• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Belajar dari Naskah Nusant...

Belajar dari Naskah Nusantara: Dompet Dhuafa Bedah Rahasia Filantropi Masa Lalu untuk Solusi Masa Kini

Kamis, 29 Jan 2026, 22:15 WIB

JAKARTA - Dompet Dhuafa bersama Lingkar Filologi Ciputat (LFC) menggelar diskusi bertajuk “Merawat Spirit Filantropi dan Keagamaan dalam Naskah Nusantara” pada Selasa (27/1/2026). Forum ini mengangkat isu filantropi dalam manuskrip Nusantara sebagai rujukan nilai untuk menjawab tantangan sosial masa kini.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Pembina Dompet Dhuafa sekaligus mantan Kepala BPIP Yudi Latif, Peneliti BRIN yang juga Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Agus Iswanto, serta Pengurus Manassa Rahmatia Ayu Widyaningrum. Acara ini dihadiri ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, peneliti, pegiat manuskrip, dan masyarakat umum.

Ket. Foto: Dompet Dhuafa bersama Lingkar Filologi Ciputat (LFC) menggelar diskusi bertajuk “Merawat Spirit Filantropi dan Keagamaan dalam Naskah Nusantara”. — Sumber: Istimewa

Direktur Lingkar Filologi Ciputat Muhamad Abror mengatakan, banyak naskah Nusantara yang merekam praktik filantropi dan nilai solidaritas sosial. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi ikhtiar untuk membedah persoalan kontemporer dengan berpijak pada kearifan lokal masa lalu.

"Ada banyak naskah Nusantara yang memuat isu filantropi. Semoga kolaborasi ini menjadi ikhtiar membahas persoalan masa kini dengan merujuk pada nilai-nilai lokal yang relevan," ujar Abror, Rabu (28/1/2026).

Pembina Lingkar Filologi Ciputat sekaligus Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, turut mengapresiasi kolaborasi ini. Ia menilai pendekatan lintas disiplin antara filologi dan filantropi menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak riset manuskrip.

"Ini bisa disebut filologi plus. Manuskrip tidak hanya dibahas secara akademik, tapi juga diintegrasikan dengan isu sosial seperti filantropi," kata Oman.

Program diskusi ini dirancang dengan sejumlah tujuan konkret. Tujuannya antara lain meningkatkan literasi filantropi berbasis naskah Nusantara, memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi, membangun jejaring antara akademisi dan praktisi filantropi, serta menyediakan arsip pengetahuan yang bisa dikembangkan menjadi publikasi lanjutan.

Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Pembina Yayasan Dompet Dhuafa dan Kurator Sasana Budaya Dompet Dhuafa Andi Makmur Makka, Pengawas Yayasan Dompet Dhuafa Yayat Supriyatna, Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Rahmad Riyadi, serta Kepala Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan Arsip Nasional RI Agus Santoso. Kehadiran lintas sektor ini mempertegas bahwa isu filantropi berbasis budaya tidak lagi jadi domain akademisi semata.

Dalam pemaparannya, Yudi Latif membawakan materi bertajuk "Membaca Peran Nusantara bagi Masa Depan Global". Ia menekankan pentingnya membaca warisan masa lalu sebagai bekal strategis dalam membangun peradaban masa depan.

"Kalau kita tidak mampu membaca warisan masa lalu, kita seperti meraba dalam gelap. Satu-satunya cara menyongsong masa depan adalah dengan membawa ingatan dan pelajaran dari masa lalu," ujar Yudi.

Sementara itu, Agus Iswanto membahas topik "Spirit Filantropi dan Kesadaran Ekologi: Belajar dari Manuskrip Kisah Kiai Kanugrahan Qomaruddin Gresik". Ia menyoroti bahwa naskah lama tidak hanya berbicara soal agama, tetapi juga memuat nilai kepedulian lingkungan dan solidaritas sosial.

Agus menilai manuskrip Nusantara menyimpan banyak praktik filantropi berbasis komunitas. Nilai-nilai tersebut dinilai masih relevan untuk diterapkan dalam konteks pengelolaan bantuan sosial dan pemberdayaan masyarakat modern.

Rahmatia Ayu Widyaningrum memaparkan materi "Lontara’ Pabbura dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Bugis". Ia menjelaskan bahwa naskah pengobatan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai catatan medis, tetapi juga sebagai pengetahuan bersama yang diwariskan lintas generasi.

Menurut Rahmatia, praktik berbagi pengetahuan kesehatan dalam masyarakat Bugis menunjukkan adanya tradisi filantropi berbasis pengetahuan. Pola ini memperlihatkan bahwa konsep berbagi tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga transfer ilmu dan keterampilan.

Dalam kesempatan yang sama, Oman Fathurahman menegaskan peran Nusantara dalam membentuk peradaban global sejak abad ke-8 Masehi. Ia menyebut Nusantara tidak hanya dipengaruhi dunia Arab, tetapi juga memberi pengaruh balik terhadap cara berpikir dan cara hidup masyarakat Arab.

"Narasi yang harus diubah adalah bukan dunia Arab yang satu arah mempengaruhi Nusantara. Justru Nusantara sudah memengaruhi cara berpikir, cara hidup, dan cara berpengetahuan masyarakat Arab," tegas Oman.

Ia menjelaskan, rekonstruksi sejarah Nusantara sebelum abad ke-14 tidak bisa hanya bertumpu pada manuskrip lokal. Sumber-sumber Arab-Persia seperti ‘Ajā’ib al-Hind dan Rihlah al-Sīrāfī menjadi rujukan penting dalam memahami posisi Nusantara dalam peta dunia Islam abad pertengahan.

Menurut Oman, karya para geografer dan pelancong Arab-Persia menggambarkan Nusantara sebagai wilayah strategis yang dikenal luas sebagai "negeri di bawah angin". Fakta ini menunjukkan bahwa Nusantara telah lama menjadi bagian dari jaringan global.

Melalui forum ini, Dompet Dhuafa menegaskan komitmennya untuk mengembangkan filantropi berbasis nilai budaya dan sejarah. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkaya praktik filantropi modern agar tidak terlepas dari akar identitas bangsa.

Kolaborasi antara lembaga filantropi dan komunitas filologi ini juga membuka ruang baru dalam pengembangan pengetahuan publik. Diskusi naskah tidak lagi berhenti di ruang akademik, tetapi mulai diarahkan menjadi solusi nyata bagi persoalan sosial masa kini.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.