Pertemuan Tokoh NU di Cirebon Dinilai Bermakna Strategis Jelang Muktamar ke-35
Rabu, 28 Jan 2026, 17:45 WIBKetua Pergunu Kabupaten Cirebon, H. Dasuki, menyampaikan bahwa pertemuan dua figur NU yang berlangsung Minggu, 25 Januari 2026, di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (Bima), Cirebon, memiliki makna strategis bagi dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35. Kehadiran Ketua Umum PP Pergunu KH. Asep Saifuddin Chalim di hadapan tuan rumah KH. Imam Jazuli serta ratusan kader Pergunu Jawa Barat dinilai melampaui agenda silaturahmi rutin organisasi.
Menurut Dasuki, pertemuan tersebut mencerminkan menguatnya diskursus arah kepemimpinan dan masa depan NU, khususnya terkait penguatan sumber daya manusia dan peran pesantren. Hal ini, kata dia, juga tidak terlepas dari hasil polling yang dirilis PadaSukaTV, yang menempatkan nama KH. Imam Jazuli dan KH. Asep Saifuddin Chalim dalam posisi teratas preferensi responden dari kalangan Nahdliyin.
âAngka dalam polling itu bisa dibaca sebagai ekspresi kegelisahan warga NU yang menginginkan kepemimpinan berbasis karya nyata dan kemandirian pesantren,â ujar Dasuki.
Ia menilai, perhatian publik terhadap kedua tokoh tersebut antara lain dipengaruhi oleh kesamaan pandangan mengenai transformasi sumber daya manusia (SDM). Dasuki menyebut, baik KH. Imam Jazuli maupun KH. Asep Saifuddin Chalim telah membangun sistem pendidikan pesantren yang relatif mapan, sehingga perhatian mereka kini lebih diarahkan pada penguatan kualitas kader NU agar mampu berperan di ruang-ruang strategis, baik nasional maupun global.
Dalam sambutannya pada pertemuan tersebut, Dasuki menyoroti penekanan kuat pada sektor pendidikan. Ia mencontohkan kiprah Pesantren Amanatul Ummah yang diasuh KH. Asep Saifuddin Chalim, yang dikenal mendorong santri melanjutkan studi ke berbagai perguruan tinggi unggulan, termasuk di luar negeri. Sementara itu, Pesantren Bina Insan Mulia di bawah asuhan KH. Imam Jazuli juga disebut aktif mengirimkan alumninya ke berbagai negara sebagai bagian dari pengembangan kapasitas global santri.
Keduanya, lanjut Dasuki, memiliki pandangan serupa mengenai pentingnya menghidupkan kembali peran NU melalui pendidikan berkualitas dan kaderisasi yang terstruktur. Pendidikan diposisikan sebagai fondasi utama untuk melahirkan kader NU yang tidak hanya kuat secara keagamaan, tetapi juga memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dasuki juga mengutip pernyataan KH. Imam Jazuli dalam forum tersebut yang menekankan perlunya NU memberi perhatian lebih besar pada penguatan kualitas hidup warga. âNU memang memiliki tradisi ritual yang penting, tetapi tantangan ke depan menuntut perhatian yang lebih serius pada pengembangan manusia yang masih hidup,â ujarnya.
Menurut Dasuki, pandangan tersebut menegaskan kebutuhan NU untuk bertransformasi, tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang mampu mendorong peningkatan kualitas SDM, kesejahteraan ekonomi, dan pola pikir yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Ia menambahkan, wacana yang berkembang dalam pertemuan tersebut juga dikaitkan dengan tantangan jangka panjang Indonesia, termasuk visi Indonesia Emas 2045. Dalam konteks ini, NU dipandang perlu memposisikan diri bukan sekadar sebagai objek politik, melainkan sebagai subjek pembangunan yang berperan dalam menyiapkan teknokrat, profesional, dan ilmuwan dengan latar nilai pesantren.
Dasuki menilai, perhatian publik terhadap figur-figur pesantren juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti kemandirian ekonomi pesantren, representasi wilayah, serta keseimbangan antara kapasitas intelektual dan spiritual. Faktor-faktor tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari diskursus yang wajar dalam proses menjelang Muktamar NU.
âPertemuan di Cirebon ini bisa dibaca sebagai momentum refleksi hubungan NU dengan akar pesantren. Ada harapan agar struktur organisasi tetap dekat dengan basis kulturalnya,â kata Dasuki.
Ia menegaskan bahwa dinamika tersebut menunjukkan keinginan sebagian warga NU terhadap kepemimpinan yang lahir dari rekam jejak pengabdian dan karya, bukan semata-mata posisi struktural. Menurutnya, diskursus ini akan terus berkembang seiring mendekatnya pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Tips Agar Tubuh Tetap Nyaman di Tengah Cuaca Panas Ekstrem
-
Pemotongan Anggaran Pemda, Semangat Tak Surut: Pemkot Tangerang Bidik Pembangunan Berkelanjutan
-
Pemkot Jakut Minta Kesiapsiagaan Bencana Ditingkatkan
-
Seabad NU, Menag Nasaruddin Umar Nilai NU Matang Siap Hadapi Tantangan
-
PBB Bandara Sentani Melonjak Tajam, Pemkab Jayapura Tetapkan Rp11,1 Miliar
-
PN Jakarta Pusat Vonis Dua Terdakwa TPPU 8 dan 10 Tahun Penjara
-
Kasus Ijazah Palsu Merebak, DPR Minta ANRI-KPU Jelaskan soal Alur Pengarsipan Ijazah Capres
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.