• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Musnah Bersama Hilangnya S...

Musnah Bersama Hilangnya Savana

Rabu, 17 Des 2025, 06:48 WIB

SEBUAH studi baru yang meneliti unta yang telah punah nenek moyang unta dan llama saat ini menceritakan kisah savana kuno Amerika Utara dan menyoroti bagaimana kondisi iklim dan lingkungan masa lalu memengaruhi komposisi fauna mamalia.

Meskipun habitat savana (padang rumput berhutan) hanya ditemukan di daerah tropis saat ini, sekitar 18 juta tahun yang lalu, selama zaman Miosen, ekosistem savana, mirip dengan yang ada di Afrika modern, ada di garis lintang tengah Amerika Utara. Pada puncaknya sekitar 12 juta tahun yang lalu keanekaragaman mamalianya sebanding dengan Serengeti saat ini.

Ket. Foto: Unta berevolusi menjadi berbagai bentuk dan ukuran, termasuk bentuk kecil seperti Stenomylus yang dipamerkan di Museum Sejarah Alam Amerika. — Sumber: Domain publik

Studi ini, yang diterbitkan di Frontiers in Earth Science, pada 2020 ini adalah karya para paleobiolog di Universitas Bristol dan Universitas Helsinki. Penelitian ini memberikan karakterisasi kuantitatif pertama dari ekomorfologi sekelompok ungulata herbivora besar (yaitu mamalia berkuku) yang dikenal sebagai artiodactyla, yang meliputi unta dan antelop, dari sabana Amerika Utara kuno dan bagaimana perbandingannya dengan rekan-rekan mereka dari sabana Afrika masa kini, seperti Serengeti.

Penulis utama penelitian ini, Nuria Melisa Morales García dari Universitas Bristol, mengatakan: “Savana Amerika Utara menampung keanekaragaman camelid yang sangat besar. Bahkan, camelid sebenarnya berasal dan pertama kali beranekaragam di Amerika Utara di mana mereka hidup selama lebih dari 40 juta tahun dan sangat sukses serta tersebar luas,” paparnya.

Para peneliti mengukur tengkorak, rahang, dan tulang anggota tubuh dari puluhan artiodactyla Amerika Utara yang telah punah, termasuk camelid, dan membandingkannya dengan yang hidup saat ini di sabana Serengeti di Afrika Timur. Para peneliti mencatat data tentang ukuran tubuh dan aspek anatomi hewan yang terkait dengan ekologinya.

“Mamalia Serengeti sangat dikenal dalam penelitian: kita tahu bagaimana mereka hidup, bagaimana mereka makan, dan kita memiliki semua pengukuran mereka. Dengan menggunakan apa yang kita ketahui tentang mereka, kita dapat membuat kesimpulan yang kuat tentang bagaimana artiodactyla yang telah punah di Amerika Utara berperilaku,” kata Profesor Christine Janis, dari Sekolah Ilmu Bumi Universitas Bristol dan penulis pembimbing studi tersebut.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada tumpang tindih yang cukup besar antara ekologi spesies yang telah punah dan spesies modern, sebagian besar camelid yang telah punah paling mirip dengan eland umum modern, antelop yang beradaptasi dengan lingkungan kering dengan makanan berupa rumput dan daun. Hal ini mengungkapkan informasi penting tentang ekosistem yang mereka huni dan menunjukkan bahwa sabana Amerika Utara lebih kering daripada sabana Afrika modern.

 “Kami juga mempelajari bagaimana fauna-fauna ini terpengaruh oleh perubahan iklim Neogen: ketika suhu turun dan kondisi menjadi lebih kering, fauna-fauna ini menjadi semakin miskin—kurang dalam jumlah dan keanekaragaman. Unta masih mendominasi fauna-fauna ini, tetapi keanekaragaman semua ungulata mengalami penurunan drastis,” ucapnya. hay

  • Hewan Asal Amerika Utara

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Pasokan Air Terbatas, Ribuan Hektare Sawah di Karawang Tidak Ditanami

Jaga Stabilitas Harga, Perum Bulog Sumut Perkuat Penyaluran Beras SPHP ke Pasar

BPBD Karawang Didistribusikan 828.000 Liter Air Bersih ke 15 Desa

Indonesia Kini Punya IBMA, Percepat Pendalaman Pasar Bulion Nasional

Tim Gabungan Berbagai Unsur Berhasil Padamkan Kebakaran Lahan 10,65 Hektare di Penajam

Pascagempa NTT, PT Pertamina Tunggu Hasil Tes Struktur Kekuatan Dermaga Reo

Adik Kim Jong-un Ragukan Klaim Trump tentang Pembicaraan Rahasia AS-Korea Utara

Trailer Terbaru Whalefall: Teror Bawah Laut, Ditelan Paus Sperma dan Punya Satu Jam untuk Bertahan

Kapal Pelni KM Tidar Tiba di Maumere, Bawa Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Pastikan Higienis, Distan Mataram Perketat Pengawasan Pemotongan Unggas Mandiri

Wali Kota: Bandung Bidik 24 Juta Kunjungan Wisatawan

Wali Kota Bandung Tawarkan PBB Rp1 untuk Bangun Cagar Budaya

Harga Emas pada Kamis (20/8) Galeri24, Antam, UBS di Pegadaian Serempak Naik

Agar Peternak Terus Berproduksi, Mendag Tekankan Pentingnya Harga Ayam Sesuai Acuan

Menpar Nilai Konser Andrea Bocelli Bantu Promosi Pariwisata Indonesia

Tersangka Sabotase Pipa Gas Nord Stream akan Disidang di Jerman

Pertamina Goes to Campus 2026, 116 Tim Mahasiswa Unjuk Gigi di Babak Penentuan Debat Energi

Bukan Erupsi! Kepulan Asap di Gunung Raung Ternyata akibat Kebakaran Lahan.

Polres Bengkalis Tetapkan 2 Tersangka Kasus Kebakaran Lahan di Desa Damai.

The Dudas Minus One Berencana Touring Keliling Asia, Ariel Ungkap Alasannya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.