Thailand Umumkan Korban Pertama dalam Bentrokan dengan Kamboja

Senin, 15 Des 2025, 02:49 WIB

BANTEAY MEANCHEY - Thailand pada Minggu (14/12) mengumumkan kematian warga sipil pertama dalam sepekan pertempuran dengan Kamboja. Laporan itu diumumkan karena upaya internasional gagal menghentikan kekerasan yang telah memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka.

Korban tewas pertama ini terjadi sehari setelah Bangkok membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyatakan bahwa gencatan senjata telah disepakati antara kedua negara tetangga di Asia tenggara tersebut.

Ket. Foto: Korban Konflik l Kerabat dari anggota relawan Pasukan Khusus Mustakim Majehma, yang tewas di tengah bentrokan di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand, berjalan dengan membawa potretnya selama upacara militer di Bandara Narathiwat, Thailand, pada Minggu (14/12). — Sumber: AFP/Madaree TOHLALA

Konflik yang berakar pada sengketa penetapan batas wilayah di era kolonial di sepanjang perbatasan mereka yang sepanjang 800 kilometer itu telah menyebabkan sekitar 800.000 orang mengungsi, kata para pejabat.

“Saya sudah berada di sini selama enam hari dan saya merasa sedih karena pertempuran terus berlanjut,” kata Sean Leap, 63 tahun, kepada AFP di sebuah pusat evakuasi di provinsi perbatasan Kamboja, Banteay Meanchey.

“Saya ingin ini berhenti,” kata dia, seraya menambahkan bahwa ia amat khawatir tentang rumah dan ternaknya.

Sedikitnya 27 orang tewas, termasuk 15 tentara Thailand dan 11 warga sipil Kamboja, kata para pejabat pada Minggu.

Seorang warga sipil Thailand yang tewas di Provinsi Sisaket merupakan kematian non-militer pertama yang tercatat di negara itu sejak putaran pertempuran terbaru dimulai pada 7 Desember, demikian konfirmasi juru bicara Kementerian Kesehatan Ekachai Piensriwatchara kepada AFP.

Tentara Thailand mengatakan pria berusia 63 tahun itu tewas akibat pecahan peluru setelah pasukan Kamboja menembakkan roket ke daerah sipil.

Masing-masing pihak sa­ling menyalahkan sebagai pemicu bentrokan, mengklaim membela diri dan saling tu­ding melakukan serangan terhadap warga sipil.

Presiden Trump, yang sebelumnya mendukung gencatan senjata dan perjanjian lanjutan, mengatakan pada Jumat (12/12) lalu bahwa kedua ne­gara telah sepakat untuk menghentikan pertempuran. Namun para pemimpin Thailand kemudian mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan gencatan senjata yang tercapai, dan kedua pemerintah mengatakan pada Minggu bahwa bentrokan masih berlangsung.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan Kamboja telah menembaki dan membombardir beberapa provinsi perbatasan semalam. Sebaliknya Kamboja mengatakan bahwa pasukan Thailand telah menembaki dan melancarkan serangan udara ke wilayah Kamboja di dekat perbatasan pada Minggu.

Perbatasan Ditutup

Setelah gencatan senjata yang dijanjikan Trump tidak terwujud, Kamboja menutup perbatasan dengan Thailand pada Sabtu (13/12) hingga menyebabkan banyak pekerja migran terlantar.

Di bawah tenda darurat di lokasi evakuasi di Banteay Meanchey, Kamboja, Cheav Sokun mengatakan kepada AFP bahwa suaminya di Thailand ingin pulang. Dia dan putranya meninggalkan Thailand bersama puluhan ribu pekerja migran Kamboja lainnya selama bentrokan mematikan pada Juli lalu, tetapi suaminya tetap tinggal di Thailand untuk bekerja sebagai tukang kebun.

“Dia meminta saya untuk kembali dulu. Setelah itu, perbatasan ditutup sehingga dia tidak bisa kembali,” kata perempuan berusia 38 tahun itu. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.