Suku Bunga Masih Tinggi, Pertumbuhan Kredit Sedikit Melambat

Jumat, 21 Nov 2025, 01:05 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan pada Oktober 2025 sedikit melambat yakni tumbuh 7,36 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 7,70 persen secara yoy. Hal itu disebabkan oleh permintaan kredit yang belum kuat karena pelaku usaha masih menahan ekspansi, mengoptimalkan pembiayaan internal karena menghadapi suku bunga kredit yang tinggi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers saat menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI periode November 2025, di Jakarta, Rabu (20/11) mengatakan bank sentral juga mencatat fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada Oktober 2025 masih cukup besar, yaitu mencapai 2.450,7 triliun rupiah atau 22,97 persen dari plafon kredit yang tersedia.

Ket. Foto: Gubernur BI, Perry Warjiyo — Sumber: istimewa

Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tercatat memadai ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,47 persen dan DPK yang tumbuh sebesar 11,48 persen (yoy) pada Oktober 2025.

Perkembangan tersebut didorong ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana Pemerintah pada beberapa bank besar, serta kebijakan pelonggaran likuiditas dan insentif kebijakan makroprudensial BI.

Perry mengatakan, minat penyaluran kredit perbankan pada umumnya juga cukup baik yang tercermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar.

Namun demikian, lending requirement segmen kredit konsumsi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) masih meningkat seiring dengan sikap kehati-hatian bank sejalan dengan tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.

Kondisi itu mempengaruhi pertumbuhan kredit UMKM Oktober 2025 yang turun menjadi sebesar -0,11 persen (yoy).

Untuk keseluruhan, BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8-11 persen dan akan meningkat pada 2026.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan serta memperbaiki struktur suku bunga,” kata Perry.

NPL Kredit UMKM Naik

Dari sisi ketahanan, BI mencatat bahwa permodalan perbankan terjaga pada level tinggi, likuiditas tetap memadai, dan risiko kredit rendah.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada September 2025 meningkat menjadi sebesar 26,15 persen sehingga semakin mampu menyerap risiko.

Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) terjaga rendah sebesar 2,24 persen (bruto) dan 0,87 persen (neto) pada September 2025. Namun secara khusus pada UMKM, NPL (bruto) cenderung meningkat dari 4,46 persen pada September 2025 menjadi 4,51 persen pada Oktober 2025.

“Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat, ditopang oleh kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga,” kata Perry.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, saat ini pasar kredit mengalami kelebihan penawaran. Penempatan dana pemerintah dan kebijakan likuiditas makro prudensial semakin berpotensi meningkatkan penawaran kredit.

Di sisi permintaan, perusahaan masih menahan untuk ekspansi yang terlihat dari undisbursed loan (kredit yang sudah disetujui, tetapi belum dicairkan/ditarik) yang cukup tinggi.

“Selain itu suku bunga kredit masih tinggi, sehingga perusahaan enggan untuk meningkatkan permintaan kredit,” kata Suhartoko.

Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan, pengusaha menahan ekspansi bisnis menyebabkan kredit perbankan menurun biasanya karena alasan strategis dan kontekstual, terutama ketidakpastian ekonomi.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.