Djokovic Akui Masa Depan Tak Pasti Usai Kalah di Final Australia Open

Senin, 02 Feb 2026, 09:03 WIB

MELBOURNE, AUSTRALIA — Novak Djokovic menyebut perjalanannya di dunia tenis sebagai “perjalanan yang luar biasa” setelah harus mengakui keunggulan Carlos Alcaraz pada final Australia Open, Minggu (1/2). Petenis Serbia berusia 38 tahun itu tumbang dalam empat set dari Alcaraz yang berusia 22 tahun di Rod Laver Arena, Melbourne.

Kekalahan tersebut membuat Djokovic masih tertahan di angka 24 gelar Grand Slam, sejajar dengan legenda tenis Australia Margaret Court, sekaligus terpaut satu gelar dari rekor sepanjang masa yang berdiri sendiri. Usai laga, mantan petenis nomor satu dunia itu mengakui dirinya tak pernah menyangka bisa kembali menembus final turnamen besar, seraya mengisyaratkan masa depannya yang kini penuh tanda tanya.

Ket. Foto: Novak Djokovic. — Sumber: AFP

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok, apalagi enam bulan atau 12 bulan ke depan,” ujar Djokovic. “Tapi ini benar-benar perjalanan yang luar biasa.”

Hubungan Djokovic dengan penonton Melbourne tak selalu berjalan mulus sepanjang kariernya. Namun kali ini, ia justru merasakan dukungan yang belum pernah ia alami sebelumnya. “Saya ingin mengatakan bahwa kalian, terutama dalam beberapa pertandingan terakhir, memberi saya sesuatu yang belum pernah saya rasakan di Australia,” katanya kepada penonton. “Begitu banyak cinta, dukungan, dan energi positif. Saya berusaha membalasnya dengan permainan tenis terbaik saya selama bertahun-tahun.”

Final ini menjadi partai puncak Grand Slam pertamanya sejak kalah dari Alcaraz di Wimbledon 2024. Djokovic pun mengaku terkejut bisa kembali berdiri di podium penutupan turnamen major. “Saya harus jujur, saya tidak menyangka akan kembali berada di upacara penutupan Grand Slam,” ujarnya. “Karena itu saya berutang rasa terima kasih kepada kalian semua yang telah mendorong saya sepanjang dua pekan terakhir.”

Gelar Grand Slam terakhir Djokovic diraih di US Open 2023. Sejak itu, dominasi tenis putra lebih banyak dipegang oleh Alcaraz, yang kini menjadi petenis nomor satu dunia, serta Jannik Sinner di peringkat dua. Meski demikian, Djokovic sempat menunjukkan ketangguhannya dengan menyingkirkan Sinner dalam laga semifinal lima set yang melelahkan. Ia pun menyebut keberhasilannya mencapai final sebagai “pencapaian luar biasa”.

“Tentu saja setelah kalah ada rasa pahit,” kata Djokovic, yang merupakan juara Australia Terbuka terbanyak dengan 10 gelar. “Namun saya tetap harus puas dengan hasil ini.” Menariknya, ini merupakan kekalahan pertamanya di final Australia Terbuka sepanjang karier.

Djokovic menilai kemenangan atas Sinner sebagai sesuatu yang memberi dorongan positif, meski belum sepenuhnya memuaskan ambisinya. “Itu memberi semangat, tapi bagi saya masih belum cukup,” ujarnya. “Saya akan terus mendorong diri sendiri dan melihat apakah saya mendapat kesempatan lain.”

Perjalanan Djokovic di Melbourne tahun ini juga diwarnai keberuntungan. Lawan putaran keempatnya, Jakub Mensik, mundur karena cedera, sementara di perempat final ia nyaris tersingkir sebelum Lorenzo Musetti terpaksa mengundurkan diri akibat cedera.

Dengan faktor usia dan cedera yang mulai membayangi, Djokovic mengakui telah menurunkan ekspektasinya dalam beberapa tahun terakhir. “Saya rasa itu membantu saya melepaskan stres yang tidak perlu,” katanya. “Dan jujur saja, rasanya cukup menyenangkan juga tidak selalu menjadi favorit utama untuk menjuarai Grand Slam.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.