Stimulus Digelontorkan, Reformasi Investasi Masih Penentu Arah Ekonomi

Rabu, 04 Feb 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Perbaikan serius iklim investasi dan produktivitas sektor riil menjadi prasyarat utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui 5 persen. Arus investasi yang kuat hanya akan berdampak signifikan jika ditopang kepastian regulasi, efisiensi perizinan, dan biaya usaha yang kompetitif.

Di sisi lain, peningkatan produktivitas sektor riil, melalui penguatan sumber daya manusia (SDM), adopsi teknologi, dan infrastruktur pendukung, menentukan kemampuan ekonomi menciptakan nilai tambah berkelanjutan. Tanpa reformasi pada dua aspek ini, pertumbuhan berisiko bertahan di level moderat meski stimulus fiskal dan moneter terus digulirkan.

Ket. Foto: Prospek Perekonomian - Reformasi Investasi Kunci Hindari Jebakan Ekonomi 5 Persen — Sumber: istimewa

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengingatkan persoalan utama ekonomi Indonesia bukan sekadar mencapai angka pertumbuhan tahunan, melainkan menghindari jebakan pertumbuhan datar di kisaran 5 persen. “Tanpa perbaikan serius pada iklim investasi dan produktivitas sektor riil, penguatan di akhir tahun berisiko hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk menopang pertumbuhan ke depan,” kata Rizal saat dihubungi di Jakarta, Selasa (3/2).

Lebih lanjut, Rizal menjelaskan sepanjang 2025 hingga triwulan III, pola pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dasarnya masih berada dalam fase menjaga momentum, bukan memasuki fase akselerasi yang kuat. Setelah sempat melemah pada awal tahun, laju pertumbuhan kembali ke kisaran 5 persen pada triwulan II dan III.

Jika dibandingkan dengan capaian 2024, dia mengatakan kinerja itu lebih mencerminkan stabilisasi ekonomi ketimbang perbaikan struktural. Untuk triwulan IV 2025, menurut Rizal, terdapat ruang pertumbuhan yang sedikit lebih baik dibanding kuartal sebelumnya.

Namun, dirinya menilai kenaikan tersebut lebih tepat dibaca sebagai penguatan sementara. “Secara tahunan, pertumbuhan 2025 kemungkinan hanya meningkat tipis dan tetap berada di sekitar 5 persen, sehingga belum cukup kuat untuk disebut sebagai akselerasi ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Faktor Musiman

Jika ditelusuri dari sumber pertumbuhannya, dia memperkirakan dorongan pada akhir 2025 masih sangat kental dengan faktor musiman, terutama konsumsi rumah tangga menjelang akhir tahun serta realisasi belanja pemerintah. “Faktor-faktor ini lazim menopang kinerja jangka pendek, tetapi daya tahannya terbatas. Sementara itu, komponen yang seharusnya menjadi penopang jangka menengah dan panjang menunjukkan sinyal yang belum sepenuhnya meyakinkan,” kata Rizal menjelaskan.

Dia mencatat kinerja ekspor relatif solid dan membantu menjaga pertumbuhan, namun investasi belum menunjukkan penguatan yang konsisten. Menurutnya, melemahnya pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada paruh kedua 2025 menjadi sinyal bahwa kualitas pertumbuhan masih rapuh dan sangat bergantung pada stimulus temporer.

Dari sisi lapangan usaha, sektor-sektor yang berbasis konsumsi domestik dan mobilitas berpeluang tumbuh lebih tinggi pada triwulan IV, sejalan dengan pola musiman akhir tahun. Sepanjang 2025, beberapa sektor jasa diproyeksikan tetap menunjukkan kinerja positif dan menjadi penyangga pertumbuhan.

Namun, sektor pertanian dinilai berperan lebih sebagai penopang stabilitas harga dan daya beli, bukan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi secara agregat. Sementara tekanan paling nyata, menurut Rizal, terlihat pada sektor pertambangan, yang kinerjanya tertahan oleh normalisasi harga komoditas global dan faktor produksi.

Selain itu, industri pengolahan juga menghadapi tantangan karena belum kuatnya dorongan investasi dan ketidakpastian permintaan eksternal.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.