Kebun Teh Sirah Kencong, Tempat Merenung di Lereng Gunung Kawi
Jumat, 07 Agu 2026, 07:43 WIBBLITAR mungkin belum setenar Malang, Batu, Pasuruan, atau Banyuwangi sebagai tujuan wisata di Jawa Timur. Namun, kabupaten yang berada di bagian selatan Jawa Timur ini menyimpan bentang alam yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah kawasan Kebun Teh Sirah Kencong, sebuah hamparan hijau di lereng Pegunungan Kawi yang menawarkan kesejukan, panorama pegunungan, sekaligus jejak sejarah.
Dari pusat Kota Malang, Sirah Kencong dapat ditempuh melalui jalur menuju Kepanjen dan kemudian berlanjut ke wilayah Wlingi, Kabupaten Blitar. Perjalanan darat itu perlahan membawa wisatawan meninggalkan kepadatan kota menuju lanskap persawahan, perkebunan, hutan, dan perbukitan.
Secara geografis, Kabupaten Blitar berbatasan dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, Kabupaten Kediri di utara, dan Kabupaten Tulungagung di barat. Wilayah utaranya didominasi bentang pegunungan dan kawasan vulkanik, termasuk Pegunungan Kawi serta Gunung Kelud. Di kawasan lereng barat daya Gunung Kawi itulah Sirah Kencong berada.
Perkebunan teh ini terletak di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Luas areal perkebunan teh Sirah Kencong disebut mencapai sekitar 219,15 hektar, dengan kawasan perkebunan berada pada ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.
Ketinggian tersebut membuat udara Sirah Kencong terasa sejuk di siang hari dan dingin di malam dan pagi hari. Hamparan tanaman teh yang mengikuti kontur perbukitan membentuk lanskap hijau yang menjadi daya tarik utama kawasan ini.
Sirah Kencong merupakan bagian dari kawasan perkebunan teh yang dikelola PTPN XII melalui Kebun Bantaran. Pemerintah Kabupaten Blitar mencatat kawasan ini sebagai areal perkebunan teh yang berada di lereng barat daya Gunung Kawi. Di sini, teh bukan sekadar komoditas. Barisan tanaman yang tumbuh rapi di lereng-lereng bukit justru membentuk panorama yang membuat perkebunan berubah menjadi ruang rekreasi alami.
Makna Sirah Kencong
Nama Sirah Kencong memiliki cerita tersendiri. Secara etimologis, kata sirah dalam bahasa Jawa berarti kepala. Dalam konteks geografis, kata tersebut juga dapat dikaitkan dengan bagian hulu atau sumber air. Sementara itu, kencong kerap dikaitkan dengan kata Jawa Kuno kincang, yang bermakna berkilau, bercahaya, atau berkerlap-kerlip.
Dari penafsiran tersebut, Sirah Kencong kemudian dimaknai sebagai sumber air yang jernih atau berkilauan. Namun, penafsiran tersebut sebaiknya dipahami sebagai salah satu penjelasan etimologis, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah sepenuhnya terverifikasi.
Yang lebih pasti, nama Sirah Kencong telah menjadi penanda kawasan. Nama tersebut kemudian melekat pada perkebunan, air terjun, hingga situs budaya yang berada di dalam kawasan yang sama.
Di tengah perkebunan teh bahkan terdapat Candi Sirah Kencong. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar menyebut nama candi tersebut diambil dari nama lokasi tempatnya berada. Situs itu berada pada kawasan perkebunan teh di lereng Pegunungan Kawi.
Dengan demikian, Sirah Kencong bukan hanya cerita tentang teh. Ia juga menyimpan lapisan sejarah dan kebudayaan yang membuat kawasan ini lebih kaya daripada sekadar hamparan perkebunan.
Perjalanan Menuju Negeri Teh
Perjalanan menuju Sirah Kencong sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman wisata. Bagi wisatawan yang datang dari Malang, perjalanan dapat dilakukan menggunakan kendaraan pribadi. Alternatif lainnya adalah menggunakan kereta api menuju Wlingi, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju kawasan perkebunan.
Perjalanan dengan kereta menawarkan pengalaman tersendiri. Lanskap perkotaan perlahan berganti menjadi persawahan, pepohonan, perbukitan, dan kawasan perdesaan. Setelah tiba di Wlingi, perjalanan berlanjut menuju dataran yang semakin tinggi.
