• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Sejarah Panjang Tahun Baru...

Sejarah Panjang Tahun Baru, Dari Bintang Sirius hingga Kalender Gregorian

Rabu, 31 Des 2025, 05:05 WIB

Pada tanggal 1 Januari setiap tahun, banyak negara di seluruh dunia merayakan awal tahun baru. Faktanya, festival dan perayaan yang menandai dimulainya tahun kalender telah ada selama ribuan tahun. Sementara sebagian perayaan hanya menjadi ajang bersenang-senang, banyak tradisi Tahun Baru lainnya berkaitan erat dengan peristiwa pertanian maupun astronomi.

Di Mesir kuno, misalnya, tahun baru dimulai bersamaan dengan banjir tahunan Sungai Nil, yang bertepatan dengan kemunculan kembali bintang Sirius setelah menghilang selama sekitar 70 hari. Peristiwa ini biasanya terjadi pada pertengahan Juli dan dirayakan melalui festival yang dikenal sebagai Wepet Renpet, yang berarti “pembukaan tahun”.

Ket. Foto: Kembang api menerangi Pelabuhan Victoria, Hong Kong pada perayaan Tahun Baru 2025. — Sumber: AFP/Peter PARKS

Bagi masyarakat Mesir kuno, Tahun Baru dipandang sebagai momen kelahiran kembali dan peremajaan. Perayaan ini dihormati dengan pesta serta ritual keagamaan khusus. Sementara itu, bangsa Fenisia dan Persia memulai tahun baru mereka pada saat ekuinoks musim semi di bulan Maret. Tahun Baru Persia dikenal sebagai Nowruz (atau Norooz), sebuah festival musim semi selama 13 hari yang diyakini berasal dari tradisi agama Zoroastrian.

Meski catatan resmi tentang Nowruz baru muncul pada abad ke-2 Masehi, sebagian besar sejarawan meyakini bahwa perayaan ini telah ada setidaknya sejak abad ke-6 sebelum Masehi. Berbagai tradisi Nowruz, seperti menyalakan api unggun dan menghias telur berwarna, masih dirayakan hingga kini di Iran serta sejumlah wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah.

Orang Yahudi merayakan Tahun Baru pada bulan September atau Oktober, sesuai kalender Ibrani yang bersifat lunisolar. Perayaan ini dikenal sebagai Rosh Hashanah, yang secara harfiah berarti “awal tahun”. Rosh Hashanah dimulai pada hari pertama bulan Tishri, yang merupakan bulan pertama dalam kalender sipil, tetapi bulan ketujuh dalam kalender keagamaan Yahudi.

Referensi tertulis paling awal mengenai Rosh Hashanah dalam teks rabinik ditemukan dalam Mishnah, sebuah teks hukum Yahudi yang disusun sekitar tahun 200 Masehi. Namun, hari raya ini diyakini jauh lebih tua, kemungkinan berasal dari abad ke-6 sebelum Masehi.

Saat ini, Rosh Hashanah diperingati sebagai momentum menyambut tahun yang akan datang sekaligus waktu untuk merenungkan masa lalu dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Umat Yahudi biasanya menghadiri ibadah khusus di sinagoge dan merayakannya dengan makanan simbolis seperti roti challah berbentuk bulat, apel, dan madu. Perayaan ini juga ditandai dengan tiupan shofar, terompet yang terbuat dari tanduk domba jantan atau hewan kosher lainnya, yang dibunyikan secara khusus selama periode tersebut.

Sementara itu, hari pertama Tahun Baru Imlek jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin. Perayaan ini dikenal luas sebagai Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi, dan dirayakan oleh jutaan orang di Tiongkok, Korea, Vietnam, Jepang, serta berbagai negara lain.

Tahun Baru Imlek merupakan salah satu tradisi tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Sejarahnya dapat ditelusuri hingga sekitar tiga milenium lalu, dengan akar pada masa Dinasti Shang. Pada awalnya, festival ini berkaitan dengan siklus pertanian dan penaburan benih musim semi, sebelum kemudian berkembang dan diperkaya oleh berbagai legenda.

Salah satu legenda paling populer berkisah tentang makhluk buas bernama Nian, yang konon muncul setiap tahun untuk memangsa manusia dan ternak. Untuk melindungi diri, penduduk desa menghiasi rumah mereka dengan warna merah, menyalakan api, membakar bambu, dan menciptakan suara keras untuk menakut-nakuti makhluk tersebut. Tradisi ini dipercaya berhasil, dan hingga kini warna merah, lampu, serta petasan masih menjadi bagian penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Meski sangat kuno, Tahun Baru Imlek bukanlah perayaan Tahun Baru tertua di dunia. Catatan perayaan tahun baru paling awal berasal dari bangsa Babilonia kuno sekitar 4.000 tahun lalu. Perayaan ini erat kaitannya dengan kepercayaan agama dan mitologi.

