Musik Bisa Dijadikan Tren dan Daya Pikat Pariwisata Indonesia 2026

Senin, 05 Jan 2026, 17:35 WIB

JAKARTA - Musik, dengan potensinya memberikan kesan dan pengalaman emosional di benak para penikmatnya, diprediksi kuat menjadi tren pariwisata global di Indonesia pada 2026.

Para ahli mengungkapkan, geliat industri pariwisata dan perjalanan kini tidak bisa lagi bertumpu pada destinasi semata, melainkan lebih cenderung pada pengalaman yang dirasakan wisatawan, dan musik ditengarai punya daya pikat untuk memberikan "pengalaman" tersebut.

Ket. Foto: Seniman yang tergabung dalam group Petik Cantik Nusantara menunjukan aksinya saat Ngayogjazz 2023 bertajuk “Handarbeni Hangejazzi” di Gancahan, Sidomulyo, Godean, Sleman, D.I Yogyakarta. Perhelatan musik jazz tahunan yang digelar di area pedesaan itu menampilkan sekitar 36 musisi dan komunitas jazz nasional maupun mancanegara. — Sumber: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

Pegiat pariwisata musik, Penny Hutabarat, dalam Podcast Antara Close Up mengungkapkan bahwa pariwisata musik merupakan sebuah perjalanan yang menjadikan musik sebagai alasan utama yang memotivasi wisatawan untuk berkunjung.

Pengamat musik dari Universitas Indonesia ini juga mengungkapkan beberapa contoh pariwisata musik, seperti konser dan festival, kunjungan ke museum musik, hingga menyusuri kota yang memiliki sejarah panjang dalam industri musik.

Di Inggris misalnya, wisatawan rela terbang ke Liverpool untuk menapaki jejak The Beatles, kemudian Nashville menjadi magnet para penggemar music country. Kalau di Asia, Korea Selatan menjadi contoh paling nyata bagaimana K-pop mampu menarik jutaan wisatawan mancanegara.

“Wisatawan itu saat ini cenderung ingin merasakan pengalaman, dan musik menjadi pengalaman paling emosional yang membuat orang bergerak ke suatu destinasi,” ungkap Penny.

Secara global, tren pariwisata musik melonjak signifikan. Data Customer Insight 2023 menunjukkan valuasi pasar music tourism mencapai 6,6 miliar dollar AS dan diprediksi terus bertumbuh hingga 2032.

Data tersebut juga dapat dicermati dari penyelenggaraan festival-festival besar seperti Glastonbury dan Coachella yang terus berkembang sejak awal 2000-an. Sementara di Indonesia, menurut Penny, tumbuhnya festival musik secara langsung meningkat tajam. Para penikmat musik seolah “haus” akan pengalaman menonton konser.

“Efeknya, pariwisata musik memasuki fase renaissance dan tumbuh lebih besar dari sebelumnya,” jelas Penny.

Penny menjelaskan, Indonesia sangat memungkinkan untuk meniru keberhasilan negara-negara yang selama ini mengandalkan music tourism sebagai motor pertumbuhan ekonomi kreatif. Dengan kekayaan budaya, keragaman geografis, serta jumlah talenta kreatif yang besar, Indonesia punya modal besar untuk menjadikan musik sebagai daya tarik wisata utama.

Dari penelitian yang dilakukannya, Penny menyebut ada dua festival yang saat ini menjadi praktik terbaik di Indonesia.

20260105172917_gambar-2.jpeg

Pegiat Pariwisata Musik Penny Hutabarat saat menjelaskan tentang prasyarat pariwisata musik berkelanjutan untuk Indonesia dalam Podcast Antara Close Up. (Antara/Syahrudin)

1. Prambanan Jazz Festival

Festival yang digelar di Candi Prambanan, Yogyakarta ini memadukan konser musik dengan kekuatan heritage Indonesia. Wisatawan yang datang tidak hanya mengejar pertunjukkan musik, tetapi juga keindahan Candi Prambanan. Bahkan, wisatawan yang tinggal di Kawasan Candi pun dapat merasakan betul bagaimana kehidupan masyarakat lokal yang masih kental dengan unsur budayanya.

Acara tahunan yang umumnya berlangsung selama tiga hari di awal bulan Juli ini, kerap menjadi alasan bagi lintas generasi untuk reuni.

“Banyak generasi silver atau rambut putih yang mengadakan reuni dengan mendatangi Prambanan Jazz. Tidak hanya itu, generasi muda juga ikut mendominasi gelaran musik tahunan ini, sehingga kolaborasi lintas generasi kumpul semua disini,” tutur Penny.

20260105173022_Prambanan-Jazz-2020-afa-02.jpeg

Band Fourtwnty tampil saat Prambanan Jazz 2020 bertajuk "New Hope New Experience" di Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (31/10). Perhelatan musik tahunan yang menampilkan sejumlah band serta musisi nasional itu tahun ini digelar secara virtual guna mencegah penyebaran Covid-19. (Antara/Andreas Fitri Atmoko)

2. Ngayogjazz

Berbeda dengan festival besar di kota, Ngayogjazz justru menjadi model bagaimana music dapat menggerakkan ekonomi desa. Festival ini berpindah desa setiap tahun di Bantul, dan saat sedang dihelat, seluruh elemen masyarakat ikut terlibat. Keunikan tersebutlah yang membuat banyak wisatawan mancanegara hadir, oleh karena mendapatkan authentic local experience yang jarang ditemukan di tempat lain.

