Selandia Baru: 19 Kapal Tanker 'Armada Bayangan' di Kepulauan Cook Diduga Selundupkan Minyak untuk Russia dan Iran pada 2024

Kamis, 15 Jan 2026, 14:40 WIB

KEPULAUAN COOK - Sebuah "armada bayangan" terdiri dari 19 kapal tanker yang diduga menyelundupkan minyak untuk Russia dan Iran dicatat oleh Selandia Baru bersama otoritas Kepulauan Cook pada tahun 2024, menurut daftar rahasia yang diperoleh AFP.

Kepulauan Cook di Pasifik merupakan rumah bagi registrasi kapal internasional yang berkembang pesat, yang memungkinkan kapal asing berlayar di bawah benderanya dengan biaya yang relatif murah, hanya beberapa ribu dollar.

Ket. Foto: Kapal tanker Eagle S yang ditahan di Finlandia untuk penyelidikan kerusakan kabel terdaftar sejak tahun 2023 di Kepulauan Cook. — Sumber: Finnish Border Guard

Banyak bukti bahwa kepulauan ini telah menjadi tempat perlindungan bagi penyelundup asing, yang berlayar di bawah bendera Kepulauan Cook untuk menghindari pengawasan karena melanggar sanksi Barat.

Para pejabat Selandia Baru pada tahun 2024 menyusun daftar 19 kapal tanker -- atau "kapal yang menjadi perhatian" -- yang telah terdaftar di Kepulauan Cook dalam beberapa tahun terakhir.

Daftar tersebut termasuk Arabesca, sebuah kapal tanker minyak mentah yang sering singgah di pelabuhan Russia di Laut Baltik.

Kapal Arabesca pada tahun 2025 masuk daftar hitam oleh Inggris, Kanada, Swiss, dan Uni Eropa karena menyelundupkan minyak Russia.

Kapal lain yang juga masuk daftar hitam Selandia Baru adalah Maruti, sebuah kapal tanker kimia yang sering terlihat berlayar di Teluk Persia.

Menurut pemberitahuan sanksi AS yang diterbitkan pada bulan Desember, Maruti mengangkut "ratusan ribu barel" bahan bakar nafta Iran saat berlayar di bawah bendera Kepulauan Cook pada tahun 2025.

Baik Arabesca maupun Maruti telah dihapus dari daftar kapal Kepulauan Cook.

Kepulauan Cook tampaknya mengabaikan kekhawatiran Selandia Baru tentang beberapa kapal lain.

Dari 19 kapal yang diincar oleh Selandia Baru pada tahun 2024, tujuh di antaranya masih terdaftar di Kepulauan Cook hingga pertengahan Januari tahun ini.

Termasuk kapal tanker Bonetta dan Ocean Wave, yang dicurigai Amerika Serikat mengangkut minyak mentah dari Iran.

AFP tidak dapat menghubungi pemilik kapal Arabesca, Maruti, Bonetta, dan Ocean Wave untuk dimintai komentar.

Daftar Selandia Baru, yang dirilis kepada AFP berdasarkan undang-undang kebebasan informasi, telah dibahas dengan Kepulauan Cook melalui jalur diplomatik pada tahun 2024.

Armada Bayangan 

Sanksi Barat bertujuan untuk mengekang Iran dan Russia yang mengambil keuntungan dari penjualan minyak, membatasi pendanaan untuk program nuklir Teheran atau mesin perang Moskow.

Selandia Baru menuduh Kepulauan Cook telah dieksploitasi oleh jaringan penyelundupan maritim transnasional yang dikenal sebagai "armada bayangan".

Dengan mendaftarkan kapal di tempat-tempat seperti Kepulauan Cook -- di mana mereka dikenai pemeriksaan yang kurang ketat -- kapal armada bayangan dapat menyamarkan diri sebagai kapal yang sah.

Seringkali, badan pendaftaran kapal tidak menyadari tujuan sebenarnya dari kapal tersebut.

Keterkaitan Kepulauan Cook dengan penghindaran sanksi merupakan sumber potensi rasa malu bagi Selandia Baru, yang pernah memerintah negara Pasifik berpenduduk sekitar 15.000 jiwa tersebut.

Selandia Baru tetap menjadi mitra diplomatik terdekat Kepulauan Cook dan masih memiliki tanggung jawab konstitusional untuk membantu urusan luar negeri dan pertahanan.

"Selandia Baru telah menyampaikan kekhawatiran serius secara langsung kepada pemerintah Kepulauan Cook tentang pengelolaan registrasi kapal mereka, termasuk pendaftaran kapal armada bayangan," kata departemen luar negeri Selandia Baru.

Mantan perwira Angkatan Laut Kerajaan Selandia Baru, Mark Douglas, mengatakan sekitar 150 kapal tanker asing terdaftar di Kepulauan Cook pada puncak kesibukannya di tahun 2024.

"Pada puncaknya, tampaknya memang ada praktik 'bayar untuk bermain'," kata Douglas, yang sekarang menjadi analis untuk Starboard Maritime Intelligence.

"Jika Anda datang dengan dokumen yang bagus dan cek-nya sudah cair, Anda bisa mendapatkan bendera Kepulauan Cook."

Kepulauan Cook sejak itu telah mencabut pendaftaran banyak kapal yang paling mencurigakan, kata Douglas, tetapi masih ada "beberapa yang masih menimbulkan pertanyaan".

Organisasi Maritim Internasional yang didukung PBB saat ini mencantumkan 40 kapal tanker yang terdaftar di Kepulauan Cook.

Kepulauan Cook menawarkan apa yang dikenal sebagai "bendera kemudahan".

Artinya, pemilik kapal asing bisa membayar untuk berlayar di bawah bendera tersebut tanpa pernah menginjakkan kaki di kepulauan itu, yang terletak di tengah-tengah antara Selandia Baru dan Hawaii.

"Banyak kapal armada bayangan menggunakan bendera kemudahan dari negara-negara yang cenderung kurang atau tidak mampu menegakkan sanksi Barat," catat sebuah laporan Parlemen Eropa dari tahun 2024.

Kepulauan Cook adalah salah satu "negara-negara teratas yang benderanya digunakan oleh kapal tanker bayangan yang mengangkut minyak mentah Russia", menurut laporan tersebut.

Berkembang Pesat 

Jurnal pelayaran Lloyd's List pada tahun 2024 menobatkan Maritime Cook Islands sebagai "registrasi dengan pertumbuhan tercepat" di dunia.

Meskipun biaya Kepulauan Cook tidak transparan, pendapatan yang dihasilkan dari lisensi pelayaran relatif kecil.

Dokumen anggaran Kepulauan Cook memperkirakan pendaftaran pelayaran akan menghasilkan sekitar US$50.000 tahun ini.

Maritime Cook Islands tidak menanggapi permintaan komentar.

Badan registrasi pelayaran tersebut sebelumnya membantah bahwa mereka gagal melakukan pemeriksaan yang sesuai.

"Daftar kapal Kepulauan Cook tidak pernah menampung kapal yang dikenai sanksi," kata Maritime Cook Islands kepada AFP pada November tahun lalu.

"Kapal-kapal yang dikenai sanksi akan dihapus."

  • Selandia Baru

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.