Bagi bangsa Babilonia yang hidup di Mesopotamia kuno, bulan baru pertama setelah ekuinoks musim semi—ketika durasi siang dan malam sama—menandai awal tahun baru dan melambangkan kelahiran kembali alam. Momen ini dirayakan melalui festival besar bernama Akitu, yang berlangsung selama 11 hari.

Selama Akitu, patung-patung dewa diarak di jalan-jalan kota dan berbagai ritual dilakukan untuk melambangkan kemenangan para dewa atas kekuatan kekacauan. Melalui ritual tersebut, bangsa Babilonia percaya bahwa dunia secara simbolis dibersihkan dan diciptakan kembali sebagai persiapan menyambut tahun baru dan datangnya musim semi.

Selain menandai tahun baru, Akitu juga merayakan kemenangan mitologis dewa utama Babilonia, Marduk, atas dewi laut yang jahat, Tiamat. Festival ini juga memiliki fungsi politik penting, karena pada saat inilah raja baru dinobatkan atau mandat ilahi penguasa yang sedang berkuasa diperbarui.

Salah satu ritual Akitu yang paling menarik adalah penghinaan simbolis terhadap raja Babilonia. Dalam tradisi ini, raja dibawa ke hadapan patung Marduk, dilucuti dari atribut kerajaan, ditampar, dan telinganya ditarik. Jika raja menangis, hal itu dianggap sebagai pertanda bahwa Marduk berkenan dan kekuasaannya diperpanjang secara simbolis.

Tahun Baru Romawi

Tahun Baru Romawi pada awalnya juga bertepatan dengan ekuinoks musim semi. Kalender Romawi kuno terdiri dari 10 bulan dan 304 hari, dengan tahun baru dimulai pada bulan Maret. Menurut tradisi, kalender ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma, pada abad ke-8 sebelum Masehi.

Namun seiring waktu, kalender tersebut semakin tidak selaras dengan pergerakan matahari. Pada tahun 46 sebelum Masehi, Kaisar Julius Caesar melakukan reformasi kalender dengan bantuan para astronom dan matematikawan terkemuka. Hasilnya adalah kalender Julian, kalender berbasis matahari yang menjadi cikal bakal kalender Gregorian modern.

Sebagai bagian dari reformasi tersebut, Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama tahun. Penetapan ini berkaitan dengan Janus, dewa Romawi yang melambangkan perubahan dan permulaan, yang digambarkan memiliki dua wajah—satu menghadap masa lalu dan satu menghadap masa depan.

Bangsa Romawi merayakan Tahun Baru dengan mempersembahkan kurban kepada Janus, menghias rumah dengan ranting laurel, serta menghadiri pesta. Mereka juga bertukar ucapan selamat dan hadiah sederhana seperti buah ara dan madu sebagai simbol harapan baik untuk 12 bulan ke depan.

Di Eropa Abad Pertengahan, perayaan Tahun Baru pada 1 Januari dianggap bercorak pagan dan kurang mencerminkan nilai-nilai Kristen. Pada tahun 567 Masehi, Konsili Tours menghapus 1 Januari sebagai awal tahun dan menggantinya dengan tanggal-tanggal keagamaan penting, seperti 25 Desember atau 25 Maret, yang dikenal sebagai Hari Raya Kabar Gembira.

Hari Raya Kabar Gembira memperingati peristiwa ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kepada Maria bahwa ia akan mengandung Yesus. Tanggal ini ditetapkan sembilan bulan sebelum 25 Desember, sesuai dengan masa kehamilan manusia.

Tanggal 1 Januari sendiri kemudian diberi makna Kristen sebagai Hari Raya Sunat, yang memperingati hari kedelapan kehidupan Yesus menurut tradisi Yahudi, meski tanggal kelahiran Yesus masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Kembali ke 1 Januari

Pada tahun 1582, setelah diberlakukannya kalender Gregorian, Paus Gregorius XIII secara resmi menetapkan kembali 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru. Negara-negara Katolik mengadopsi kalender ini relatif cepat, sementara negara-negara Protestan dan Ortodoks Timur melakukannya secara bertahap.

Inggris, misalnya, baru mengadopsi kalender Gregorian pada tahun 1752. Sebelum itu, Kekaisaran Inggris dan koloni-koloninya, termasuk di Amerika masih merayakan Tahun Baru pada bulan Maret. hay

  • perayaan Tahun Baru

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.