SPPG Makan Bergizi Gratis di Mataram Diminta Olah Sampah Organik dengan Tempah Dedoro
Sabtu, 17 Jan 2026, 17:19 WIBPemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menginstruksikan semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan di Kota Mataram buat "tempah dedoro" untuk mengolah sampah organik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Sabtu, mengatakan, satu SPPG minimal membuat tiga unit "tempah dedoro" dengan kedalaman minimal 1,5 meter dan diameter 9-95 centimeter.
"Jumlah itu akan kami evaluasi, kalau ternyata kurang akan disarankan penambahan," katanya.
Ia mengatakan, apabila setiap SPPG MBG membuat "tempah dedoro" maka volume sampah yang akan dibuang ke tempat penampungan sementara (TPS) juga bisa berkurang hingga 60 persen.
Pasalnya, dari pendataan volume sampah di setiap SPPG mencapai 100 kilogram sampai 300 kilogram per hari dan 60 persennya merupakan sampah organik.
Sementara sisanya merupakan sampah dari kardus karena SPPG membeli bahan baku dalam jumlah besar sehingga bisa dikumpulkan untuk dijual, begitu juga dengan sampah plastik berupa gelas atau botol air mineral dan minuman lainnya.
"Dengan demikian, sampah yang akan diangkut petugas ke TPS hanya residu atau sampah yang sudah tidak bisa diolah dan tidak memiliki nilai ekonomi," katanya.
Kewajiban SPPG MBG menyediakan "tempah dedoro", katanya, sudah diinstruksikan langsung melalui rapat koordinasi dengan puluhan SPPG MBG se-Kota Mataram, dan mereka sudah menyatakan siap.
Kepemilikan "tempah dedoro" sebagai wadah pengolahan sampah organik secara mandiri di setiap SPPG menjadi kewajiban dan pihaknya akan melakukan kunjungan langsung ke setiap SPPG bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kota Mataram.
"Bahkan kepemilikan 'tempah dedoro' di setiap SPPG akan menjadi syarat pengeluaran izin operasional SPPG MBG," katanya.
Sistem pengolahan sampah melalui "tempah dedoro" dibuat dengan menggunakan buis beton dan penutup serta diberi lubang untuk membuang sampah organik dengan kedalaman minimal 1,5 meter dan diameter 90-95 sentimeter.
Melalui wadah tersebut, SPPG MBG bisa mengolah sampah organik secara mandiri dan satu "tempah dedoro" bisa digunakan hingga satu tahun.
Sementara untuk menghilangkan aroma dari sampah organik dan sisa makanan, bisa menyemprotkan cairan EM4 atau menggunakan air bekas cuci beras untuk mempercepat penguraian.
"Setelah sampah organik terurai dalam waktu sekitar satu tahun, SPPG bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman di sekitar dapur MBG."Â
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Menko Zulhas Tegaskan Sanksi Sampah Open Dumping, Masyarakat Akan Diberi Insentif Lewat Sistem Baru
-
Harga Pangan Hari Ini, Jumat (19/6): Cabai Rawit Merah Tembus Rp100.000 per Kg, Telur Ayam Rp29.700 per Kg
-
Wali Kota Agustina Pastikan Stabilitas Pangan Terjaga, Kenaikan Harga Sayur Diantisipasi Melalui Kempling Semarang
-
KPK Dalami Pembelian Sistem ATG di Proyek Digitalisasi SPBU Pertamina, Pejabat PT Sempurna Global Diperiksa
-
Iran Lancarkan Rudal ke Bahrain dan Kuwait setelah Diserang AS
-
Harga Emas Ngulet Rp18.000
-
Pengelolaan Sampah Lebih Ramah Lingkungan, TPA Antang Dibangun dengan Sistem Sanitasi Landfill.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.