Lukisan Gua Tertua di Pulau Muna Ubah Sejarah Seni Manusia
Selasa, 03 Feb 2026, 06:57 WIBTEMUAN lukisan di gua karst Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, seakan mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Karya seni di dinding gua berupa cetakan tangan manusia yang ditemukan di kawasan ini kembali ditegaskan sebagai lukisan gua tertua yang pernah diketahui hingga kini.
Usianya yang mencapai sekitar 67.800 tahun menjadikannya lebih tua dibandingkan lukisan gua di wilayah mana pun di dunia. Temuan tersebut bukan hanya menambah khazanah arkeologi Indonesia, tetapi juga memaksa komunitas ilmiah global untuk meninjau ulang narasi lama tentang asal-usul seni dan budaya Âmanusia.
Lukisan itu ditemukan di sebuah gua batu kapur bernama Liang Metanduno, salah satu dari ratusan gua di kawasan karst Pulau Muna. Selama ini, gua-gua di wilayah tersebut relatif kurang dikenal dibandingkan kawasan karst MarosâPangkep di Sulawesi Selatan yang lebih dahulu mencuri perhatian dunia.
Berdasarkan hasil penanggalan lukisan gua di MarosâPangkep, Sulawesi Selatan, usia seni cadas di kawasan itu mencapai sekitar 51.200 tahun. Temuan tersebut sebelumnya telah mengubah pandangan ilmiah mengenai asal mula seni gua manusia dan menunjukkan bahwa masyarakat Asia Tenggara telah menciptakan seni figuratif lebih awal dibandingkan temuan serupa di Eropa.
Hasil analisis terbaru di Muna memperlihatkan bahwa pulau ini menyimpan bukti penting aktivitas manusia purba pada masa yang sangat awal. Lukisan yang ditemukan berupa stensil tangan, dibuat dengan teknik sederhana namun sarat makna simbolik.
Telapak tangan ditempelkan ke permukaan dinding gua, kemudian pigmen berwarna merah ditiupkan di sekelilingnya. Teknik ini menghasilkan siluet tangan yang jelas, sekaligus menjadi salah satu bentuk ekspresi visual paling awal yang dikenal dalam sejarah manusia.
âGambar tangan ini dibuat oleh seseorang yang menempelkan tangannya ke dinding dan kemudian menyemprotkan seteguk cat di sekitarnya,â kata Adam Brumm, arkeolog dari Universitas Griffith di Brisbane, Australia.
Stensil tersebut termasuk di antara ratusan lukisan hewan dan desain lainnya yang dibuat dengan oker dan arang di dinding gua Pulau Muna, yang berada di wilayah Sulawesi bagian timur Indonesia. Hal itu dilaporkan Brumm dan rekan-rekannya dalam publikasi ilmiah pada 21 Januari di jurnal Nature.
Menariknya, bentuk jari-jari pada cetakan tangan tersebut tampak tidak sepenuhnya alami. Beberapa jari terlihat lebih runcing atau memanjang, seolah sengaja dimodifikasi. Para peneliti menduga bentuk ini bukan kebetulan, melainkan representasi simbolik yang berkaitan dengan kepercayaan, ritual, atau identitas kelompok manusia purba yang mendiami kawasan tersebut.
âIni bukan sekadar cap tangan,â tulis para peneliti dalam publikasi ilmiah mereka. âAda indikasi kuat bahwa lukisan ini membawa pesan simbolik yang mencerminkan kemampuan kognitif dan budaya pembuatnya,â lanjut mereka.
Penentuan Usia
Usia lukisan ditentukan melalui metode penanggalan uranium-thorium, sebuah teknik ilmiah yang mengukur peluruhan unsur radioaktif pada lapisan kalsit yang terbentuk di atas permukaan lukisan. Lapisan mineral tersebut terbentuk secara alami selama ribuan tahun akibat tetesan air di dalam gua.
Hasil analisis menunjukkan bahwa lapisan kalsit itu berusia sekitar 67.800 tahun. Artinya, lukisan di bawahnya pasti dibuat sebelum atau setidaknya pada masa tersebut. Metode ini telah lama diakui dalam dunia arkeologi dan sebelumnya digunakan untuk menentukan usia lukisan gua di Spanyol serta Sulawesi Selatan. Dengan temuan ini, lukisan gua di Muna tercatat lebih tua dibandingkan seni cadas di Eropa yang selama puluhan tahun dianggap sebagai titik awal seni manusia.