Jalan menuju Sirah Kencong membawa wisatawan melewati lanskap pedesaan yang masih hijau. Pada sejumlah bagian perjalanan, hamparan sawah, perkebunan, hutan, serta kawasan peternakan menjadi pemandangan yang menemani perjalanan.
Semakin mendekati kawasan perkebunan, kontur jalan semakin menanjak dan udara mulai terasa lebih dingin. Pepohonan yang rimbun memberikan keteduhan. Ketika kawasan permukiman mulai jarang, suasana perjalanan berubah. Hiruk-pikuk kendaraan dan aktivitas kota perlahan menghilang, digantikan suara angin dan kehidupan alam.
Perjalanan itu seolah menjadi transisi: dari ruang urban menuju ruang pegunungan. Dan ketika hamparan tanaman teh mulai terlihat, perjalanan panjang tersebut menemukan jawabannya.
Hamparan Teh di Atas Perbukitan
Begitu memasuki kawasan perkebunan, warna hijau menjadi pemandangan dominan. Tanaman teh tumbuh rapat mengikuti lekuk perbukitan. Dari beberapa titik yang lebih tinggi, hamparan tersebut terlihat seperti karpet hijau yang dibentangkan di antara pegunungan.
Pemandangan inilah yang menjadi daya tarik utama Sirah Kencong. Bagi pengunjung yang terbiasa dengan suasana urban, berada di tengah perkebunan teh memberikan pengalaman yang berbeda. Tidak ada gedung tinggi yang memenuhi pandangan. Tidak ada kemacetan atau deru kendaraan yang terus-menerus terdengar.
Sebaliknya, pengunjung dapat menikmati suara angin, burung, serangga, serta aktivitas para pekerja perkebunan. Udara dingin menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman tersebut. Semakin pagi atau menjelang sore, suhu terasa semakin rendah sehingga pakaian hangat menjadi perlengkapan yang layak dibawa.
Pada pagi hari, kabut juga dapat muncul di antara perbukitan. Ketika matahari mulai meninggi dan kabut perlahan terangkat, hamparan tanaman teh muncul sedikit demi sedikit. Momen seperti ini membuat Sirah Kencong memiliki daya tarik fotografi yang kuat.
Barisan tanaman teh, jalan setapak, pepohonan, bukit, dan kabut dapat menjadi komposisi alami yang tidak membutuhkan banyak tambahan dekorasi. Bahkan, pada waktu tertentu, kawasan ini juga menjadi lokasi untuk menikmati matahari terbit. DetikTravel pernah mencatat Sirah Kencong sebagai salah satu lokasi berburu sunrise di Blitar, dengan matahari yang tampak muncul di antara perbukitan.
Secangkir Teh dan Sepiring Pecel
Menikmati udara dingin tentu terasa lebih lengkap jika ditemani makanan dan minuman hangat. Di kawasan Sirah Kencong terdapat warung yang menawarkan makanan khas pedesaan, salah satunya nasi pecel. Salah satu warung yang pernah menjadi rujukan kuliner di kawasan tersebut adalah Warung Nasi Bu Tia, yang menyajikan nasi pecel dalam suasana dataran tinggi dengan pemandangan perkebunan teh.
Nasi pecel menjadi menarik bukan hanya karena rasanya, tetapi karena suasana ketika menyantapnya. Sepiring nasi, sayuran, sambal kacang, dan lauk sederhana terasa berbeda ketika disantap di tengah udara dingin pegunungan. Apalagi jika ditemani segelas teh hangat.
Teh tersebut memiliki hubungan langsung dengan kehidupan perkebunan. Kebun Sirah Kencong tidak hanya menghasilkan daun teh sebagai komoditas, tetapi juga memiliki produk teh olahan yang dikenal dengan merek Ken Tea. Pemerintah Kabupaten Blitar mencatat produk tersebut sebagai salah satu hasil unggulan perkebunan.
Dengan meminum teh dari jenama lokal itu pengalaman wisata terasa lebih lengkap. Wisatawan tidak hanya melihat tanaman teh dari kejauhan, tetapi juga dapat menikmati hasil perkebunan dalam bentuk minuman dan produk olahan. hay
- Kebun Teh Sirah Kencong
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.