• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ranu Agung, Danau Sunyi di...

Ranu Agung, Danau Sunyi di Kaki Gunung Lemongan

Jumat, 05 Des 2025, 07:37 WIB

WILAYAH Probolinggo yang bergunung-gunung juga menawarkan pemandangan perairan. Dengan luas 133 hektar. Destinasi ini menawarkan kombinasi pemandangan alam pegunungan, dan birunya pemandangan danau.

Ranu Agung adalah salah satu permata tersembunyi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Danau ini alami ini merupakan salah satu maar dari 27 maar yang mengelilingi Gunung Lemongan atau Lamongan, menjadikannya bukti geologis yang penting dari aktivitas vulkanik purba di wilayah tersebut.

Ket. Foto: Ranu Agung adalah salah satu permata tersembunyi di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. — Sumber: @kwarda.jatim

Maar adalah gunung berapi yang memiliki kawah yang luas namun rata yang terbentuk dari oleh letusan freatomagmatik (sebuah ledakan yang terjadi ketika air datang ke dalam kontak dengan panas, lava atau magma). Maar khas mengisi dengan air untuk membentuk relatif dangkal danau kawah yang juga dapat disebut maar.

Karakter Ranu Agung menggambarkan tipikal danau-danau kecil di kawasan Probolinggo bagian tengah selatan. Bentuknya menyerupai mangkuk alami; air danau mengisi cekungan yang dikelilingi dinding bukit dengan vegetasi hijau. Pada musim penghujan, warna air sering tampak lebih pekat dengan nuansa hijau toska, dipantulkan oleh pepohonan dan semak yang tumbuh rapat di sekelilingnya.

Destinasi wisata Ranu Agung menawarkan keindahan alam yang memukau, berupa danau yang dikelilingi oleh tebing-tebing batu tinggi dan kokoh. Kondisi inilah yang membuatnya dinamakan demikian. Rabu sendiri berarti danau dalam Bahasa Jawa Kuno sedangkan agung artinya besar.

Secara administratif, Ranu Agung berada di Desa Ranu Agung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Jaraknya dari Kota Probolinggo. Lokasinya yang berjarak 42,8 km tenggara pusat kota membuat tempat ini termasuk wilayah pelosok. Jauh dari hiruk pikuk manusia alamnya masih cukup terjaga dari kerusakan akibat ulah manusia.

Di sini selain suasana masih sangat alami dan asri, suhu udaranya juga cukup sejuk. Berada pada ketinggian 525 meter di atas permukaan laut (mdpl), suhu terendah pada malam atau pagi hari berkisar 19-22 derajat Celcius. Sedangkan pada siang hari suhunya sekitar 24 hingga 28 derajat Celcius.

Selain ketinggian, suhu udara yang sejuk di sini didukung oleh masih dapatnya. Udaranya yang kaya oksigen membuat siapa yang datang terasa menyegarkan, dengan aroma khas hutan dan tanah basah.

Berada di Kecamatan Tiris, di kaki Gunung Lemongan tempat ini menawarkan suasananya yang tenang jauh dari kebisingan lalu lintas atau keramaian kota. Yang terdengar di sini hanya suara alam berupa angin yang berdesau meniup dedaunan. Suara perahu getek yang membelah perairan didayung pelan oleh nelayan atau penyedia jasa berkeliling dana adalah nyanyian lain yang bisa didengar.

Saat tiba di tepi danau, pengunjung akan disambut oleh pemandangan yang dramatis dan berbeda dari danau pada umumnya. Danau ini terasa seperti tersembunyi di dalam cekungan tebing dengan pemandangan berupa hutan di atasnya dan air danau yang terlihat berwarna hijau kebiruan. Pemandangan tebing baru berwarna cokelat dan abu-abu menciptakan pemandangan kontras di Ranu Agung.

Tebing-tebing bebatuan yang mengelilingi danau selama ini menjadi pusat perhatian bagi mereka yang datang. Teksturnya yang unik, curam, dan kokoh memberikan latar belakang yang megah dan membuat danau terasa seperti berada di galeri alam terbuka.

Di balik kemolekan pemandangannya, Ranu Agung merupakan contoh dari formasi geologi yang menakjubkan. Perairan ini terbentuk melalui proses vulkanik sebagai hasil dari aktivitas purba Gunung Lamongan atau Gunung Lamongan, sebuah gunung api aktif di Jawa Timur.

