Rupiah Masih Tertekan, 21 Januari 2026

Rabu, 21 Jan 2026, 08:50 WIB

JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan seiring sikap investor yang cenderung wait and see menjelang kejelasan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Ketidakpas­tian arah kebijakan moneter membuat pelaku pasar mena­han transaksi besar dan memilih posisi defensif. 

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong melihat kegamangan BI membuat rupiah rentan terhadap senti­men global jangka pendek. Selain itu, lanjutnya, kabar pencalonan keponakan Presiden Prabowo Subianto seba­gai Deputi Gubernur BI dinilai memicu kekhawatiran pe­laku pasar terhadap independensi bank sentral.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Karenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah ter­hadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antar­bank, Selasa (20/1), bergerak di kisaran 16.900-17.000 ru­piah per dollar AS dengan kecenderungan melemah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada pembukaan perda­gangan di Jakarta, Selasa (20/1), bergerak melemah 1 poin atau 0,01 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.956 rupiah per dollar AS.

“Pelemahan kurs rupiah tertahan revisi atas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dan 2027 yang membaik,” ujar pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi.

Dia menambahkan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dan 2027 akan bertengger di level 5,1 persen, sedikit lebih tinggi dari estimasi 2025 yang tumbuh 5 persen. Pro­yeksi terbaru ini juga merevisi ke atas ramalan sebelumnya di Oktober 2025.

Proyeksi untuk 2026 lebih tinggi 0,2 persen dan untuk 2027 lebih tinggi 0,1 persen.

Revisi ke atas ini beriringan dengan laju pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 yang naik prospek pertumbuh­an menjadi 3,3 persen, dari sebelumnya hanya 3,1 persen Oktober 2025.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.