150 Faskes di Jakarta Sudah Bisa Layani Pengobatan HIV

Rabu, 03 Des 2025, 15:58 WIB

JAKARTA -- Anggota Asosiasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta Halik Sidik Djibran mengatakan sekitar 150 hingga 160 rumah sakit dan puskesmas di Jakarta sudah menyediakan layanan terapi antiretroviral (ARV) untuk menurunkan risiko komplikasi akibat Human Immunodeficiency Virus (HIV), seperti AIDS.

"Tempat berobat kira-kira ada 150-160. Jadi, satu kecamatan, ada tiga tempat untuk mendapatkan pengobatannya," kata Halik dalam siniar Rabu Belajar yang digelar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan tema "Hari AIDS Sedunia Tahun 2025" di Jakarta, Rabu.

Halik yang juga Pengawas Yayasan Kreatifitas Perubahan Aksi Positif (YKPAP) Jakarta itu mengatakan warga dapat bertanya atau melapor kepada pihak puskesmas untuk mendapatkan akses terapi ARV.

Menurut dia, sebanyak 38.000 atau 80 persen orang dengan HIV saat ini sudah mendapatkan ARV. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen di antaranya sudah menjalani tes untuk memantau efektivitas terapi ARV (viral load HIV), dan 97 persen dari mereka menunjukkan keberhasilan pengobatannya.

HIV merupakan salah satu virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia sehingga rentan terhadap penyakit terkait infeksi-infeksi lainnya, seperti herpes dan tuberkulosis (TB).

"Ini akan membuat infeksi-infeksi itu memberi dampak kesakitan yang besar di dalam tubuh sehingga harus diobati," ujar Halik.

Pengobatan melalui terapi ARV, kata dia, merupakan upaya mencegah orang dengan HIV masuk ke fase AIDS, yakni tahap akhir infeksi HIV yang ditandai dengan sistem kekebalan tubuh telah rusak sehingga tidak mampu lagi melawan infeksi atau penyakit tertentu. 

Ket. Foto: Halik Sidik Djibran berbicara dalam siniar Rabu Belajar yang digelar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan tema "Hari AIDS Sedunia Tahun 2025" di Jakarta, Rabu (3/12). — Sumber: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Sementara itu, Pemprov DKI menargetkan tiga nol (three zero) untuk HIV/AIDS yang mencakup nol infeksi baru HIV, nol kematian terkait ADIS, dan nol diskriminasi. Target ini menjadi bagian dari upaya nasional Indonesia bebas AIDS pada 2030.

"Kita mencegah ada kasus-kasus baru HIV, dan kita mencegah untuk tidak masuk ke fase AIDS," ungkap Halik.

Salah satu program pengendalian yang efektif, yakni penemuan kasus melalui skrining, testing, dan tracing.

Kementerian Kesehatan juga sebelumnya telah mencantumkan strategi pengendalian HIV-AIDS sebagai bagian dari Standar Pelayanan Minimum di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Terkait lokasi tes HIV di Jakarta, saat ini sudah tersedia satu lokasi di setiap kecamatan se-DKI Jakarta. 

  • HIV/AIDS

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.