian.
Temuan ini menarik perhatian karena demensia dan penyakit Alzheimer menjadi salah satu persoalan kesehatan yang semakin penting seiring bertambahnya usia populasi. Perempuan juga diketahui memiliki beban penyakit Alzheimer yang cukup besar, sehingga hubungan antara perubahan hormon, menopause, dan kesehatan otak terus menjadi perhatian para peneliti.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada 12 Agustus 2026 dalam Neurology, jurnal medis milik American Academy of Neurology. Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa terapi hormon dapat mencegah demensia atau penyakit Alzheimer.
Jennifer Bruno, PhD, dari Stanford Medicine, California, yang menjadi penulis penelitian, mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum temuan tersebut dapat menjadi dasar rekomendasi kepada perempuan mengenai penggunaan terapi hormon untuk menjaga kesehatan otak.
Menurut Bruno, penelitian tersebut melihat kembali penggunaan terapi hormon oleh perempuan beberapa dekade sebelumnya. Waktu mulai terapi dan jenis terapi yang digunakan para peserta juga berbeda dengan praktik medis yang berlaku saat ini.
Melibatkan Lebih dari 21.000 Perempuan
Peneliti menganalisis informasi medis dari dua kumpulan data besar yang secara keseluruhan mencakup 21.462 perempuan yang menjalani pemeriksaan klinis ketika masih hidup. Dari kelompok tersebut, sebanyak 728 perempuan menjalani pemindaian otak atau pemeriksaan biomarker selama hidup.
Sementara itu, 2.959 perempuan menjalani pemeriksaan otak setelah meninggal dunia. Usia rata-rata perempuan yang menjalani pemeriksaan setelah kematian tersebut sekitar 82 tahun. Para peserta dalam kedua kelompok dipantau selama sekitar tiga hingga lima tahun. Pada awal pemantauan, usia rata-rata peserta sekitar 71 tahun.
Secara keseluruhan, terdapat 1.953 perempuan yang pernah menggunakan terapi hormon, sedangkan 19.509 lainnya tidak menggunakannya. Menariknya, rata-rata perempuan dalam kelompok pengguna terapi hormon mulai menjalani terapi setelah berusia 70 tahun.
Penelitian ini secara khusus menganalisis terapi estrogen saja, bukan seluruh jenis terapi hormon menopause. Fokus ini penting karena terapi hormon dapat diberikan dalam beberapa bentuk. Salah satunya adalah kombinasi estrogen dan progestin. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi tersebut dapat memiliki hubungan yang berbeda dengan risiko demensia dibandingkan terapi estrogen saja.
Dalam praktik medis saat ini, terapi estrogen saja umumnya diberikan kepada perempuan yang telah menjalani histerektomi, yakni operasi pengangkatan rahim. Hal ini berkaitan dengan risiko kanker endometrium yang dapat meningkat ketika estrogen diberikan tanpa progestin kepada perempuan yang masih memiliki rahim.
Lebih Sedikit Tanda Alzheimer
Salah satu bagian penting dalam penelitian ini berasal dari pemeriksaan otak peserta setelah meninggal dunia. Pemeriksaan tersebut memungkinkan peneliti melihat secara langsung berbagai perubahan patologis yang menjadi ciri penyakit Alzheimer.
Peneliti mengevaluasi tiga karakteristik utama yang berkaitan dengan Alzheimer, yaitu plak amyloid-beta, kusut protein tau atau tau tangles, serta neuritic plaques. Neuritic plaques merupakan plak amyloid yang dikelilingi oleh sel-sel saraf yang mengalami kerusakan.
Ketiga karakteristik tersebut kemudian digabungkan menjadi sebuah ukuran untuk menilai tingkat perubahan patologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer di dalam otak. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok pengguna dan bukan pengguna terapi hormon.
Sebanyak 18 persen perempuan yang pernah menggunakan terapi hormon tidak menunjukkan tanda Alzheimer dalam pemeriksaan otak setelah meninggal. Angka tersebut dibandingkan dengan hanya 10 persen pada perempuan yang tidak pernah menggunakan terapi hormon.
Sebaliknya, 40 persen pengguna terapi hormon menunjukkan ketiga tanda utama Alzheimer, sedangkan proporsinya mencapai 51 persen pada perempuan yang tidak menggunakan terapi hormon. Setelah memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi risiko demensia dan Alzheimer, termasuk usia, tingkat pendidikan, faktor genetik, ras, dan hipertensi, penggunaan terapi hormon dikaitkan dengan 35 persen lebih rendahnya kemungkinan ditemukan tanda-tanda Alzheimer di otak.
