Norris, Verstappen, dan Piastri Masih Berpeluang
Jumat, 28 Nov 2025, 03:01 WIBDOHA, QATAR - Persaingan gelar juara dunia Formula 1 mencapai titik puncak saat seri Qatar Grand Prix berlangsung akhir pekan ini. Max Verstappen datang dengan ambisi besar: meraih kemenangan ketiganya secara beruntun di Lusail. Namun, dia sadar, sekalipun keberuntungan berpihak, mengejar selisih 24 poin dari Lando Norris menjelang dua balapan terakhir, Qatar dan Abu Dhabi, adalah tugas yang nyaris mustahil.
Meski didiskualifikasi bersama rekan setimnya sekaligus rival gelar, Oscar Piastri, setelah finis kedua di Las Vegas pekan lalu, Norris tetap menjadi kandidat terkuat untuk menggenggam mahkota pertamanya. Pembalap Inggris berusia 26 tahun itu mengemas 390 poin, unggul atas dua pesaingnya yang sama-sama memiliki 366 poin. Piastri berada di depan berkat koleksi tujuh kemenangan berbanding enam milik Verstappen.
Norris menjadi satu-satunya dari trio kandidat yang berpeluang mengunci gelar lebih awal di Qatar. Dia hanya perlu menjaga ketenangan dan unggul dua poin atas duo pemburu dalam sprint race dan balapan utama akhir pekan ini. Seperti kata Alex Ferguson tentang momen krusial: inilah squeaky bum time.
Verstappen mungkin tertinggal, tetapi pengalaman empat gelar beruntun membuatnya tetap berbahaya. Tekanan justru menggerogoti Norris. Sedangkan Piastri terlihat kehilangan bentuk terbaik dan ketenangannya. Meski begitu, skenario balapan terbuka lebar. Dengan margin yang nyaman, Norris justru memiliki kemewahan untuk tidak mengambil risiko besar.
Yang mencengangkan, Verstappen telah memangkas defisit 104 poin sejak awal September. Performa dahsyat itu membuat fans McLaren cemas dan mempertanyakan keputusan tim memberi kebebasan kedua pembalap bertarung tanpa perintah tim.
Bos McLaren, Andrea Stella, menegaskan sikapnya: tidak ada perlakuan istimewa sampai perhitungan matematis menutup peluang salah satu pembalap. Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran. Stella pernah menjadi engineer Kimi Raikkonen ketika sang Finn menyalip duo McLaren: Alonso dan Hamilton. Dia pun merebut gelar 2007 dari ketertinggalan 17 poin.Â
Stella juga menyaksikan Vettel merebut gelar 2010 dari Alonso yang unggul 15 poin pada balapan terakhir. Karena itu, Piastri belum boleh dihapus dari perhitungan. Kembalinya ke trek-trek yang cocok dengan gaya balapnya bisa memulihkan kecepatannya. Apalagi Pirelli mewajibkan dua pit-stop dengan batas 25 lap per set ban, situasi yang memancing kejutan taktik dan peluang kesalahan dari pit-wall.
Dalam kondisi seperti ini, Mercedes atau Ferrari bisa saja memecah prediksi dan memunculkan hasil tak terduga. Skenario itu dapat menyeret pertarungan gelar hingga Abu Dhabi, menghadirkan penutup musim bak 2021: pemenang membawa pulang segalanya.Â
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Real Sociedad Hancur Lebur, Villarreal Menggila di Estadio de la Ceramica
-
Hentikan Segala Bentuk Perpecahan di Media Sosial
-
iPhone 19e Miliki Layar ProMotion?Tunggu Kabarnya dari Apple
-
Antonelli Tak Terbendung, Juara di GP Jepang dan Pimpin Klasemen F1
-
Lestari Moerdijat: Peningkatkan Literasi Anak Bangsa Harus Konsisten
-
Polda Bali Kerahkan 1.200 Personel Amankan Malam Pengerupukan di Denpasar
-
Kepala Bulog Gorontalo: Stok Beras Aman Hingga Tujuh Bulan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.