Ranu Agung diklasifikasikan sebagai Danau Maar, yaitu danau yang terbentuk di dalam cekungan kawah akibat letusan gunung api. Proses pembentukannya melibatkan tahapan geologi yang spesifik dan dramatis:

Gunung Lemongan adalah gunung api stratovolcano atau gunung berapi yang tinggi dan mengerucut yang yang unik karena dikelilingi oleh banyak kerucut parasit (cinder cones) dan maar (kawah datar). Gunung ini pernah sangat aktif ribuan tahun yang lalu.

Proses kunci dalam pembentukan Ranu Agung adalah letusan freatomagmatik. Ini adalah jenis letusan eksplosif yang terjadi ketika magma (panas) dari dapur gunung api naik dan berinteraksi secara tiba-tiba dengan Akuifer atau lapisan batuan yang mengandung air tanah permukaan.

Interaksi ini menyebabkan air berubah menjadi uap dalam waktu singkat dengan volume yang sangat besar. Tekanan uap yang terperangkap meledak dan menghancurkan batuan di sekitarnya, bukan dengan mengeluarkan aliran lava, tetapi dengan ledakan batuan dan abu.

Ledakan freatomagmatik yang dahsyat ini meninggalkan sebuah cekungan kawah berbentuk melingkar yang relatif lebar dan dangkal dengan dinding curam di sekelilingnya. Cekungan inilah yang disebut sebagai Maar.

Selanjutnya adalah proses mendingin kawah. Cekungan atau maar yang telah terbentuk kemudian terisi oleh air  hujan (presipitasi) dengan curah tinggi di wilayah pegunungan. Selain itu pada wilayah yang lebih tinggi menyerap air lalu dilepaskan dalam bentuk mata air.

Ranu Agung dikenal memiliki empat mata air alami yang mengalir deras sepanjang tahun, memastikan volume air danau tetap stabil dan tidak pernah surut, bahkan di musim kemarau.

Dari proses vulkanik tersebut Ranu Agung memiliki tebing yang curam di sisi utara. Dinding-dinding tegak lurus ini adalah sisa-sisa batuan beku dan piroklastik yang terkikis akibat ledakan dan erosi atau pelapukan.

Aktivitas Menarik

Di Ranu Agung pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan dan menambah wawasan geologis. Aktivitas paling umum dan paling mudah adalah duduk di tepi danau, sambil menikmati udara sejuk, meresapi lanskap hijau yang tenang, dan bersantai sambil mengambil foto selfie.

Selain itu pemandangan yang ada dapat dijadikan untuk menghasilkan fotografi lanskap, mulai dari tebing batu, pantulan langit di permukaan air, vegetasi yang rimbun, lereng bukit hijau, dan cahaya matahari pagi atau sore yang memantul di permukaan air. Hasil foto akan lebih dramatis saat kabut tipis turun pada pagi hari.

Kegiatan lainnya adalah trekking ringan di sekeliling danau. Seperti ranu lainnya Ranu Agung juga memiliki jalur setapak yang dapat dilalui dengan cara treking pendek, jalan santai, sambil menikmati flora lokal seperti pohon bambu, akasia, atau tanaman air.

Ranu Agung yang memiliki tepian datar bisa dijadikan untuk tempat piknik santai dengan menggelar tikar bersantai untuk menikmati makan siang bersama. Ada area yang tidak terlalu luas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ini.

Alam yang terjaga dari kerusakan menjadi habitat bagi burung luas. Mengamati burung, capung, ikan katak hijau, dan satwa kecil lain adalah aktivitas selanjutnya yang dapat dilakukan si sini. Yang menariknya lagi dana ini memiliki vegetasi rawa atau rumput air, yang memiliki fauna tersendiri.

Jika kawasan danau masih alami, tempat ini sangat cocok untuk memperkenalkan  ekosistem danau kepada anak-anak. Di sini mereka bisa belajar mencintai dalam, belajar mengenali tumbuhan salah satunya tumbuhan air dan berbagai jenis fauna. Sebagai danau vulkanik Ranu Agung bisa menjadi lokasi edukatif untuk pengamatan geologi ­sederhana. hay

  • Ranu Agung

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.