• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Penerapan “Smart Agricu...

Penerapan “Smart Agriculture” Berbasis AI

Jumat, 30 Jan 2026, 07:09 WIB

LEBIH dari satu dekade lalu, Desa Melung, di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, merupakan wilayah yang terisolasi secara informasi dan masuk dalam kategori desa tertinggal. Letak geografisnya yang berbukit membuat sinyal seluler sulit menembus kawasan ini, sehingga akses terhadap informasi menjadi sangat terbatas.

Di bawah kepemimpinan lokal yang visioner, warga mulai menyadari bahwa tanpa internet, desa mereka akan selamanya menjadi objek pembangunan, bukan subjek. Kesadaran itu tumbuh secara bertahap dan mendorong masyarakat untuk membangun infrastruktur internet secara swadaya.

Ket. Foto: Desa Wisata Melung, Banyumas, Jawa Tengah. — Sumber: Antara/Wuryanti Puspitasari

Mereka memasang pemancar, menarik kabel melintasi hutan, hingga mendirikan server sendiri. Upaya ini melahirkan fenomena unik: para petani yang mengenakan caping dan menggenggam cangkul di pagi hari adalah orang yang sama yang mengakses informasi harga pupuk melalui situs desa pada sore hari.

Kini, pada 2026, Desa Melung telah bertransformasi secara signifikan. Desa ini bukan lagi sekadar desa yang “punya internet”, melainkan desa yang menguasai ekosistem data. Melalui portal transparansi desa, setiap rupiah Dana Desa dapat dipantau langsung oleh warga melalui ponsel mereka. Transparansi di Melung bukan lagi tuntutan, melainkan telah menjadi budaya.

Nama “Melung”, yang secara harfiah berarti suara nyaring atau teriakan yang menggema, menjadi metafora kuat bagi suara desa yang menuntut keseimbangan antara modernitas serta konservasi alam dan budaya.

Sebagai daerah penyangga air bagi wilayah Banyumas, warga Melung memegang komitmen untuk menjaga kelestarian hutan. Ada kesadaran kolektif bahwa internet boleh kencang, tetapi sumber mata air tidak boleh kering.

Di desa ini, kearifan lokal berpadu dengan teknologi sensor. Warga memanfaatkan perangkat berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi hutan dan debit mata air secara berkala. Jika terdeteksi anomali dalam serapan air, data tersebut akan segera memicu diskusi di grup komunikasi warga sebagai sistem peringatan dini.

Sinergi antara teknologi dan keberlanjutan juga terlihat pada sektor peternakan. Melung merupakan salah satu sentra penghasil susu sapi di Banyumas, yang menghasilkan limbah berupa kotoran ternak. Namun, alih-alih mencemari lingkungan, warga mengolah limbah tersebut dalam ekonomi sirkular.

Gas metana dari kotoran sapi yang berpotensi berdampak terhadap perubahan iklim kini diolah menjadi biogas, yang dialirkan ke dapur rumah tangga melalui pipa sederhana. Sementara itu, ampasnya dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan ladang sayuran warga.

Smart Agriculture

Memasuki pertengahan 2026, Desa Melung terus berevolusi di sektor teknologi pertanian. Pemerintah desa dan komunitas setempat kini tengah menjajaki pengembangan Smart Agriculture yang lebih canggih, dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi potensi serangan hama berdasarkan pola cuaca mikro di lereng Gunung Slamet.

Melung bukan sekadar kisah sukses teknologi. Ia adalah pengingat bahwa pembangunan paling berhasil adalah pembangunan yang dimulai dari perubahan cara berpikir manusia. Di Melung, teknologi tidak hadir untuk menggantikan budaya, melainkan untuk melindunginya.

Suara nyaring dari lereng Slamet ini akan terus bergema, mengingatkan bahwa masa depan Indonesia ada di desa, selama desa-desa tersebut berani berdaulat. Melung menjadi bukti bahwa Indonesia tidak membutuhkan seribu kota megah, negeri ini membutuhkan ribuan desa berdaulat. hay

  • “Smart Agriculture”

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.