Connie Rahakundini Bakrie: Dunia Bukan Alami Krisis Sistem, Melainkan Krisis Kesadaran

Senin, 26 Jan 2026, 20:45 WIB

Jakarta — Krisis yang melanda berbagai kawasan dunia saat ini kerap dipersepsikan sebagai krisis sistem. Namun, pandangan tersebut dinilai keliru. Dunia, menurut akademisi Connie Rahakundini Bakrie, sejatinya tengah menghadapi krisis yang lebih mendasar, yakni krisis kesadaran manusia dalam membangun kehidupan bersama.

“Yang sedang terjadi bukan krisis sistem, melainkan krisis kesadaran—kesadaran untuk menciptakan kehidupan bersama yang berlandaskan keutuhan jiwa, keadilan hati, dan tujuan hidup yang utuh,” ujar Connie dalam Forum Praksis Seri ke-16 bertajuk Menjaga Kesadaran Menuju Negara Paripurna yang digelar di Jakarta, Sabtu (24/1).

Ket. Foto: — Sumber: Foto: Dok. Istimewa

Connie menjelaskan, sistem yang rusak relatif mudah diperbaiki melalui regulasi dan teknologi. Sebaliknya, kesadaran yang tumpul justru berpotensi melahirkan kekerasan yang dilegalkan atas nama hukum maupun kekuasaan. Karena itu, situasi global saat ini tidak semestinya dibaca sebagai tanda berakhirnya peradaban, melainkan sebagai undangan untuk melahirkan peradaban baru yang lebih berkesadaran, rendah hati, dan berbelas kasih.

Mengulas buku terbarunya From the Dream of Civilization to the Birth of a Conscious Nation, Guru Besar Universitas St. Petersburg, Rusia, itu menegaskan bahwa istilah conscious nation atau bangsa yang berkesadaran bukanlah konsep politik, melainkan konsep moral. Bangsa yang berkesadaran, menurutnya, adalah bangsa yang pemerintahannya sadar akan batas kekuasaan, hukum yang lahir dari nurani jernih, serta kepemimpinan yang bertumpu pada tanggung jawab batin.

Dalam konteks global, Connie menilai kehadiran pemimpin nasional di panggung dunia bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, kehadiran tersebut tidak boleh digerakkan oleh kegelisahan ego. “Pengaruh sejati tidak dicapai dengan melompat keluar dari diri sendiri, tetapi dengan menyelesaikan diri, hingga dunia tak punya pilihan selain mengakui,” katanya.

Ia menambahkan, sekuat apa pun sebuah negara, tanpa kesadaran warganya negara tersebut berisiko berubah menjadi mesin tanpa jiwa. Oleh karena itu, Connie menekankan pentingnya pendidikan, iman, dan formasi batin sebagai fondasi utama kehidupan bernegara—bahkan lebih penting dibandingkan regulasi atau teknologi semata.

Menurut Connie, abad ke-21 bukan lagi sekadar era membangun kota dan kekaisaran, melainkan masa untuk melahirkan bangsa-bangsa yang berkesadaran. Upaya tersebut, kata dia, mensyaratkan penerapan cura personalis, yakni kesediaan merawat manusia secara utuh. Tanpa pendekatan itu, negara hanya akan mencetak manusia yang efisien, tetapi kehilangan martabat.

Mengacu pada pemikiran Sukarno, Connie mengingatkan bahwa Presiden pertama Indonesia itu memimpikan lahirnya “kemanusiaan baru” pascakolonial—kemanusiaan yang tidak hanya berdaulat secara politik, tetapi juga berakar kuat pada kosmologi Nusantara. Sukarno, menurutnya, menghayati prinsip Tri Hita Karana serta Tri Tangtu di Buana yang menekankan keseimbangan moral antara manusia, alam, dan kekuasaan.

Dalam semangat itu, Connie mengutip pernyataan Sukarno bahwa “A nation is a soul, not a geography.” Melalui Pancasila, Sukarno memimpikan Indonesia sebagai negara paripurna—organisme politik yang dijiwai kesadaran moral dan spiritual.

Menutup paparannya, Connie mengajak publik untuk kembali memelihara keberanian bermimpi. “Bangsa-bangsa tidak akan bangkit melalui dominasi, tetapi melalui martabat batin—menuju peradaban yang dipandu oleh hati nurani, kerja sama, dan kasih,” ujarnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.