Menggeser Pusat Sejarah Seni Dunia
Sepanjang abad ke-20, kajian arkeologi kerap menempatkan Eropa terutama Prancis dan Spanyol sebagai pusat lahirnya seni manusia purba. Lukisan gua di Lascaux dan Altamira menjadi ikon awal kreativitas manusia. Namun, temuan dari Indonesia, khususnya Sulawesi, secara bertahap menggugurkan pandangan yang bersifat euro-sentris tersebut.
Setelah lukisan gua di MarosâPangkep sempat mengejutkan dunia, temuan dari Pulau Muna kini semakin menegaskan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu pusat utama perkembangan seni manusia purba. Penemuan ini menunjukkan bahwa kemampuan artistik dan simbolik manusia tidak muncul secara tunggal di satu wilayah, melainkan berkembang secara relatif bersamaan di berbagai belahan dunia.
Petunjuk Migrasi
Keberadaan seni cadas berusia hampir 68 ribu tahun di Muna juga memiliki implikasi besar terhadap studi migrasi manusia modern (Homo sapiens). Pulau Muna berada di wilayah Wallacea, zona peralihan biogeografis antara Asia dan Australia yang secara geografis penuh tantangan.
âOrang-orang yang membuat seni paling awal di Sulawesi ini adalah bagian dari populasi manusia modern yang sama yang kemudian mengolonisasi Australia sekitar 65.000 tahun yang lalu,â kata Brumm.
Fakta bahwa manusia purba telah menghuni wilayah ini dan menghasilkan seni menunjukkan bahwa mereka bukan hanya mampu menyeberangi lautan dan beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga telah membangun kehidupan sosial dan budaya yang kompleks.
Seni, menurut para ahli, umumnya muncul dalam masyarakat yang telah memiliki struktur sosial, komunikasi simbolik, serta sistem kepercayaan. Dengan demikian, lukisan ini menjadi bukti bahwa manusia purba di Nusantara telah mencapai tahap perkembangan budaya yang tinggi jauh lebih awal dari dugaan sebelumnya.
Lebih dari Sekadar Lukisan
Lukisan gua di Liang Metanduno bukan sekadar artefak arkeologis, melainkan jejak awal kemanusiaan. Lukisan ini merekam momen ketika manusia mulai meninggalkan tanda keberadaannya bukan hanya melalui alat batu atau tulang belulang, tetapi lewat simbol dan seni.
Penemuan tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan manusia untuk mengekspresikan diri, memberi makna, dan berkomunikasi secara simbolik telah menjadi bagian dari identitas manusia sejak puluhan ribu tahun lalu.
Dari dinding gua Pulau Muna, dunia kini belajar bahwa akar seni dan budaya manusia tidak hanya tumbuh di Eropa, tetapi juga di Nusantaraâwilayah yang selama ini kerap berada di pinggiran peta sejarah global.
Gambar kuno tersebut juga membuka kemungkinan perbedaan kemampuan artistik antara Neanderthal dan manusia modern awal. Tahun lalu, stensil tangan yang dibuat oleh Neanderthal lebih dari 66.000 tahun lalu ditemukan di sebuah gua di Spanyol.
Meski termasuk karya seni paling canggih yang pernah dihasilkan Neanderthal, manusia modern awal memulai dengan stensil tangan dan kemudian menciptakan karya kompleks seperti lukisan di Gua Chauvet, Prancis, yang dipenuhi ratusan gambar rumit berusia antara 37.000 hingga 32.000 tahun. hay
- situs arkeologi
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Imunisasi Pelajar untuk Mencegah Potensi Wabah Penyakit
-
Persib Juara Liga 1, Ribuan Bobotoh Padati “Flyover” Pasupati
-
Misteri Tersembunyi di Laut Jayapura: 9 Harta Karun Perang Dunia II Terkuak, dari Tank Tenggelam hingga Sayap Pesawat Jepang!
-
Liburan Sekolah: KAI Jakarta Angkut Satu Juta Penumpang
-
Pramono Anung Sudah Memilih Para Wali Kota
-
Dua Raksasa Hutan Tropis, Indonesia-Brasil Bersatu Atasi Perubahan Iklim
-
Dukung Logistik Komoditas Strategis Nasional, PTP Nonpetikemas Perkuat Layanan Bongkar Muat Bijih Timah di Tanjung Pandan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.