20260105173139_gambar-1.jpeg

Pegiat Pariwisata Musik Penny Hutabarat saat berbincang mengenai tren pariwisata musik di Indonesia dalam Podcast Antara Close Up. (Antara/Subur Atmamihardja)

Multiplier effect Ekonomi Kreatif

Pariwisata musik tercatat memberi dampak berantai terhadap ekonomi kreatif di berbagai daerah. Setiap penyelenggaraan festival tidak hanya menghidupkan panggung musik, tetapi juga menggairahkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

UMKM lokal mengalami lonjakan penjualan. Kehadiran ribuan penonton membuat produk kuliner, kerajinan, hingga souvenir laris manis kebanjiran rezeki. Banyak pelaku UMKM mencatat omzet harian yang meningkat beberapa kali lipat selama festival berlangsung. Selain itu, turut pula berdampak pada sektor lapangan kerja musiman. Mulai dari petugas teknis panggung, keamanan, kru logistik, hingga pekerja kebersihan yang terbuka kesempatan kerjanya bagi warga daerah.

Dampak lain yang terlihat adalah meningkatnya okupansi hotel dan homestay, terutama pada destinasi–destinasi yang menggelar festival tahunan. Banyak penginapan yang penuh dipesan bahkan berminggu-minggu sebelum acara. Termasuk, sektor transportasi yang juga ikut terdorong. Pergerakan pariwisata dari dan menuju lokal festival memicu peningkatan pengguna jasa perjalanan, mulai dari penerbangan, kereta, sewa mobil, hingga transportasi lokal.

Tren pariwisata musik Indonesia juga didorong oleh semakin banyaknya festival dan promotor yang menghadirkan artis internasional. Fenomena ini terbukti menjadi magnet kuat bagi wisatawan, terutama generasi muda yang rela bepergian ke kota tertentu demi menyaksikan musisi favorit mereka tampil secara langsung.

20260105173239_Konser-Black-Pink-120323-Adm-2.jpeg

Girl band asal Korea Selatan BLACKPINK tampil pada konsernya yang bertajuk BLACKPINK BORN PINK In Jakarta di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (11/3). Dalam konser hari pertamanya BLACKPINK membawakan sejumlah lagu diantaranya Pink Venom, How You Like That dan Kill This Love. (Antara/Rianti)

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah konser internasional menunjukkan lonjakan kunjungan wisata, mulai dari pemesanan hotel, peningkatan penjualan tiket transportasi, hingga pergerakan wisata kuliner di sekitar lokasi acara. Kehadiran musisi global membuat sebuah kota bertransformasi menjadi pusat keramaian selama beberapa hari, sekaligus memperkenalkan destinasi tersebut kepada penggemar dari berbagai daerah.

Tingginya minat wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah berkat musiknya, membuat pariwisata musik menjadi satu sub-sektor baru yang kian berkembang pesat.

Kementerian Pariwisata pun mengatakan, saat ini musik menjadi salah satu daya tarik yang dihadirkan dalam kalender pagelaran Kharisma Event Nusantara (KEN).

Program unggulan dari Kementerian Pariwisata tersebut pun mampu menarik lebih dari 8,4 juta pengunjung atau meningkat sebesar 13,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, gelaran musik dan budaya yang dihadirkan dalam KEN bisa menjadi kekuatan utama dalam mempromosikan pariwisata Indonesia.

20260105173345_Foto-terbaik-september-2023-2.jpeg

Vokalis grup band Coldplay Chris Martin beraksi saat membawakan hits andalannya dalam konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Rabu (15/11). Konser grup band asal Inggris yang masuk dalam rangkaian tur dunia "Music of the Spheres Tour 2023" di Jakarta itu merupakan penampilan perdana mereka di Indonesia sejak band itu didirikan pada 1997 dengan membawakan sekitar 22 lagu hitnya. (Antara/M Risyal Hidayat)

“Pada KEN 2024, kenaikannya di atas 10 persen atau menyumbang 238,2 miliar rupiah produk domestik bruto (PDB). Dari angka ini, tentu kami hadirkan kembali 110 event yang berbasis budaya (termasuk musik) untuk menjadi daya tarik utama pariwisata,” ungkap Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa.

Pegiat pariwisata musik itu pun menilai bahwa kunci utama pengembangan music tourism di Indonesia terletak pada autentisitas. Festival musik di Indonesia tidak cukup hanya menawarkan pertunjukkan semata, melainkan pengalaman menyeluruh mulai dari interaksi dengan masyarakat, kuliner khas, suasana desa budaya, hingga keindahan alam dan situs heritage yang menjadi latar pertunjukkan. Semua elemen tersebut membuat pengalaman wisatawan menjadi lebih membekas di hati wisatawan.

“Inilah yang disebut sebagai experience economy, situasi ketika orang datang bukan hanya melihat konser, tetapi untuk mendapatkan memori, emosi, dan keterlibatan langsung dengan budaya lokal,” kata Penny Hutabarat. Ant

  • Acara Musik

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.