Pakar Ramai-ramai Tanggapi Pelaporan Komika Pandji Pragiwaksono ke Polisi

Senin, 12 Jan 2026, 06:06 WIB

SURABAYA - Pelaporan pencemaran nama baik Komika Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya baru-baru ini terkait materi dalam pertunjukan stand up comedy "Mens Rea" yang ditayangkan di Netflix, mengundang reaksi pro-kontra dari masyarakat serta beragam tanggapan oleh berbagai pihak. 

Sejumlah pengamat yang dihubungi Koran Jakarta, mengungkapkan keprihatinannya atas kasus tersebut. 

Ket. Foto: Komika Pandji Pragiwaksono saat tampil dalam "Mens Rea". — Sumber: Istimewa

Pakar komunikasi politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Suko Widodo, mengatakan, seharusnya pemerintah mampu menunjukan ruang kebebasan berekspersi dalam menghadapi kritik-kritik yang bermunculan, termasuk yang dikemas dalam konsep kreatif entertainment. 

Menurut Suko, kebebasan berekspresi dalam demokrasi pada dasarnya sebuah percakapan. Bukan  soal siapa menang atau kalah, melainkan soal bagaimana warga berbicara tentang negaranya.

"Pertunjukan. Komedi seperti stand-up memberikan kontribusi penting dalam percakapan itu, tidak hanya untuk membuat audiens tertawa, tetapi juga di situlah kegelisahan publik menemukan bentuk. Ada rasa hanyut dalam kelucuan, tapi menyentil."

"Setiap kali komika atau komedian bicara tentang ketidakadilan, penguasa yang absurd, atau reaksi publik yang beriebihan. apa yang mereka sampaikan sering kali adalah kegelisahan yang sehari-hari yang dipendam oleha banyak warga negara. 

Bedanya, mereka menyampaikannya dengan tawa yang membuat pesannya menjadi sampai kepada audiens," tuturnya

Suko melanjutkan, maka acara yang menghadirkan Pandji atau mungkin komedian lain tidak sekadar hiburan karena ini adalah ruang ekspresi kegelisahan bersama rakyat. Tempat kita menertawakan sesuatu yang sebenamya tidak lucu, tetapi terialu berat jika hanya dipendam. "Orang sering merasa lega setelah menonton pertunjukan seperti itu. Karena mereka merasa tidak sendirian dalam kegelisahannya . Komedi membenkan ruang bagi suara yang selama ini teredam," ungkapnya. 

Secara terpisah, pengamat politik dari Unversitas Wijaya Kusuma Surabaya, Umar Sholahudin, mengatakan, pelaporan materi pertunjukan stand-up Pandji yang bertepatan dengan penetapan Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk tahun 2026 dalam organizational meeting Dewan HAM PBB, di Jenewa, 8 Januari 2026 tersebut memprihatinkan. 

Menurut Umar, sebagai Presiden Dewan HAM PBB, Indonesia justru harus menjamin dan memastikan pelaksanaan HAM di dalam negeri berjalan dengan baik. 

"Pelaporan ini menjadi ironi disaat Indonesia dipilih jadi Presiden Dewan HAM PBB.  Bagaimana mau menjadi presiden HAM dunia, jika di dalam negeri masih banyak praktik pelanggaran HAM. Dalam perspektif klasik, relasi politik antara rakyat (pengkritik) dengan negara (yang dikritik). Negara melakukan pembungkaman atas kebebasan berekspresi dan  berpendapat, baik secara softpower msukin hardpower. Hak tersebut sebenarnya telah dijamin undang-undang. Patut diduga juga, negara menggunakan kelompok masyarakat untuk melawan para pengkritik negara. Dan ini akan menjadi preseden buruk bagi ekosistem demokrasi yang sehat."

"Apa yang disampaikan Pandji adalah vitamin bagi demokrasi, dan juga sekaligus jamu bagi demokrasi kita yang memang sedang sakit akut," pungkasnya. 

  • Pandji Pragiwaksono

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

613 PKL Kramat Jati Bakal Dipindahkan, Ini 4 Lokasi yang Disiapkan Pasar Jaya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.