Pelatih Senegal Belum Rela Kehilangan Sadio Mane, Pape Thiaw Tegaskan Penolakan Pensiun
Selasa, 20 Jan 2026, 15:40 WIBJAKARTA - Keputusan Sadio Mane untuk mengakhiri karier bersama tim nasional Senegal masih memicu perdebatan di negaranya. Pelatih Senegal, Pape Thiaw, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana sang bintang yang ingin menutup kiprah internasionalnya dalam waktu dekat.
Mengutip laporan ESPN, Thiaw menegaskan dirinya akan melakukan segala cara untuk membujuk Mane agar tetap mengenakan seragam Singa Teranga. Menurutnya, kontribusi Mane di Piala Afrika masih menunjukkan bahwa sang penyerang berada di level tertinggi.
Dalam turnamen tersebut, Mane mencatatkan performa krusial dengan sumbangan dua gol dan tiga assist. Perannya juga sangat menentukan saat Senegal menghadapi Maroko di laga final yang digelar di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat.
Sebelumnya, Mane sempat mengungkapkan niat menjadikan Piala Afrika ini sebagai turnamen terakhirnya bersama tim nasional. Meski demikian, pemain berusia 33 tahun itu masih berkomitmen untuk tampil di Piala Dunia FIFA sebelum benar-benar mengakhiri perjalanan panjangnya bersama Senegal.
Pernyataan tersebut memicu reaksi emosional dari Thiaw. Ia menegaskan bahwa keputusan pensiun Mane bukan hanya urusan pribadi sang pemain.
âNegara ini tidak setuju, dan saya juga tidak setuju,â ujar Thiaw. Ia menilai Mane adalah representasi Senegal di level dunia dan menjadi milik rakyat, bukan semata-mata individu.
Bagi Thiaw, Mane bukan sekadar pemain bintang, melainkan sosok teladan di dalam dan luar lapangan. Ia menyoroti dedikasi, kerendahan hati, serta pengorbanan Mane dalam membawa Senegal meraih berbagai pencapaian bersejarah, termasuk lolos ke Piala Dunia 2022 dan menjuarai Piala Afrika untuk pertama kalinya.
Sejak menjalani debut internasional pada 2012, Mane memang menjadi simbol kebangkitan sepak bola Senegal. Ia berperan besar dalam keberhasilan tim mencapai final Piala Afrika 2019, sebelum akhirnya meraih gelar juara beberapa tahun kemudian usai mengalahkan Mesir melalui adu penalti.
Di level klub Eropa, prestasi Mane juga terbilang lengkap dengan raihan gelar Liga Champions, Liga Inggris, serta dua penghargaan Pemain Terbaik Afrika. Konsistensinya membawa Senegal tampil di tiga Piala Dunia secara beruntun semakin mengukuhkan statusnya sebagai legenda hidup sepak bola Afrika.
Pujian serupa turut datang dari rekan setimnya, Moussa Niakhate. Ia menilai kontribusi Mane bagi sepak bola Senegal dan Afrika terlalu besar untuk diabaikan.
âSadio Mane adalah pemain luar biasa dan pantas mendapatkan pengakuan tertinggi,â ujar Niakhate, seraya menegaskan bahwa konsistensi Mane tampil di enam edisi Piala Afrika menjadi bukti dedikasi yang jarang dimiliki pemain lain.
- Piala Afrika
- Sadio Mane
- senegal
- piala afrika 2025
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Muhammad Daniel Ramadhan
Berita Terkait:
-
Tes Kemampuan Akademik Siswa SD Dijadwalkan April 2026
-
Menteri PPPA Peringati Hari Ibu Lewat Bakti Sosial di Muara Angke
-
Piala Afrika: Mesir Singkirkan Juara Bertahan Pantai Gading, Nigeria Tantang Maroko di Semifinal
-
Pertamina Internasional EP Lepas Pengapalan Perdana 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair ke Indonesia
-
Menteri PPPA Dorong Kaum Perempuan Berpartisipasi Awasi Jalannya Pemilu
-
Pangkormar Anjangsana ke Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa
-
Piala Afrika 2025: Mali secara Dramatis Lolos ke Perempat Final Ikuti Jejak Senegal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.