Gubernur Jateng Serukan Gerakan Pulang Kampung: Putra Daerah Diminta Kembali dan Majukan Tanah Kelahirannya

Minggu, 07 Des 2025, 23:20 WIB

SEMARANG – Kembalinya putra daerah untuk membangun kampung halamannya memiliki nilai strategis bagi percepatan pembangunan lokal.

Mereka membawa perspektif baru, jejaring yang lebih luas, serta keahlian yang diperoleh dari pendidikan maupun pengalaman kerja di luar daerah.

Ket. Foto: Pekerja menyelesaikan pembangunan kolam retensi di Desa Jati Wetan, Kudus, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Yusuf Nugroho

Modal sosial ini dapat menjadi katalis bagi lahirnya inovasi, penguatan ekonomi lokal, dan peningkatan kualitas layanan publik.

Selain itu, keterlibatan putra daerah memperkuat rasa memiliki dan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Ketika talenta lokal kembali dan berkontribusi, daerah tidak hanya tumbuh lebih mandiri, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, mengajak kepada mahasiswa asal Jateng sebagai putra daerah yang saat ini sedang kuliah di daerah perantauan agar setelah lulus mau pulang ke kampungnya masing-masing dan berkontribusi dalam membangun daerahnya.

"'Ndang luluso, ndang muliho, ndang kerjo, ndang bangun provinsimu, kampungmu, dan keluargamu nang Jawa Tengah'. (Cepatlah lulus, cepat pulang, cepat bekerja, dan cepat membangun provinsimu, kampungmu, serta keluargamu di Jateng)," katanya, di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (7/12).

Menurut dia, mahasiswa asal Jateng yang menempuh pendidikan di luar daerah memiliki peran penting bagi masa depan daerahnya.

Bekal ilmu serta pengalaman yang diperoleh di luar Jateng, kata dia, diharapkan dapat menjadi modal bagi generasi muda untuk pulang, berkarya, dan ikut mendorong pembangunan daerah masing-masing.

Ia mengatakan, mahasiswa yang saat ini masih kuliah merupakan bagian dari generasi Z, dan pihaknya sedang mengembangkan program Kartu Zilenial, yakni pemberdayaan pemuda untuk pengembangan diri melalui akses gratis ke pelatihan kewirausahaan, keterampilan, maupun komunitas.

Program tersebut juga didukung oleh Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekraf) Jateng yang bertujuan memberikan berbagai pelatihan kepada generasi muda, agar dapat tersalurkan ke profesi masing-masing.

"Kita tahu anak-anak kita sekarang lebih bergairah dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif itu ekonomi yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri maupun orang lain," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, ekonomi di sektor tersebut terus digalakkan, apalagi saat ini sudah 12 kabupaten/kota di Jateng yang menjadi kota kreatif.

Selain memfasilitasi pengembangan ekonomi kreatif, kata dia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus berupaya memperluas kesempatan kerja, dengan menarik investasi sebesar-besarnya.

Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, realisasi investasi di provinsi ini pada Januari-September 2025 mencapai Rp66,13 triliun atau 84,42 persen dari target tahunan penanaman modal.

Capaian tersebut diikuti dengan serapan tenaga kerja sebanyak 326.462 pekerja, terbanyak nomor dua se pulau Jawa.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jateng Ahmad Aziz mengatakan, faktor lain untuk memperluas kesempatan kerja adalah keahlian, karakter, dan jejaring, selain disiplin ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi.

Untuk itu, pelatihan-pelatihan terus diberikan, untuk menciptakan sumber daya manusia Jateng yang kompetitif.

"Banyak investor atau perusahaan yang mengutamakan keahlian dan karakter. Terkait karakter ini, sumber daya manusia atau tenaga kerja asal Jawa Tengah selalu mendapatkan apresiasi dari pelaku usaha," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.