Target Berani! BKPM Yakin RI Mampu Gaet Rp13.000 Triliun dalam 5 Tahun

Rabu, 26 Nov 2025, 16:50 WIB

TANGERANG – Menggenjot investasi menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan global dan meningkatnya persaingan antarnegara dalam menarik modal.

Investasi yang mengalir tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga mendorong penciptaan lapangan kerja, memperkuat basis industri, serta mempercepat adopsi teknologi baru yang meningkatkan produktivitas jangka panjang.

Ket. Foto: Ilustrasi - Paviliun Indonesia capai 2,8 juta pengunjung, bukukan komitmen investasi 23,8 miliar dolar AS, Osaka, Jepang, per 16 September 2025. — Sumber: ANTARA/ HO-Paviliun Indonesia

Bagi pemerintah, memperbaiki iklim usaha—mulai dari kepastian regulasi, infrastruktur pendukung, hingga insentif fiskal—menjadi faktor penentu agar investor melihat Indonesia sebagai destinasi yang minim risiko dan tinggi potensi.

Dengan peningkatan investasi, roda transformasi ekonomi dapat bergerak lebih cepat, menciptakan nilai tambah yang lebih besar, dan memperkokoh ketahanan ekonomi nasional menghadapi dinamika global.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani optimistis target investasi Indonesia senilai Rp13 ribu triliun dapat dicapai dalam waktu lima tahun.

“Kalau saya melihatnya, kita optimis, ya, itu bisa kita capai. Karena tadi kalau kita lihat memang salah satu kontributor yang bisa mendorong ke atas itu adalah investasi,” kata Rosan saat ditemui di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (26/11).

Adapun pemerintah menargetkan investasi senilai 869 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp13 ribu triliun dalam lima tahun ke depan, sebagai salah satu upaya mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029.

Rosan memberikan perbandingan dengan periode pemerintahan sebelumnya dengan total investasi yang didapatkan dalam 10 tahun masa Pemerintahan Joko Widodo senilai Rp9.117,4 triliun.

“Kita meyakini angka ini achievable. Tentunya masih ada PR (pekerjaan rumah) yang harus dilakukan, terutama saat orang berinvestasi, they don’t like surprises, maunya terukur dan terstruktur,” ujar Rosan.

“Nah memang PR-nya saya bilang masih ada, yaitu rule of law-nya mesti kita sempurnakan, kemudian clarity-nya juga kita harus sempurnakan,” katanya pula.

Selain kepastian hukum yang jelas, Rosan menilai hilirisasi juga menjadi bidang investasi yang perlu didorong, karena mampu memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia mencontohkan, salah satunya adalah investasi proyek hilirisasi kelapa dari China yang sudah masuk ke Indonesia senilai 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,65 triliun.

“Memang dari investasinya jika dibandingkan mineral memang jauh (lebih kecil), di perkebunan ini mungkin relatif lebih kecil. Tapi penyerapan kerjanya bisa sampai 10.000 orang. Itu kan sangat besar,” kata dia lagi.

Selain itu, Rosan yang juga CEO Danantara tersebut, mengatakan hilirisasi komoditas perkebunan, pertanian, dan kelautan penting demi menciptakan nilai tambah atau nilai tukar bagi petani atau pun nelayan di berbagai daerah penghasil komoditas tersebut, serta mendorong penyerapan tenaga kerja.

“Kalau kita bicara mengenai tropical seaweed, Indonesia nomor satu, dan sebagian ini adalah dilakukan oleh para petani rumput laut di Indonesia. Ini juga kita dorong dan sekarang sudah berjalan dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan,” ujar Rosan pula.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.