Thailand Tuduh Kamboja Langgar Gencatan Senjata

Rabu, 07 Jan 2026, 02:30 WIB

BANGKOK – Thailand pada Selasa (6/1) menuduh Kamboja telah melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung selama 10 hari, dengan mengatakan bahwa tembakan mortir lintas perbatasan telah melukai seorang tentara, sementara Phnom Penh mengatakan bahwa ledakan tersebut berasal dari tumpukan sampah dan insiden itu dua tentara mereka sendiri.

Militer Thailand mengatakan telah memperingatkan pasukan Kamboja untuk berhati-hati, dan menekankan bahwa jika insiden serupa terjadi, Thailand mungkin perlu melakukan pembalasan.

Ket. Foto: Sejumlah warga berdiri dekat lubang yang berada di depan pos polisi yang rusak akibat bentrokan antara militer Kamboja dan Thailand di Desa Boeung Trakoun di Provinsi Banteay Meanchey pada 3 Januari lalu. Pada Selasa (6/1), Thailand menuduh Kamboja telah melanggar gencatan senjata dengan menembakkan mortir lintas perbatasan. — Sumber: AFP

Sengketa perbatasan yang telah berlangsung selama beberapa dekade antara negara-negara Asia tenggara tersebut meletus menjadi bentrokan militer beberapa kali tahun lalu, dengan pertempuran pada bulan Desember menewaskan puluhan orang dan menyebabkan sekitar satu juta orang mengungsi di kedua belah pihak.

Pada 27 Desember lalu, kedua negara menyepakati gencatan senjata yang rapuh namun berhasil mengakhiri bentrokan selama tiga pekan.

"Kamboja pada Selasa pagi telah melanggar gencatan senjata,” kata militer Thailand dalam sebuah pernyataan, menuduh pasukan Kamboja menembakkan mortir ke Provinsi Ubon Ratchathani di Thailand.

Menurut pihak militer, seorang tentara Thailand dirawat di rumah sakit karena luka akibat pecahan peluru di lengan kanannya, yang tidak mengancam jiwa.

Dalam pernyataan terpisah, militer Thailand mengatakan bahwa pihak Kamboja telah menghubungi unit militer Thailand dan mengklaim tidak ada niat untuk menembak ke wilayah Thailand serta menambahkan insiden tersebut disebabkan oleh kesalahan operasional personel Kamboja.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, mengatakan dua tentara Kamboja terluka, satu di antaranya luka parah, pada Selasa pagi ketika sebuah ledakan terjadi dari tumpukan sampah.

Insiden itu terjadi saat pasukan Kamboja sedang melaksanakan tugas pengorganisasian dan ketertiban di Provinsi Preah Vihear, Kamboja, yang terletak di seberang Ubon Ratchathani, Thailand, kata dia dalam sebuah pernyataan.

Maly Socheata tidak menyebutkan serangan yang dituduhkan oleh Thailand, tetapi mengatakan bahwa tim koordinasi perbatasan kedua negara telah berkonsultasi mengenai insiden yang melibatkan tentara Kamboja dan telah membahas masalah tersebut.

Ledakan itu terjadi di wilayah perbatasan yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, tempat perbatasan kedua negara dan Laos bertemu, kata dia.

Pada bulan Mei lalu, seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak dengan pasukan Thailand di daerah tersebut, yang kembali menyulut konflik perbatasan.

Layangkan Protes

Terkait insiden terbaru,Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan pemerintahnya telah melayangkan protes kepada Phnom Penh, dengan menyatakan bahwa gencatan senjata telah dilanggar.

"Di tingkat militer ke militer, kami telah diberitahu bahwa insiden itu adalah kecelakaan, tetapi kami sedang mencari klarifikasi tentang bagaimana tanggung jawab akan dipikul," kata PM Anutin kepada wartawan di Bangkok.

Dia menambahkan bahwa Thailand memiliki kemampuan untuk merespons Kamboja, yang persenjataannya jauh lebih lemah daripada negara tetangganya.

Konflik berkepanjangan antara kedua negara tersebut berakar dari perselisihan mengenai penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer pada era kolonial, dimana kedua belah pihak mengklaim wilayah dan reruntuhan kuil yang telah berusia berabad-abad.

Berdasarkan gencatan senjata bulan Desember, Kamboja dan Thailand berjanji untuk menghentikan tembakan, membekukan pergerakan pasukan, dan bekerja sama dalam upaya pembersihan ranjau di sepanjang perbatasan mereka.

Pada Sabtu (3/1) lalu atau satu pekan setelah gencatan senjata Desember mulai berlaku, Kamboja meminta Thailand untuk menarik pasukannya dari beberapa wilayah perbatasan yang diklaim Phnom Penh sebagai wilayahnya.

Militer Thailand menolak klaim bahwa mereka telah menggunakan kekerasan untuk merebut wilayah Kamboja, dan bersikeras bahwa pasukan mereka hadir di daerah-daerah yang selalu menjadi milik Thailand.

Meskipun kedua negara sepakat akhir bulan lalu untuk menghentikan pertempuran, mereka masih perlu menyelesaikan penetapan batas wilayah sengketa mereka. Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa bahwa Phnom Penh telah mengusulkan pertemuan komite perbatasan bilateral dengan mitra Thailand yang akan diadakan di Provinsi Siem Reap, Kamboja, bulan ini.

Sebelumnya, Bangkok telah menyatakan bahwa pertemuan untuk membahas survei dan penetapan batas wilayah mungkin perlu diadakan oleh pemerintahan Thailand berikutnya, setelah pemilihan umum yang dijadwalkan pada 8 Februari. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.