Temuan tersebut memberikan petunjuk bahwa hubungan antara terapi estrogen dan kesehatan otak tidak hanya terlihat dari diagnosis klinis, tetapi juga dari perubahan biologis yang ditemukan di jaringan otak.
Penumpukan Amiloid Lebih Rendah
Peneliti kemudian melihat biomarker yang dikumpulkan ketika para peserta masih hidup. Hasil analisis menunjukkan bahwa perempuan yang pernah menggunakan terapi hormon memiliki kadar biomarker amyloid dalam darah dan cairan tulang belakang yang konsisten dengan penumpukan amiloid lebih rendah di otak.
Amyloid-beta merupakan protein yang berkaitan erat dengan proses penyakit Alzheimer. Dalam kondisi Alzheimer, protein tersebut dapat menumpuk dan membentuk plak di jaringan otak. Karena itu, pemeriksaan amyloid dalam darah maupun cairan serebrospinal dapat membantu peneliti memperkirakan proses penumpukan protein tersebut di otak. Temuan dalam penelitian ini memperlihatkan pola biomarker yang sejalan dengan hasil pemeriksaan otak setelah kematian.
Dengan kata lain, dua jenis bukti dalam penelitian tersebut biomarker yang diperoleh ketika peserta masih hidup dan pemeriksaan jaringan otak setelah meninggal, sama-sama menunjukkan pola yang berkaitan dengan lebih sedikitnya perubahan Alzheimer pada kelompok yang pernah menggunakan terapi estrogen saja. Namun, pola tersebut tetap tidak membuktikan bahwa estrogen merupakan penyebab langsung dari perbedaan tersebut.
Risiko Diagnosis Demensia Juga Lebih Rendah
Selain melihat perubahan biologis di otak, peneliti juga menganalisis kondisi kognitif para peserta. Penggunaan terapi hormon dikaitkan dengan 39 persen lebih rendahnya kemungkinan menerima diagnosis demensia. Perempuan yang pernah menggunakan terapi tersebut juga lebih kecil mengalami gangguan memori maupun penurunan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Temuan ini penting karena demensia tidak hanya ditandai oleh perubahan yang terjadi di dalam otak. Dalam kehidupan sehari-hari, penyakit tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengingat informasi, mengambil keputusan, berkomunikasi, hingga melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dikerjakan secara mandiri.
Dengan demikian, penelitian ini menemukan adanya hubungan antara penggunaan terapi estrogen saja dengan beberapa indikator sekaligus, mulai dari diagnosis demensia, fungsi kognitif, biomarker amyloid, hingga perubahan patologis yang ditemukan pada otak.
Estrogen memiliki berbagai fungsi biologis di dalam tubuh, termasuk berinteraksi dengan sistem saraf. Hormon ini diketahui memiliki reseptor di berbagai bagian otak dan dapat memengaruhi sejumlah proses yang berkaitan dengan fungsi neuron.
Penurunan kadar estrogen yang terjadi selama transisi menuju menopause telah lama menjadi perhatian dalam penelitian mengenai kesehatan otak perempuan. Perubahan hormonal tersebut dapat berhubungan dengan berbagai perubahan, termasuk fungsi kognitif, tidur, suasana hati, dan metabolisme otak. Namun, hubungan antara estrogen dan demensia jauh lebih kompleks daripada sekadar naik atau turunnya kadar hormon.
Usia ketika terapi dimulai, lamanya penggunaan, jenis hormon, dosis, kondisi kesehatan, serta faktor risiko lain dapat memengaruhi hasil terapi. Karena itu, temuan penelitian terbaru ini belum dapat diterjemahkan menjadi kesimpulan sederhana bahwa semakin banyak atau semakin lama seseorang menggunakan estrogen, semakin rendah pula risiko Alzheimer. hay
- Demensia
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
6 Cara Menjaga Kesehatan Otak Agar Terhindar dari Demensia di Masa Tua
-
Solok Punya Peran Strategis, Produksi Bawang 500 Ton Per Hari, Surplus 16 Juta Ton Beras
-
Kereta Api Sumatera Utara Mulai Gunakan BioSolar B50
-
Kemkomdigi: PP Judi Online Atur Peran Instansi dan Mitigasi Penanggulangan
-
Intip Rahasia SPPG Di Sumba dan Tasikmalaya, Jaga Standar Tinggi dan Dorong Pertanian Lokal
-
Bruce Willis Alami Demensia Berat, Kondisinya Kini Memprihatinkan!
-
Studi Ungkap Hampir Separuh Kasus Demensia Dapat Dicegah dengan Mengatasi Faktor Risiko
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.