Standar Halal Jadi Tantangan Inovasi Daging Kultur Sebagai Pangan Alternatif

Kamis, 12 Feb 2026, 01:00 WIB

MALANG – Inovasi daging kultur (lab-grown meat) sebagai alternatif protein masa depan terus menjadi diskursus hangat di bidang bioteknologi pangan. Meskipun menawarkan potensi besar bagi ketahanan pangan, aspek keamanan, efisiensi biaya, hingga kepastian regulasi halal menjadi faktor krusial sebelum teknologi itu diimplementasikan secara luas di Indonesia.

Pakar Bioteknologi sekaligus Dosen di Universitas Brawijaya, Mochamad Nurcholis, STP, MP, Ph.D., menegaskan bahwa kekhawatiran masyarakat mengenai risiko mutasi sel atau pemicu tumor pada daging kultur tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Menurutnya, sel yang dikonsumsi adalah sel otot yang sudah tidak hidup dan tidak bereplikasi, serupa dengan karakteristik sel pada daging konvensional setelah melalui proses pengolahan atau pemasakan.

Ket. Foto: Inovasi daging kultur (lab-grown meat) sebagai alternatif protein masa depan terus menjadi diskursus hangat di bidang bioteknologi pangan. — Sumber: istimewa

“Keamanan produk ini dijamin melalui kontrol ketat pada lini sel, monitoring stabilitas genetik selama proses kultur, serta prosedur panen yang membuat sel tidak aktif secara biologis,” ungkap Nurcholis saat diwawancara salah seorang mahasiswa Universitas Brawijaya, Edward Anugrah Angga, baru-baru ini seperti dikutip dari artikelnya.

Secara biologis, sel yang dikonsumsi manusia dari produk itu, tidak dapat berintegrasi dengan sel tubuh konsumen. Tantangannya jelas Nurcholis adalah dari ketersediaan di pasar. Dia menilai produksi massal dengan harga terjangkau di Indonesia belum realistis untuk dicapai dalam waktu dekat, setidaknya dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Hal itu karena masih tingginya biaya media kultur, besarnya investasi infrastruktur bioreaktor, serta perlunya regulasi khusus karena aturan yang ada saat ini belum memadai. Namun demikian, dalam jangka menengah hingga panjang, yakni sekitar 10 hingga 20 tahun, harga daging kultur diprediksi akan mulai kompetitif seiring dengan pengembangan media yang lebih efisien dan adanya transfer teknologi global.

Untuk tahap awal di Indonesia, produk itu kemungkinan besar akan menyasar segmen pasar premium (niche market).

Penggunaan FBS

Lebih lanjut Nurcholis mengatakan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah pemenuhan standar etika dan kehalalan, terutama terkait penggunaan Fetal Bovine Serum (FBS) dalam media tanam. Saat ini, industri bioteknologi jelasnya telah mengembangkan media kultur bebas unsur hewani (animal-free) berbasis protein nabati, ragi, maupun mikroalga yang lebih etis dan berpotensi memenuhi kriteria halal.

“Secara teknologi sudah memungkinkan untuk meninggalkan FBS, namun untuk konteks kehalalan di Indonesia tetap memerlukan fatwa khusus, audit sumber sel awal, dan konsistensi proses produksi sesuai prinsip syariah,” paparnya.

Dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan akademisi dan regulator diharapkan dapat menjembatani kehadiran teknologi daging kultur, agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat di masa depan.edu/E-9

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

Fulham Andalkan Serangan Balik untuk Atasi Kreativitas Chelsea 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat .

Gawat Teror Melanda Thailand Selatan! Puluhan Ledakan Terjadi Hanya dalam Sehari

Kegiatan melukis caping di Kota Solo

Kenapa Awan Makin Jarang Terlihat? BMKG Sebut Monsun Australia dan El Nino yang Jadi Penyebabnya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.