AS dan Ukraina Makin Kompak: Pembicaraan Damai Melesat di Tengah Misi Baru Bawa Konflik ke Titik Akhir

Senin, 01 Des 2025, 19:00 WIB

JAKARTA - Para pejabat tinggi Amerika Serikat dan Ukraina kembali duduk satu meja dalam rangkaian pembicaraan yang digambarkan sebagai produktif serta penuh perkembangan baru yang signifikan. Delegasi AS dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner, sementara Ukraina diwakili Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Rustem Umerov.

Rubio menegaskan bahwa tujuan utama negosiasi bukan sekadar menghentikan perang yang berlangsung lebih dari dua tahun tersebut, melainkan memulihkan Ukraina menjadi negara yang lebih kuat, stabil, dan sejahtera. Ia mengakui bahwa proses menuju kesepakatan damai masih kompleks dan membutuhkan keterlibatan Rusia sebagai salah satu elemen penentu.

Ket. Foto: — Sumber: Anadolu Agency

"Saya mengakui proses ini rumit dan memerlukan Rusia sebagai bagian dari persamaan," ujar Rubio dalam pernyataannya usai pertemuan di Florida.

Ia menambahkan bahwa tim diplomatik AS akan melanjutkan upaya intensif pekan ini, termasuk agenda perjalanan Witkoff ke Moskow untuk menjajaki titik temu langsung dengan pihak Rusia. Rubio juga menyebut AS kini memiliki pemahaman lebih baik terkait pandangan dan sikap Kremlin mengenai proposal perdamaian.

"Kami tetap realistis menghadapi tantangan ini, tetapi kami optimis," katanya.

Dari pihak Ukraina, Umerov menegaskan bahwa visi besarnya tetap konsisten: memastikan Ukraina tumbuh sebagai negara yang makmur dan berdaulat sepenuhnya. Ia mengatakan AS menunjukkan dukungan kuat dalam setiap fase diskusi yang berlangsung sejak pertemuan sebelumnya di Jenewa.

"Kami melanjutkan kesuksesan yang kami capai di Jenewa," ujar Umerov usai pertemuan.

Dalam unggahan di Telegram, Umerov menyebut kedua pihak telah membuat kemajuan nyata menuju perdamaian yang adil setelah melewati putaran negosiasi yang sulit namun produktif. Ia juga melaporkan perkembangan teranyar itu kepada Presiden Volodymyr Zelenskyy yang terus mengikuti prosesnya secara langsung.

"Kami telah mencapai kemajuan substansial dalam menyelaraskan posisi kami dengan pihak Amerika," tulis Umerov dalam pernyataan terpisah.

Ia memastikan bahwa prinsip utama Kyiv—keamanan, kedaulatan, dan perdamaian jangka panjang—tetap menjadi fondasi utama yang tak berubah dan telah mendapat penerimaan dari pihak Amerika. Konsultasi lanjutan untuk merumuskan kerangka bersama kini berada pada tahap penguatan.

Sebelum memasuki ruang pertemuan, Umerov menegaskan bahwa menjaga kepentingan Ukraina dan memastikan dialog berjalan substansial adalah prioritas. Ia menambahkan bahwa delegasi selalu berkomunikasi dengan Zelenskyy dan akan terus melaporkan setiap perkembangan secara rinci.

Presiden Ukraina itu sendiri menekankan pentingnya dialog yang terbuka dan konstruktif. Dalam pernyataan melalui platform X, Zelenskyy menyampaikan apresiasi terhadap pemerintah AS dan tim Presiden Donald Trump atas upaya intensif dalam mencari langkah konkret menuju akhir perang.

"Saya berterima kasih atas waktu dan komitmen yang telah diberikan untuk menentukan jalan menuju penghentian perang," tulis Zelenskyy.

Di sisi lain, AS menyampaikan bahwa pembicaraan kali ini difokuskan bukan hanya untuk mengakhiri perang melainkan menciptakan mekanisme jangka panjang yang menjaga kemerdekaan Ukraina, mencegah konflik baru, serta membuka peluang kemakmuran masa depan. Umerov menyebut bahwa selama 10 bulan terakhir, diskusi dengan AS berjalan solid dan penuh dukungan.

"AS mendengarkan kami, mendukung kami, dan berjalan bersama kami," katanya.

Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Ukraina, Sergiy Kyslytsya, yang juga hadir, menggambarkan pertemuan tersebut hangat dan kondusif. Menurutnya, atmosfer positif sejak awal menunjukkan potensi hasil progresif dalam waktu dekat.

Tim negosiasi Ukraina dalam pertemuan ini tidak hanya terdiri dari Umerov, tetapi juga Kepala Staf Umum Andrii Hnatov, Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Oleg Ivashchenko, serta pejabat intelijen pertahanan lainnya. Pergantian kepemimpinan delegasi menyusul pengunduran diri Andriy Yermak di tengah investigasi korupsi turut menjadi sorotan.

Di sisi AS, delegasi yang dipimpin Kushner dan Witkoff dijadwalkan melakukan perjalanan ke Rusia pekan ini untuk memperluas pembahasan dengan pihak Kremlin. Pemerintah AS mengonfirmasi tengah menggarap rencana penyelesaian komprehensif, namun menolak mengungkap detail selama proses masih berlangsung.

Sementara itu, Kremlin menyatakan bahwa Rusia tetap terbuka pada negosiasi dan mendukung pendekatan diplomatik, meski posisi dan tuntutan mereka masih menjadi perdebatan dalam proses perundingan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.