Kemiskinan Jadi PR Besar, Tahun Ini Pemerintah Pasang Fokus Utama
Sabtu, 17 Jan 2026, 09:20 WIBJAKARTA â Pengentasan kemiskinan bukan sekadar urusan angka di laporan atau grafik di meja rapat. Ini soal bagaimana orang bisa hidup lebih layak, punya penghasilan yang cukup, dan tak lagi harus memilih antara makan hari ini atau kebutuhan besok.
Karena kemiskinan bukan cuma tentang kurang uang, tapi juga terbatasnya akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang kerja.
Upaya mengurangi kemiskinan jadi penting karena dampaknya menyentuh banyak sisi kehidupan. Saat masyarakat punya penghasilan yang lebih stabil, roda ekonomi ikut bergerak.
Anak-anak bisa sekolah dengan tenang, orang tua bisa bekerja lebih produktif, dan lingkungan pun tumbuh lebih sehat. Perlahan, rasa cemas soal kebutuhan dasar bisa digantikan dengan harapan.
Pengentasan kemiskinan juga tak bisa dilakukan dengan cara instan. Dibutuhkan kolaborasiâantara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakatâagar bantuan tidak hanya bersifat sementara, tapi mampu menciptakan kemandirian.
Pelatihan kerja, dukungan usaha kecil, hingga akses permodalan yang adil menjadi bagian penting dari proses ini.
Singkatnya, mengentaskan kemiskinan bukan semata soal memberi bantuan, melainkan membuka jalan. Jalan agar setiap orang punya kesempatan yang sama untuk bangkit, berkembang, dan menjalani hidup dengan lebih bermartabat.
Karena ketika kemiskinan berkurang, bukan hanya satu kelompok yang diuntungkan, tapi seluruh masyarakat ikut melangkah maju.
Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) Eka Chandra Buana menegaskan pengentasan kemiskinan menjadi fokus utama kebijakan pembangunan nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026.
âPermasalahan kemiskinan menjadi salah satu isu prioritas pemerintah saat ini,â ujarnya di Jakarta, Jumat (17/1).
Pemerintah disebut sedang memperkuat upaya penyaluran bantuan sosial yang lebih tepat sasaran melalui digitalisasi bantuan sosial, dengan didukung Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Selain itu, lanjutnya, pemerintah meluncurkan Kartu Kesejahteraan untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat miskin serta Kartu Usaha Afirmatif yang ditujukan bagi pemberdayaan masyarakat, termasuk melalui pelatihan keterampilan dan perluasan akses permodalan.
Dalam jangka menengah-panjang, pembangunan kualitas sumber daya manusia dari keluarga miskin diperkuat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat, sebagai upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
âSebagai bentuk komitmen nasional, Presiden telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, yang menjadi landasan penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga,â ungkap Eka Chandra.
Di sisi lain, dia mengatakan bencana alam di wilayah Sumatera menambah tantangan baru dalam penanggulangan kemiskinan.
Karena itu, pemerintah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatera. Satgas ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, berfokus pada pemulihan sosial, ekonomi, serta ketahanan pangan yang terkait erat dengan pengentasan kemiskinan.
âDalam konteks tersebut, pemerintah tidak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak bencana, tetapi juga memberikan dukungan pemulihan ekonomi, termasuk bantuan bagi warga yang kehilangan modal usaha akibat banjir di Sumatera,â kata dia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
MGBKI Desak Audit Independen Kasus Dokter Magang Meninggal Dunia sat Dirawat di RSMH Palembang
-
Strategi Jitu Pemkab Lebak Tekan Angka Kemiskinan dengan Perkuat UMKM
-
Messi Tinggalkan Laga MLS karena Cedera, Argentina Dihantui Kekhawatiran Jelang Piala Dunia
-
Liga Inggris: Tottenham Selamat, West Ham Terdegradasi di Hari Perpisahan Guardiola dan Salah
-
Pemkab Lebak Olah Sampah Jadi RDF 50 Ton per Hari, Berpotensi Hasilkan Rp450 Juta per Bulan
-
Pelemahan Rupiah Tekan Biaya Produksi Industri, Penguatan Rantai Pasok Lokal Tak Bisa Ditunda
-
Harkitnas Harus Jadi Momentum Reflektif Bangsa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.